Renungan #Yoga Patanjali: Samadhi dan Akhir Duka Tidak Instan! Tolok Ukurnya, Makin Cerah, Makin Berkurang Derita

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

 

“Semua ini—seluruh Disiplin, Laku, atau Kriya Yoga sebagaimana dijelaskan dalam sutra sebelumnya) bertujuan, dimaksudkan untuk mengembangkan Samadhi Bhavana, Keseimbangan, atau Pencerahan; dan (secara berangsur, bertahap) mengakhiri segala klesa atau duka-derita, penderitaan.” Yoga Sutra Patanjali II.2 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Inilah tujuan ber-Kriya, ber-Yoga, melakoni Yoga. Inilah hasil dari Hidup secara Teratur, Hidup dalam Yoga. lnilah maksud dan tujuan Disiplin Diri.

SAMADHI BHAVANA. Jadi, bukan semadi di gua, di puncak gunung, atau di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Tidak. Itu bukan Samadhi. Semadi adalah suatu kata yang sudah menjadi “korup”—yang sudah telanjur disalahgunakan, dipakai untuk menjelaskan laku seorang praktisi ilmu-ilmu klenik, dengan tujuan ngelmu. Tidak ada yang salah, jika itu tujuan Anda. Silakan lanjutkan upaya untuk ngelmu—asal sadar bila itu bukan Yoga. Itu bukan samadhi. Itu tidak akan, tidak pemah bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan sejati, pada kesejatian diri.

Samadhi Bhavana adalah “Bertumbuhnya, Berkembangnya, Bermanifestasinya, Terungkapnya Keseimbangan Diri atau Pencerahan”. Perhatikan kejujuran Patanjali, hargai kejujurannya. Jangan terjebak dengan janji-janji palsu mereka yang “menawarkan” pencerahan. Pencerahan, Keseimbangan Diri, Samadhi bukanlah komoditas yang dapat diperjualbelikan. Ia adalah “suatu keadaan”. Seseorang boleh berjualan ranjang dengan kasur terempuk dengan janji “Tidur Anda Pasti Enak”. Bagaimana bisa tidur—boro-boro enak—jika kita berada dalam keadaan “tidak tenang”?

Ranjang dengan kasur terempuk atau ter- apa saja bisa “menambah” kenyamanan tidur. Tapi, tidak bisa “membuat” kita tidur. Sudah jelas, supaya bisa tidur pulas, kita mesti dalam keadaan tenang.

DAN KEADAAN TENANG ITU—Samadhi, Keseimbangan-Diri atau Pencerahan itu—menurut Patanjali sudah ada di dalam diri kita. Setidaknya dalam bentuk benih, bibit-bibit. Tinggal dikembangkan.

Inilah Tujuan Yoga, Tujuan Laku Yoga, Tujuan Kriya Yoga: “Menumbuhkembangkan Samadhi, mengungkapkan apa yang selama ini belum terungkap.”

Untuk itu pun, lagi-lagi Patanjali amat sangat jujur, “Tidak ada sesuatu yang instan—persis seperti proses penunasan tanaman—Samadhi pun butuh proses.” Kemudian, proses pertumbuhan itu dikaitkannya dengan:

BERAKHIRNYA SEGALA KLESA ATAU DUKA—DERITA SECARA BERTAHAP, secara berangsur. Hal ini mesti dipahami secara tepat, sekaligus digunakan sebagai sebagai checkpoint, sebagai tolok ukur untuk menguji, mengukur pencerahan-diri, keseimbangan-diri kita masing-masing.

Bertumbuhkembangnya Samadhi, Keseimbangan-Diri atau Pencerahan; dan berakhirnya, melenyapnya Duka-Derita atau Klesa adalah dua proses yang berjalan secara bersamaan, seirama, selaras, saling menunjang.

Maksud Patanjali sangat jelas. Bukan Samadhi dulu, kemudian Klesa berakhir. Tidak. Bukan pula sebaliknya. Keduanya berjalan secara bersama. Ketika Samadhi, Keseimbangan-Diri, dan Pencerahan mulai berkembang, mulai terungkap, maka secara berangsur, bertahap, secara proporsional dan mengikuti lambat atau cepatnya perkembangan samadhi, duka-derita atau klesa pun berkurang.

