Renungan Hanuman: “Bahkan Tubuh ini Tidak Berguna Jika Sudah Tidak Beraromakan Sri Rama!”

buku the hanuman factor

Cover Buku The Hanuman Factor

“Tumhare Bhajna Raama ko Paavai, Janama Janama ke Dukha Bisaraavai.” Hanuman Chalisa ayat 33, terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tumhare—Milikmu; Bhajana—Lagu puji-pujian; Raama ko—kepada Rama; Paavai—Mencapai/Memperoleh; Janama Janama ke—Dari Banyak Kehidupan; Dukha—Penderitaan; Bisaraavai—Terlupakan/Tertinggal dibelakang/Terbebaskan

Dengan menembangkan keagunganmu, seseorang dapat sampai kepada Rama, dan terbebas dari penderitaan dari banyak masa kehidupan.

 

Sinar matahari tidak sama dengan matahari.

Tetapi, ketika Anda memiliki sinar matahari, maka Anda memiliki matahari itu sendiri. Ombak bukanlah samudera, namun ketika Anda berada di tengah-tengah ombak, sesungguhnya Anda sudah berada di dalam samudera.

Anda mungkin melihat Hanuman dengan Sri Rama sebagai dua entitas yang terpisah. Yang satu seekor kera, yang satu manusia. Yang satu panembah, yang satunya objek panembahan. Yang satu sinar matahari, satu lagi adalah sang matahari itu sendiri. Yang satu ombak, yang lain samudera.

Sekarang, cobalah lihat dari sudut pandang yang lain. Dapatkah Anda memisahkan ombak dari samudera, atau sinar matahari dari matahari? Tidak mungkin. Keduanya tak terpisahkan adanya.

Jika Anda penganut paham Darwin dan setuju dengan teori evolusi, maka Anda mungkin dapat melihat kera di dalam diri Anda sendiri, dan melihat manusia di dalam seekor kera. Ada Rama di dalam diri Hanuman, dan ada Hanuman di dalam diri Rama.

12243258_10207862078860169_6886491814400783376_n

12250049_10208124057850282_1951020100488945784_n

Hanuman di Anand Krishna Center Joglosemar foto-foto temen-teman Joglosemar

Kalung Sita

Ada sebuah legenda yang indah tentang kepulangan Sri Rama ke Ayodhya. Semua penduduk negeri bersuka cita. Mereka menyalakan lentera-lentera serta mendekorasi rumah-rumah mereka, pasar-pasar serta jalan-jalan mereka.

Rama dan Sita pun menyebarkan berbagai bingkisan kepada para rakyat, dan Hanuman berdiri di samping memberi pengawalan. Ketika sampai pada giliran untuk memberi bingkisan kepada Hanuman, maka Sita pun melepaskan kalungnya yang beruntaikan permata, berlian dan batu mulia lainnya dan menghadiahkannya kepada Hanuman.

Hanuman, disebutkan, langsung menggigit setiap permata, berlian dan batu-batu mulia yang  menguntai membentuk kalung tersebut. Laksmana, adik Rama, merasa sangat terganggu dengan apa yang dilihatnya tersebut. Ia pun berbisik kepada Hanuman, “Hanuman, apa yang kamu lakukan? Itu namanya kamu tidak menghargai hadiah yang telah diberikan kepadamu. Tidakkah kau tahu bahwa hadiah tersebut begitu berharga dan begitu istimewa? Itu adalah kalung kesukaan ibu Sita.

Hanuman menjawab, “Tuan, maafkan hamba jika hamba telah berbuat kurang ajar. Memang hamba ini hanya seekor kera dan tidak tahu tentang sopan santun manusia. Hamba hanya sedang mencoba merasakan dan membaui aroma Sri Rama di dalam permata, berlian serta batu-batu mulia ini.”

Laksmana pun tertawa terkekeh-kekeh, “Tapi, itu kan…”

Sejurus kemudian, Sri Rama pun menyela percakapan mereka berdua, “Laksmana, Hanuman; tidak tepat saatnya jika kalian bercakap dengan cara berbisik seperti itu. Bagilah percakapan kalian di sini.

Laksmana pun menjelaskan percakapan yang terjadi antara Hanuman dengan dirinya. Sri Rama pun melihat kepada Hanuman dan berkata, “Jadi, apakah engkau menemukan yang kamu cari? Apakah kamu bisa merasakan aroma dari Sri Rama-mu?

Hanuman pun menjawab dengan kedua tangannya terlipat di depan dada memberi penghormatan, “Gusti, maafkan kera yang hina dina ini. Mungkin, panca-indera hamba sudah tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Mereka mungkin telah melemah.

“Ya,” Rama ingin Hanuman agar lebih jelas dalam jawabannya, “jadi kamu dapat mencium aroma Gusti-mu itu atau tidak di dalam batu-batu mulia tersebut?

