Renungan Diri: Tafsir Berbeda dari Satu “Kitab Sama” berdasar Tabiat Penafsir, Perbedaan Agastya, Bhardwaja dan Vasishta

buku shalala

Cover Buku Shalala

Sejarah mencatat tiga nama besar yang “lebih dulu” mencapai kesadaran tersebut: Vasishtha, Bhardwaja, dan Agastya. Tiga orang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula. Tidak aneh, bila reaksi mereka terhadap “kesadaran” yang mereka capai berbcda pula.

Vasishtha menjadi pcndiam. “Bila ‘Dia’ berada di mana-mana. Di dalam diriku dan dirimu dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan, maka apa lagi yang harus dilakukan? Semua ini permainan belaka. Dan ‘Dia’ sedang menikmatinya lewat aku, lewat kamu, lewat bumi, dan lewat langit. Lewat bukit dan lewat lembah. Ahhhhhhh!”—Vasishtha membisu. Mau bicara apa lagi?

Bhardwaja menjadi sangat dinamis. “Bila ‘Dia‘ berada di mana-mana. Di dalam diriku dan dirimu, dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan, kenapa hanya aku yang melihat-Nya? Kenapa hanya aku yang menyadari kehadiran-Nya? Kenapa kamu tidak? Kenapa masih ada orang yang belum?” Bhardwaja mulai mencari tahu sebab. Ternyata banyak orang yang masih tidur. Mereka belum terjaga, sehingga tidak bisa melihat terbitnya matahari pagi. Dan dia berupaya keras untuk membangunkan mereka.

Agastya menjadi angkuh. “’Dia’ berada di mana-mana. Di dalam diriku, dirimu, dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan. Mereka yang tidak menyadari hal ini, sungguh tidak sadar. Dan ketidaksadaran mereka bagaikan penyakit menular. Hindari mereka.” Demikian pendapat Agastya.

Sejarah juga mencatat nama lain, seorang perempuan, Lopamudra. Dia adalah putri Bhardwaja. Reaksinya tidak jauh berbeda dari reaksi ayahnya. Lopamudra menjadi penerus Bhardwaja, bukan karena dia putri Bhardwaja, tetapi karena dia pun seorang resi. Dia “melihat” apa yang pernah dilihat oleh ayahnya. Dia “mendengar” apa yang pernah didengar oleh ayahnya. Dialah resi muda dalam catatan sejarah. Masih berusia duapuluhan dan sudah mcncapai kesadaran setinggi itu!

Tidak ada yang mempersoalkan, “Apa seorang perempuan bisa menjadi resi?” Tidak ada peraturan yang melarang seorang perempuan untuk menduduki “jabatan” setinggi itu. Ya, lebih tinggi dari pemimpin negara. Para raja, maharaja, penguasa dan petinggi semua menghormati Lopamudra.

Tiga Resi Utama ini mempengaruhi pola pikir para petinggi di zaman itu. Yang terpengaruh oleh Vasishtha, menjadi sangat peace-loving, pecinta kedamaian, kasih, dan selalu menghindari pertengkaran.

Suku kedua berada di bawah pcngaruh Bhardwaja, dan menjadi dinamis. Lewat wejangan, ceramah, dan kegiatan sosial, mereka berupaya meningkatkan kesadaran warga.

Yang terakhir adalah suku Bharata. Dengan jumlah warga terbanyak, wilayah kekuasaan mereka pun terluas. Pengaruh Agastya terhadap suku itu terasa sekali. Mereka menjadi agak angkuh, arogan. Bagi mereka, warga non-Arya adalah warga Dasyu. Warga kelas dua. “Mereka yang tidak sadar” atau ”Budak hawa nafsu”—itulah makna ”dasyu”.

Agastya memberi peraturan-peraturan jelas, di mana dia melarang kaum Arya untuk ”berhubungan dengan Dasyu. Bahkan dia membenarkan “penguasaan” terhadap wilayah mereka. Dasyu mewakili “ketidaksadaran” dan boleh diperangi, boleh dibabat habis. Atas nama “kesadaran”, Agastya melakukan ethnic cleansing. Dia berupaya untuk memusnahkan warga kelas dua tersebut. Dia menganggap mereka sebagai alang-alang yang bisa menghalangi pertumbuhan kaum Arya.

ltulah sebab perseteruan antara Bharata dan Dasyu. Pertemuan antara mereka hanya terjadi di medan perang. Kadang para Bharata menang. Kadang para Dasyu unggul.

Pada suatu ketika, pemimpin para Bharata tewas di medan perang. Saat itu, putra mahkota, Vishwaratha masih meraih pendidikan di padepokan Agastya, dan tinggal di sana.

