Renungan Diri: Kematian Potensi untuk Memilah disebabkan Kenyamanan yang Berlebihan?

buku youth challenge

Cover Buku Youth Challenge and Empowerment

“Seorang berusia 30 tahun, semestinya sudah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya; tentang kekurangan, dan kelebihannya; tentang apa yang dapat dicapainya, dan apa yang dapat menyebabkan kegagalannya. Di atas segalanya, ia dapat menerima dirinya, pun menerima apa yang telah dijelaskan di atas.” (ALBERT CAMUS, FRENCH AUTHOR/PHILOSOPHER, RECEPIENT OR 1957 NOBEL PRIZE FOR LITERATURE), dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Masa muda yang disia-siakan untuk mengejar hal-hal yang tidak penting—kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan yang tidak disertai oleh kebijakan diri—dan ditambah dengan tiadanya kemampuan untuk memilah akan mengarah pada kehancuran manusia.

Kemampuan untuk memilah adalah berkah khusus yang diberikan kepada manusia. inilah intelegensia manusia. Bila ia tidak menggunakannya, ia menyia-nyiakan pemberian yang sangat berharga itu.

Seorang pejabat merasa dirinya tidak mampu menegur pejabat lain yang telah menyalahgunakan kekuasaannya. Mengapa? Karena kesetiakawanan, solidaritas. Ini membuktikan bahwa keduanya tidak memiliki kemampuan untuk memilah. Pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan tidak dapat memilah antara urusan sanak-saudara dan urusan bangsa-negara. Pejabat yang tidak mau menegur tidak dapat memilah antara solidaritas semu berlandaskan rasa takut, enggan, dan kurang percaya diri dan kesetiakawanan sejati terhadap seluruh bangsa, negara, bahkan warga dunia, bukan terhadap seseorang atau sekelompok orang saja.

 

Hilangnya Kemampuan untuk Memilah

Kemampuan untuk memilah adalah sesuatu yang kita warisi sejak lahir. Setidaknya kita semua sudah memiliki potensi untuk itu. Selanjutnya, tinggal dikembangkan. Namun, ada juga yang tidak mengembangkannya, sehingga potensi itu mulai berkarat. Pada akhirnya, potensi itu tidak dapat digunakannya, seperti biji yang tidak ditanam dan di sia—siakan. Akhirnya, ia mati.

Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan.

Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya; seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyamanan” yang mematikan potensi kita.

Ya, seorang miskin yang “menerima” kemiskinannya sebagai takdir atau nasib sesungguhnya sudah nyaman dengan keadaannya. Ia tak akan berbuat apa-apa lagi untuk mengubah nasibnya. Keadaannya sungguh sangat memilukan. Kemiskinan menjadi comfort zone-nya. Menangisi nasib menjadi hiburan baginya. Ia memuaskan diri dengan menyalahkan bintang, hari lahir, atau keadaan. Demikian, ia menjadi bebem bagi masyarakat, negara, dan bahkan bagi diri sendiri.

 

Mengembangkan Kemampuan untuk Memilah

A practical tip: Siapkan sebuah jurnal untuk mencatat kejadian-kejadian penting setiap hari. Kejadian-kejadian ketika kau berhadapan dengan pilihan: “jalan mana yang mesti kutempuh.”

Ukuran jurnal penting sekali. Mesti kecil, sehingga bisa dibawa dan dapat digunakan sewaktu-waktu. Bagilah harimu dalam 6 bagian: pukul 06.00 – 09.00 pagi, 09.01-12.00, 12.01-15.00, 15.01-18.00, dan 18.01-21.00 malam.

Pembagian ini tentu dapat disesuaikan dengan jam bangun dan tidurmu. Saran di atas bukanlah harga mati.

Seterusnya, mulailah mencatat pengalamanmu. Contoh: pagi, antara pukul 06.00 clan 09.00 kau “terpaksa” memarahi pembantu di rumah karena hasil setrikaannya kurang bagus. Kau juga memarahi sopir karena terlambat datang, clan seterusnya.

