Renungan #Yoga Patanjali: Bersumpah pada Tuhan Tidak Merugikan Negara? Mengapa Selalu Melanggar Sumpah?

Karena ada Celah antara Kita dengan Tuhan?

Tuhan kita adalah

1) Tuhan sangat jauh;

2) Tuhan sudah tidak lagi berbicara dengan manusia;

3) Untuk mendapatkan segala jawaban dari Tuhan buka referensi yang ada;

4) Kalau referensi tidak jelas, tanyakan pada orang-orang terpilih, para Ahli Referensi yang sudah dinobatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Dengan cara itu, kita telah berhasil memisahkan Tuhan dari urusan-urusan kita.

Sehingga urusan kita adalah dengan buku-buku referensi yang ada; dan dengan para ahli buku referensi, para ahli kitab?

TUHAN SEPERTI ITU BUKANLAH TUHAN “VERSI” PATANJALI. lsvara, sebagaimana dijelaskan oleh Patanjali adalah Mahahidup, Tak Pernah Tidur, Mahadinamis, Hyang senantiasa sedang membisiki kita, sedang berbicara dengan kita dari “kedalaman” diri kita—the deepest recesses of our being—dari sanubari kita sendiri.

Ia tidak hanya memuji, tetapi juga bisa mengoreksi kita. Ia senantiasa memandu kita. Demikianlah ada-Nya Isvara.

buku yoga sutra patanjali 

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Silakan simak penjelasan Patanjali tentang  ISVARA, TUHAN YANG BERSEMAYAM DI DALAM DIRI pada Tautan di bawah ini:

“lsvara adalah Purusa atau Gugusan Jiwa Individu, yang tidak tersentuh oleh ‘duka-derita ’; juga oleh segala kegiatan (jasmani, mental serta emosional, intelektual, dan sebagainya. Sebab itu, Ia pun tidak menanggung) hasil perbuatan, maupun kesan-kesan yang tersisa akibat suatu perbuatan.” Yoga Sutra patanjali I.24 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sungguh sulit menyederhanakan makna Patanjali, jika Isvara diterjemahkan sebagai Tuhan saja, kemudian Purusa disinonimkan dengan-Nya. Tidak, tidak sesederhana itu, yang dimaksud oleh Patanjali.

ISVARA ADALAH TUHAN YANG BERSEMAYAM DI DALAM DIRI, bahkan di dalam setiap partikel atau subpartikel atom yang terkecil, yang sudah tidak dapat dibagi lagi. Sekaligus Ia pun Meliputi segalanya.

Berarti bukan berserah diri kepada Tuhan yang berada di langit tertinggi nun jauh di sana, entah di mana! Kita bisa saja berpretensi, beranggapan telah berserah diri pada-Nya. Tapi, apa buktinya? Adakah pengakuan atau penerimaan dari-Nya? Tidak, berserah diri pada Tuhan seperti itu tak akan membantu.

Hola yang telah Iahir kembali, the newborn atau reborn Hola, sangat kecewa dengan ulah pejabat korup, “Lho! Bukankah mereka sudah  bersumpah atas Nama Tuhan untuk mengabdi tanpa merugikan negara?”

Bola menjelaskan, “Nah itu, sumpah mereka itu atas dan dengan Nama Tuhan yang berada jauh di atas. Lebih jauh dari galaksi dan bintang terjauh. Kan, Hyang Paling Tinggi! Jadi, sebelum Tuhan Hyang Maha dan Paling Tinggi itu menerima berita acara sumpah, mereka sudah cepat-cepat berdoa, minta maaf, bersedekah dan sebagainya. Lalu, ada pula Institusi Pencucian Dosa yang mengamini segala perbuatan mereka.”

“Maksudmu apa, Bola? Aku tidak mengerti.”

“Sebelum berita dosa sampai di tujuan tertinggi dan terjauh itu, dosa sudah dihapus terlebih dahulu. Jadi, Tuhan tak sempat mendapatkan berita awal. Kan butuh sekian ribu tahun cahaya untuk menerima berita dari alam ini.”

“Oh begitu, ya!?”

