Renungan Isha Upanishad: Alam Semesta Diliputi Tuhan, Kesadaran ini harus Dipraktikkan dalam Keseharian

buku shambala

Cover Buku Shambala

  1. Keberadaan ini, alam semesta ini, diliputi oleh Tuhan. Oleh karenanya, lepaskan keterikatan dan rasa kepemilikan…… Isha Upanishad ayat 1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Dalam satu ayat ini, kamu bisa menemukan intisari ajaran setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar dan setiap buddha. Bahkan kalimat pertama saja sudah cukup. Kalimat berikutnya hanyalah penegasan. Just in case, jika seseorang tidak mernahaminya, maka dibutuhkan penjelasan.

“Keberadaan ini—alam semesta ini—diliputi oleh Tuhan….. perhatikan kata-kata yang digunakan. Tuhan tidak berada dalam dirimu, tetapi kamu berada dalam diri-Nya. Dan bukan hanya kamu, setiap orang, setiap hewan, setiap benda berada dalam Tuhan. Kita lahir dalam Tuhan, tumbuh besar dalam Tuhan dan mati pun dalam Tuhan. Kehidupan ini mengalir dalam Dia. Ticlak ada sesuatu di luar Dia.

“Dan pemahaman ini sangat revolusioner. Pertikaian antar-agama terjadi karena setiap agama merasa ‘memililki’ Tuhan secara eksklusif. Pembantaian atas nama agama terjadi, karena setiap pemeluk agama merasa adanya kebenaran dalam agamanya saja. Padahal Tuhan tidak ada dalam agama. Tuhan tidak ada dalam kitab suci. Tuhan tidak ada dalam diri para nabi dan mesias dan avatar dan buddha. Mereka semua berada dalam Diri-Nya! Istilah ‘Diri-Nya’ pun sesungguhnya tidak tepat. Tetapi, apa boleh buat? Tidak ada istilah lain untuk menjelaskan ayat ini.

“Jilka seorang Muslim melihat Kristen dalam Tuhan dan sebaliknya seorang Kristen melihat Islam dalam Tuhan, maka saat itu juga mereka akan berhenti saling menghujat. Jika seorang Muslim melihat gereja dalam Tuhan, maka ia tidak akan membakarnya. jika seorang Kristen melihat masjid dalam Tuhan, maka ia pun tidak akan rnerusaknya. Masalahnya, mereka masih melihat Tuhan dalam masjid dan Tuhan dalam gereja. Dan Tuhan dalam masjid tampak berbeda dari Tuhan dalam gereja.

“Tuhan bukanlah monopoli seorang nabi atau salah satu agama. Bahkan Ia juga bukan monopoli dunia kita ini. Betapa tololnya manusia yang berpikir bahwa dunia kita ini satu-satunya tempat di mana ada kehidupan. Betapa arogan, betapa angkuhnya dia yang menganggap dirinya berada pada puncak evolusi. Apa yang kita ketahui centang alam semesta? Para ahli fisika dan matematika mengatakan bahwa alam kita sedang berekspansi terus. Entah berapa dunia yang muncul dan lenyap dalam sekejap!

“Ia yang merasa dirinya berada dalam Tuhan, akan menjadi lembut. Ia tidak perlu memiliki sesuatu, Ia tidak perlu terikat pada sesuatu—toh, semuanya berada dalam Dia! Perlukah kamu memiliki bulan dan bintang dan matahari? Perlukah kamu memiliki angin dan laut? Tanpa dimiliki pun, kamu sudah bisa memanfaatkan rnereka.

 

Ayat berikutnya:

  1. Inilah jalan satu-satunya untuk menjalani hidup tanpa dibelenggui oleh Hukum Sebab dan Akibat.” Isha Upanishad ayat 1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ah, ini yang sedang kucari-cari!”—suara Joseph tidak dapat menyembunyikan rasa girangnya.

“Apa maksudmu, Joseph?” – tanya Anand Giri.

“Cara sederhana untuk melampaui Hukum Sebab-Akibat. Sebaik-baiknya perilaku kita, Hukum Sebab-Akibat akan tetap berjalan. Dan untuk menikmati hasil perbuatan, kita harus memasuki lingkaran kelahiran dan kematian lagi.”

“Joseph, banyak pekerjaan rumah yang sudah kau selesaikan. Karena itu, kamu bisa menyimpulkan demikian. Memang betul, untuk membebaskan diri dari Hukum Sebab-Akibat, maupun dari kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan hanya ada satu cara, yaitu melepaskan keterikatan pada hasil perbuatanmu.

“Berkaryalah, Tetapi jangan terikat pada basil karyamu. Joseph, hal ini memang sangat bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh para ahli manajemen. Mereka bicara tentang motivasi. Isha Upanishad bicara tentang pembebasan diri dari motivasi.

“Jika manusia pun membutuhkan motivasi, lalu apa bedanya dia dengan binatang? Binatang membutuhkan motivasi, hewan membutuhkan hukuman dam imbalan. Mereka membutuhkan pemicu. Manusia seharusnya sudah tidak membutuhkannya.

“Sampai kapan seorang majikan bisa mentolerir pembantu yang tidak memiliki inisiatif? Yang harus didorong terus, dipaksa terus untuk bekerja?

“Motivasi tidak manusiawi; motivasi masih hewani. Dan jika seorang manusia masih membutuhkan motivasi untuk bekerja, sesungguhnya ia masih berada pada kesadaran hewani. Dia masih belum cukup manusiawi!

“Berkaryalah Joseph—tanpa motivasi, tanpa keterikatan pada hasil akhir dan rasa kepemilikan. Berarti melampaui pikiran dan perasaan—thoughts and feelings. Berarti melampaui mind. Demikian kau akan terbebaskan dari Hukum Sebab-Akibat. Jangan lupa, semuanya ini sedang terjadi dalam Tuhan. Bedakan antara tindakan dan perbuatan. Tindakan adalah sesuatu yang terjadi secara spontan. Sebaliknya perbuatan merupakan hasil pikiran.

“Bertindak berarti kamu hanyalah seorang eksekutif. Tugasmu melakukan eksekusi terhadap apa yang sudah direncanakan oleh Allah. Bertindak berarti berserah diri sepenuhnya pada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Perintah yang diberikan kepada kamu. Bukan lewat seseorang atau sesuatu, tetapi yang diberikan langsung kepada kamu.”

Anand Giri berhenti sejenak. Sepertinya ia tahu bahwa Joseph akan bertanya.

“Tetapi Guru, bagaimana cara mengadakan kontak dengan Dia? Bagaimana mendapatkantuntunan-Nya setiap saat?”

“Kita harus kembali ke ayat pertama lagi—tidak ada sesuatu di luar Dia. Masalah kita apa? Kita masih belum yakin sepenuhnya. Dan ketidakyakinan ini disebabkan oleh pikiran. Mind yang bercabang, yang selalu memilah dan membedakan sungguh membingungkan kita.

“Satu-satunya jalan adalah melampaui mind, Joseph. Renungkan sejenak. Pejamkan matamu….

Joseph memahami maksud Sang Guru. Ia diberi kesempatan untuk merenungkan kesimpulannya yang kedelapan:

Sekarang aku baru tahu, baru yakin bahwa:

Kesadaran diri harus diterjemahkan dalam hidup sehari-hari:

Aku meyakini bahwa kesadaran diri mengantar kita pada tindakan tanpa perbuatan dan akhirnya pada pencerahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s