Agastya merasa tidak perlu langsung mengangkat Vishwaratha sebagai raja. Para petinggi Bharata bisa membentuk pcmerintahan care-taker. Pemerintahan sementara untuk mengurusi negara dan urusan-urusan kencgaraan. Mereka sangat setia terhadap keluarga raja. Kesetiaan mereka sudah teruji berulang kali. Agasrya tidak menyangsikan hal ini.

Yang disangsikan Sang Resi, justru kemampuan Vishwaratha. Dia dianggapnya sangat lembut. Bukan pengecut, tetapi lembut. Agastya tidak ingin kehilangan kesempatan. ”Kematian sang ayah,” pikir dia, “bisa mengeraskan hati Vishwaratha. Dia harus balas dendam atas kematian itu. Para dasyus harus lenyap dari Arya Vrata—Bumi para Arya.

Sementara itu, para Dasyus di bawah pimpinan Raja Shambara sama-sama tidak ingin kehilangan kesempatan. Mereka mulai menyusun strategi untuk menculik Vishwararha. Dan mereka berhasil……

Pukulan berat bagi Agastya. Putra Mahkota Vishwaratha diculik dari padepokannya. Agastya tidak bisa menelan pil pahit kenyataan itu. Dia mengumpulkan suku-suku utama kaum Arya.

“Kali ini bukan sekadar pertempuran, tetapi perang. Perang yang menentukan. Shambara harus diberi pelajaran. Selama ini kalian tidak pernah sepenuh hati mendukung upaya para Bharata. Sekarang, tiba saat untuk bersatu. Tegakah kalian melihat Vishwaratha dalam tahanan para Dasyu? Vishwaratha adalah darah daging kalian. Dia seorang Arya. Dan masih begitu muda. Dia anak kalian, keponakan, dan cucu kalian.”

Dengan berapi-api Agastya meneruskan,

“Shambara telah melanggar Rita—Hukum Abadi yang kita junjung tinggi. Dia menculik Vishwaratha yang tidak bersenjata dan masih meraih pendidikan. Bersatulah kaum Arya, demi negara, bangsa dan Rita. Mereka yang melindungi Rita akan dilindungi pula oleh Rita.”

Rita adalah Hukum Abadi yang dijunjung tinggi oleh setiap Arya. Dan sesungguhnya Rita sangat mudah untuk dilakoni. Rita mengajarkan kebenaran, kebajikan, kasih sayang, kedamaian, dan sebagainya, dan seterusnya. Hanya saja, penjabaran Rita sangat tergantung pada mereka yang menafsirkannya.

Untuk mencapai kedamaian misalnya, seorang Agastya akan membenarkan perang. Bhardwaja dan Vasishtha tidak. Untuk menegakkan apa yang dianggapnya kebenaran, Agastya akan membenarkan kekerasan. Vasishtha dan Bhardwaja tidak akan menerima kebenaran yang perlu bersandar pada kekerasan. Bagi mercka berdua, kebenaran seperti itu sudah bukan kebenaran lagi.

Vasishtha dan Bhardwaja sadar betul bahwa Rita bisa ditafsirkan sesuai dengan tabiat si penafsir. Setiap penafsir memproyeksikan pikirannya, sifatya. Itulah sebabnya mereka bisa menerima beda pendapat. Bisa menerima perbedaan.

Agastya tidak bisa menerima perbedaan. Baginya, segala sesuatu harus seragam. Kebenaran itu satu, dan jalan mencapainya juga harus satu. Dia tidak bisa melihat sisi-sisi lain kebenaran. Dia menolak setiap sisi, kecuali satu sisi yang dilihatnya. Baginya, itulah Kebenaran satu-satunya. Memang betul, itu “pun” kebenaran. Tetapi hanya “satu” sisi, bukan satu-satunya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). Dalam buku tersebut dikisahkan perubahan sikap Resi Agastya setelah terjadi tragedi yang mengharukan dan munculnya Doa Gayatri. Resi Agastya dikenal di Nusantara sebagai Semar? Silakan baca buku menarik tersebut.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Diri: Tafsir Berbeda dari Satu “Kitab Sama” berdasar Tabiat Penafsir, Perbedaan Agastya, Bhardwaja dan Vasishta

  1. oh ada juga ya di buku shalala. saya membacanya di buku Cinta yang mencerahkan, Gayatri Sadhana Laku spiritual bagi orang modern. disana diuraikan tentang adal usul gayatri berdasarkan penelitian dari K.M. Munshi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s