Renungan Masnawi: Menjadi Pohon Cemara Cantik? atau Kurma yang Kurang Cantik tapi Berbuah?

buku masnawi jalaluddin rumi

Jalaluddin Rumi

Tiang yang tadinya dijadikan sandaran oleh Nabi mengeluh: “Jiwaku merintih, karena terpisah darimu, wahai Rasul Allah. Dulu, aku menjadi sandaranmu. Sekarang, dinding di atas mimbar yang engkau jadikan sandaran.”

Nabi bertanya, “Inginkah engkau menjadi Pohon Kurma, sehingga orang dari barat dan timur mendatangi kamu untuk memperoleh buah? Atau, inginkah engkau menjadi Pohon Cemara yang hampir abadi, tegar dan selalu segar?”

Tiang itu menjawab, “Yang kuinginkan adalah Keabadian Hidup.”

Mendengar permintaan Tiang, Nabi Muhammad menguburkan dia, sebagaimana lazimnya jasad manusia dikuburkan, sehingga pada saat kebangkitan, dia bisa bangkit bersama manusia.

buku masnawi 1 langit biru

Cover Buku Masnawi Satu

Biasanya, manusia memang memilih salah satu dari dua: Menjadi Pohon Kurma yang tampak kurang cantik, tetapi berbuah. Atau, menjadi Pohon Cemara yang cantik tetapi tidak berbuah.

Orang yang melakukan banyak amal saleh ibarat Pohon Kurma yang berbuah. Jangan memperhatikan penampilannya. Perhatikan perbuatannya, perilakunya. Kendati tumbuh besar di tengah padang pasir, dia masih saja berbuah. Dia menjadi berkah bagi lingkungannya. Jangan lupa juga, Pohon Kurma tidak pernah membedakan antara  barat dan timur. Pohon Kurma tidak pernah membedakan antara Muslim dan Non Muslim. Buahnya untuk siapa saja, untuk anda dan untuk saya, untuk kita semua, untuk dia yang merasa dirinya mewarisi Langit. Juga untuk dia yang sepenuhnya memijakkan kaki di atas bumi.

Ketika beramal saleh, jika anda membedakan antara Kristen dan Buddhis, Hindu dan Muslim, anda belum menjadi Pohon Kurma. Kesadaran anda lebih rendah daripada Pohon Kurma.

Pohon Cemara mewakili mereka yang berpenampilan serba “wah”, tetapi mandul. Tidak berbuah. Tidak menjadi berkah bagi lingkungannya. Dia hanya memperkaya diri. Dia hanya mempercantik diri.

Nabi Muhammad menanyakan kepada Tiang, “Apa maumu—kau ingin menjadi apa?”

Perhatikan jawaban Tiang. Tiang yang kita anggap “benda mati”, tiang yang kita anggap “tidak bernyawa” ternyata lebih hidup daripada kita. Lebih sadar daripada anda dan saya. Minta apa dia?

“Keabadian Hidup—itu yang kuinginkan” jawab Tiang. Sungguh luar biasa. Tidak mau jadi Pohon Kurma, tidak mau jadi Pohon Cemara. “Cukup sudah peranku di atas panggung sandiwara ini. Sekarang beri aku sesuatu yang lebih bermakna, lebih berharga. Bebaskan aku dari permainan ini. Beri aka Keabadian Hidup. Persatukan diriku dengan Kehidupan itu sendiri.”

Mau apa lagi? Tiang yang sudah pernah menjadi “sandaran” bagi seorang nabi masih harus minta apa lagi? Dia sudah puas dengan perannya. Dia menyadari betul bahwa dirinya tidak bisa memperoleh peran yang lebih penting lagi.

Dan, dia tidak tergiur oleh tawaran Nabi Muhammad. Dalam kisah ini, Nabi Muhammad berperan sehagai Murshid, seorang  Master; sebagai Guru. Dia ingin menguji kesiapan diri calon murid. Ternyata, si murid siap betul. Muhammad bagaikan Lautan Luas. Dalam kandungannya, ada mutiara dan permata yang tak terhingga nilainya. Jika anda herhadapan dengan seorang  Muhammad dan masih meminta seekor ikan, dua ekor—anda sungguh bodoh!

Selama berabad-abad, yang kita “ambil” dari Lautan Muhammad hanyalah ikan, udang, kepiting dan cumi-cumi. Mengenyangkan, ya. Tetapi, untuk itu anda tidak membutuhkan seorang Muhammad. Cukup  membelinya di pasar di supermarket. Sayang  sekali, selama ini kita hanya memperhatikan “permukaan” ajaran Sang Nabi. Alhasil yang kita peroleh sebatas ikan dan udang. Kita belum pernah menyelami jiwa Sang Nabi, dan belum pernah menemukan mutiara dan manikam.

 

Kembali pada kisah kita…

Setelah mendengarkan permintaan Tiang, Muhammad menguburkan dia. Ini yang disebut “inisiasi”. Seorang Murshid akan menguburkan “ego” sang murid. Tidak ada jalan lain. Ego harus dikuburkan dan penguburannya dibantu oleh orang yang egonya sudah terkuburkan.

Renungkan makna kisah ini…

Nabi tidak membedakan antara “manusia”—yang menganggap dirinya hebat, paling  tinggi dan ciptaan Allah yang paling sempurna—dan “tiang” yang dianggap oleh manusia sebagai benda mati, tidak bernyawa. Nabi tidak membedakan antara “manusia” yang mengaku dirinya beragama dan “tiang” yang entah beragama atau tidak. Yang beliau perhatikan adalah “kesadaran”. Dan “kesadaran” tiang yang pernah beliau jadikan sandaran, jauh lebih tinggi daripada kesadaran kita yang sibuk membahas anjuran dan ajarannya.

Tiang yang tidak bernyawa dan kita anggap mati hanya bersentuhan dengan Nabi. Dan terjadilah peningkatan kesadaran dalam dirinya. Rasanya, kita belum pernah bersentuhan dengan Nabi. Rasanya, kita belum pernah menjamah jubahnya. Rasanya, kita tidak pernah menyelami jiwanya. Karena itu, Rumi menasihati kita:

Belajarlah dari kisah tiang ini. Jangan-jangan kesadaranmu lebih rendah daripada kesadaran tiang yang terbuat dari kayu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s