Maka Hanuman pun terpaksa menjawab, “Maafkan hamba, Gusti, tetapi tidak. Hamba tidak dapat mencium aromaMu.”

12278897_10207285115560488_5981844025419935286_n

12294799_10207271824065111_7699191456885851132_n

Hanuman di Anand Krishna Center Joglosemar, foto-foto temen-teman Joglosemar

Kemarahan Laksmana

Mendengar kata-kata Hanuman tersebut, Laksmana pun langsung naik pitam, “Hanuman, kamu telah melanggar batas-batas sopan santun. Kamu sangat sombong. Yang kamu pegang itu adalah batu. Walaupun itu adalah batu-batu mulia, batu tetaplah batu. Bagaimana kamu dapat mencium dan merasakan aroma Gusti kita di dalam batu-batu tersebut?”

“Iya, Tuan. Hamba juga berpendapat demikian. Batu adalah batu, dan hamba tidak akan menggunakan batu yang tidak beraromakan Gusti,” jawab Hanuman.

Wajah Laksmana pun berubah menjadi merah karena kemarahan, “Ya, ya, ya, batu tetaplah batu. Dan kera tetaplah kera. Bagaimana kamu tahu nilai batu tersebut? Apakah kamu hendak mengatakan bahwa kalung yang telah diberikan oleh Ibu Sita kepadamu dengan penuh cinta itu tidak ada gunanya buat kamu?”

“Bahkan tubuh ini, tuanku, tidak berguna jika ia sudah tidak beraromakan Gusti,”jawaban Hanuman tersebut membuat Laksmana begitu marah yang membuat dia hampir langsung membunuh Hanuman saat itu juga.

“Hanuman,” Laksmana setengah berteriak, “kamu telah membuktikan ketidaklayakanmu dan kesombonganmu. Tubuhmu yang hina itu tidak akan pernah bisa memiliki aroma Sri Rama. Gusti kita telah berbuat baik kepadamu selama ini. Namun, kebaikan itu bukan berarti memberikanmu hak untuk menempatkanmu sejajar dengannya.

Hanuman pun memohon ampun kepada Laksmana, “Memang hamba ini adalah makhluk yang hina dina, tuanku. Ampunilah kekurang-ajaran hamba. Hamba ini adalah butiran debu di kakimu, tuanku.”

Rama pun menyela, “Tidak, tidak, tidak, Hanuman. Aku tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tunjukkanlah kepada Laksmana bahwa tubuhmu memang benar-benar beraromakan Gustimu. Hanuman, ini perintah!”

Maka Hanuman pun, dikatakan, menyobek dadanya sendiri. Di sana, tepat di tengah-tengah dada Hanuman, terdapat dengan jelas gambar Sri Rama. Dan aroma kasturi kesukaan Rama pun tersebar ke segala penjuru. Laksmana pun menundukkan kepalanya karena malu.

 

Tumhare Bhajana Raama ko Paavai, Janama Janama ke Dukha Bisaraavai

Dengan menembangkan keagunganmu, seseorang dapat sampai kepada Rama, dan terbebas dari penderitaan dari banyak masa kehidupan.

 

Tembangkanlah keagungan Gusti!

Terlepas apakah Anda menembangkan keagungan Rama atau keagungan Hanuman, sama saja, tidak masalah. Karena Rama bersemayam di hati Hanuman, kekasih, panembah, sekaligus muridnya.

Apakah Anda menyanyikan lagu tentang keagungan Yesus atau Bapa di Surga, keduanya satu dan sama. Mereka yang melihat Yesus terpisah dari Bapa di Surga belum pernah benar-benar melihat Yesus. Penglihatan mereka tidak mampu menembus tubuh manusiawi Yesus. Penglihatan mereka tidak mampu melampaui tubuh fisik Yesus. Pandangan hidup mereka sangat materialis. Mereka belum diberkati dengan kemampuan untuk melihat yang ilahi. Dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain, kita telah menderita penyakit penglihatan seperti itu. Kita hidup di dunia materi, maka hanya materi saja yang dapat kita lihat. Kita harus meningkatkan kesadaran kita sehingga kita mulai dapat melihat dan merasakan energi di balik materi.

 

Materi dan Energi tak terpisahkan adanya

Adalah kesadaran kita sendiri yang menciptakan ilusi keterpisahan tersebut. Kesadaran pada tingkat terendah akan melihat energi sebagai materi. Pada tingkatan yang lebih tinggi, materi yang sama akan terlihat sebagai energi. Dan pada tingkatan yang paling tinggi, baik materi maupun energi lenyap, hanya sendiri saja yang tersisa. itu adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi.

Menyanyilah, dan isilah hidup Anda dengan lagu. Bawalah musik ke dalam hidupmu. Raihlah Rama, yang tidak lain adalah diri sejatimu, dan bebaslah dari segala penderitaan dan duka cita dari masa lalu.

Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s