DaIam kata lain, kedua hal ini adalah proses yang saling terkait. Makin seimbang, makin sadar, makin cerah, makin berkurang pula segala duka-derita. Dalam hal ini, kita juga perlu ingat bahwasanya:

 

KLESA ATAU DUKA-DERITA BUKANLAH BENDA, BUKAN PULA KEADAAN DI LUAR DIRI, tapi Pengalaman-Diri. Klesa atau Duka-Derita ADALAH “sesuatu yang kita alami”. Jadi, amat sangat subjektif, personal.

Kadang kita “merasa” panas, kegerahan—pengalaman kegerahan ini adalah sangat riil bagi kita. Tapi sebaliknya, di dalam ruangan yang sama, ada juga seseorang yang memakai baju hangat. Ia tidak kegerahan, malah kedinginan. Suhu di luar (suhu di ruang) sama, keadaan sama. Ia kedinginan, kita—Anda dan saya—kepanasan,kegerahan.

Berarti apa?

Klesa atau Duka-Derita disebabkan oleh “keadaan-diri kita masing-masing, “pengalaman-diri” kita masing-masing. Bukan karena keadaan di luar diri.

Dengan pemahaman ini, mari kita membaca ulang Sutra Patanjali.

“DENGAN BERKEMBANGNYA SAMADHI, berakhirlah klesa secara berangsur, bertahap—mengikuti laju perkembangan samadhi.

Jika laju perkembangan Samadhi amat sangat pelan, berakhirnya klesa atau duka-derita pun pelan, slow. Jika perkembangan Samadhi pesat, berakhirnya duka-derita pun pesat.

How to regulate this?

Bagaimana mengatur kecepatan keduanya? Mudah. Kembali pada Sutra sebelumnya. Intenskan Laku tersebut—Kriya Yoga tersebut. Makin intens, makin cepat pula pengungkapan pencerahan diri dan makin berkurang pengalaman duka-derita.

Keadaan di luar boleh tetap nano-nano. Namun dengan berkurangnya duka-derita secara berangsur, bertahap, berarti Anda tidak terpengaruh oleh segala ke-nano-nano-an itu. “Di luar panas, dingin, hujan, badai, apa saja, Anda tetap dalam keadaan keseimbangan diri.” Atau, jangan terjebak dalam pemahaman keliru, “Di luar suhu boleh di bawah 0, aku tak terpengaruh. Tidak perlu baju hangat.” Kalau memang tidak perlu, ya oke. Tapi jika memang perlu, jangan sok-seimbang, jangan sok-samadhi. Maksudnya, Anda tidak menggerutu, tidak beraduh-aduh, “Mati aku, mampus aku, dingin banget.” Anda tidak menyumpahi dan menyerapahi diri karena kedinginan. Pun, tidak menyumpahi, menyerapahi keadaan di luar.

“TAHAN DINGIN DAN TAHAN PANAS” berarti kita menerima keduanya tanpa beraduh-aduh. Tidak berarti kita menolak baju hangat jika “badan” tetap membutuhkannya. Bukan itu yang dimaksud Patanjali.

Lagi-lagi, Samadhi atau Pencerahan, keseimbangan-Diri dan berakhirnya klesa atau duka-derita, berarti kita tidak terombang-ambing oleh keadaan di luar diri yang sudah pasti berubah-ubah terus.

So, let us examine ourselves—mari menguji, mengetes diri kita masing-masing: “Sudah mulai berkembangkah samadhi di dalam diriku? Sudahkah aku mulai tak terpengaruh oleh segala perubahan yang terjadi di luar diri? Bisakah aku menjaga keseimbangan diriku dalam keadaan suka dan duka?”

Peringatan: Samadhi atau Keseimbangan Diri atau Pencerahan tidak berarti “membiarkan terjadinya kejahatan, kebatilan, ketidakadilan, dan sebagainya”. Sikap yang demikian, sikap yang tak terpuji seperti itu bukanlah hasil samadhi. Sikap konyol seperti itu disebabkan oleh kemalasan, kecuekan, ketidakpedulian. Sikap seperti itu hanya membuktikan bahwa kita pengecut, tidak siap menghadapi hidup ini.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s