Siangnya, kau makan udang, padahal sudah dilarang dokter karena kolestrolmu cukup tinggi. Sore, ke supermarket dan kali ini tidak membeli sesuatu yang tidak kau butuhkan. Kau hanya membeli yang kau butuhkan. Itu saja.

Setiap malam sebelum tidur, buatlah neraca. Menurutmu, dari sekian banyak tindakan setiap hari, berapa yang tepat dan berapa yang tidak tepat. Jangan meminta pendapat orang lain. Gunakan rasiomu sendiri.

 

Menilai Jurnal Harian

Jurnal harianmu bersifat sangat pribadi. Kau sendiri yang mencatat dan menyimpulkan setiap malam. Ada kalanya kau membenarkan luapan amarah terhadap seseorang, “Dia memang kurang ajar.” Baik, tulislah alasan itu. Tidak perlu merasa malu. Tidak seorang pun berhak menilai dirimu. Kau menilai dirimu sendiri.

Penilaian mesti dilakukan sefiap malam sebelum tidur. Jangan menilai saat kejadian. Pada saat kejadian, kau hanya mencatat supaya tidak ada yang terlupakan. Ini penting sekali. Jika penilaian dilakukan langsung setelah kejadian, jurnalmu akan penuh dengan pembenaran dan nama serta jenis kambing yang beragam, bukan hitam saja.

Buatlah neraca mingguan.

Menurut penilaianmu sendiri, berapa kali kau bertindak secara tepat clan tidak tepat.

 

Kemudian Neraca Bulanan

Persis sama: berapa kali tepat dan berapa kali tidak tepat. Bandingkan neraca minggu pertama dengan neraca minggu kedua, ketiga, keempat. How do you fare? Adakah kemajuan dan perkembangan?

Belum?

Jangan putus asa. Teruskan jurnalmu hingga minimal 3-6 bulan. Biasanya, setelah bulan pertama kau dapat melihat hasilnya. Bersama dengan kemampuanmu untuk memilah, kemampuan untuk mengendalikan diri pun ikut berkembang.

Lagi-lagi, kau menilai diri sendiri. Inilah cara mengembangkan kemampuan untuk memilah, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat.

 

Rasa Bersalah

Jangan merasa bersalah jika jumlah tindakan yang tidak tepat selalu melebihi tindakan yang tepat. Ini adalah untuk mengasah kesadaran diri. Menyadari tindakan yang tidak tepat dan tindakan yang tepat akan mengasah kesadaran dirimu.

Jumlah tindakan yang tidak tepat akan berkurang sendiri bila kau menyadarinya. Hal ini terjadi secara otomatis, Kesadaran adalah antidot bagi ketaksadaran. Matahari kesadaran mengakhiri malam tanpa mesti memerangi atau mengusirnya. Begitu matahari terbit, malam berakhir.

Kesalahan dan kelemahan bukanlah untuk ditangisi, tapi untuk disadari sehingga tak terulang lagi.

 

Melampaui Rasa Bersalah

“Jangan merasa bersalah” hendaknya tidak digunakan sebagai mantra atau jimat untuk membenarkan setiap kesalahan yang kau lakukan.

“Jangan merasa bersalah” adalah half-truth, sepenggal kebenaran yang tidak bermanfaat. Sepenggal kebenaran ibarat obat yang salah tidak bermanfaat, malah mencelakakan.

The other half, penggalan lain dari kebenaran ini adalah “melampaui rasa bersalah”. Untuk itu, kita mesti mencabutnya dari akar yang membuat kita merasa bersalah.

Jika kita memang melakukan kesalahan terhadap seseorang, tidak ada salahnya kita meminta maaf. Meminta maaf karena kau menyadari kesalahan yang terjadi. Meminta maaf karena kau menyadari bahwa hanya dengan cara itu kau dapat melampaui rasa bersalah. Seusai itu, selesailah persoalan kita. Tidak ada rasa bersalah lagi. Asalkan dalam permintaan maaf itu kita tulus dan jujur. Tidak berbasa-basi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

3 thoughts on “Renungan Diri: Kematian Potensi untuk Memilah disebabkan Kenyamanan yang Berlebihan?

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:

    Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan.
    ada langkah – langkah membuat jurnal harian dan mingguan. seru nih tulisannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s