PATANJALI TIDAK MAU MEMBERI KITA CELAH SEPERTI ITU. Dengan menganggap 1) Tuhan sangat jauh; 2) Tuhan sudah tidak lagi berbicara dengan manusia; 3) Untuk mendapatkan segala jawaban dari Tuhan buka referensi yang ada; dan 4) Kalau referensi tidak jelas, tanyakan pada orang-orang terpilih, para Ahli Referensi yang sudah dinobatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Selesai perkara.

Dengan cara itu, kita telah berhasil memisahkan Tuhan dari urusan-urusan kita. Sehingga urusan kita adalah dengan buku-buku referensi yang ada; dan dengan para ahli buku referensi, para ahli kitab.

Dan ya, dan….

Kalau ada yang mengaku bisa berdialog dengan Tuhan, penggallah kepalanya karena dia bisa menyesatkan tatanan yang sudah diatur secara baik.

Hola masih penasaran, “Lalu, bagaimana kalau Tuhan mau berdialog? Masa ditolak? Masa menempatkan para ahli referensi di atas Tuhan Hyang adalah Sumber Sejati segala referensi?”

“Hssshhhhh…,” Bola membisikinya, “pelan-pelan, Bung. Bicara seperti itu berbahaya. Berpikir seperti itu berbahaya. Tuhan sedang beristirahat, jangan sampai terjaga. Jangan membuat hancur apa yang sudah ditata dengan baik oleh kawanan ahli referensi. Terimalah apa yang sudah diatur. Jangan coba-coba mengubah aturan.”

TIDAK, TUHAN SEPERTI ITU BUKANLAH TUHAN “VERSI” PATANJALI. lsvara, sebagaimana dijelaskan oleh Patanjali adalah Mahahidup, Tak Pernah Tidur, Mahadinamis, Hyang senantiasa sedang membisiki kita, sedang berbicara dengan kita dari “kedalaman” diri kita—the deepest recesses of our being—dari sanubari kita sendiri.

Ia tidak hanya memuji, tetapi juga bisa mengoreksi kita. Ia senantiasa memandu kita. Demikianlah ada-Nya Isvara.

Sebagai Pemandu Agung, Ia tidak terpengaruh oleh segala kekurangajaran yang kita lakukan lewat pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan kita. Sebab itu pula—karena tidak terpengaruh oleh dosa-dosa atau kekhilafan-kekhilafan kita—maka dalam keadaan seperti apa pun, Ia tetaplah memandu kita dan mengarahkan setiap langkah kita. Hal lain, jika kita tidak mau mendengar-Nya, tidak mau mengikuti panduan-Nya. Dalam hal itu, ya, kita mesti menanggung akibat dari setiap ucapan serta perbuatan kita.

 

ITU BARU SALAH SATU PERAN ISVARA, salah satu dari dua peran penting. Yang kedua adalah Ia sebagai Hyang Maha meliputi semesta.

Pemahaman tentang peran yang kedua ini—sesungguhnya hanya salah satu dari sekian banyak peran, yang tak terhitung jumlahnya—membuat kita makhluk yang bertanggung jawab.

Sebab itu, pemahaman kita tentang Purusa adalah sebagai Gugusan Jiwa atau bisa diibaratkan sebagai Cahaya Matahari—sementara itu, Paramatma atau Sang Jiwa Agung adalah ibarat Matahari.

Sebagai Purusa, Ia adalah Cahaya llahi yang menerangi seantero alam, jagad raya ini, dengan seluruh isinya—setiap makhluk dan setiap benda di alam ini.

Jiwa Individu atau Jivatma ibarat sinar-Nya, Sinar Purusa; sinar yang menerangi kita masing-masing. Sesungguhnya, sinar tak terpisahkan dari Cahaya Purusa. Demikian pula, Purusa tak terpisahkan dari Paramatma, yang dalam analogi ini, ibarat Matahari.

Matahari, Cahaya Matahari, Sinar Matahari, Paramatma, Purusa, Jivatma; Sang Jiwa Agung, Gugusan Jiwa-Jiwa Individu, Jiwa-Jiwa lndividu, semua itu, pembagian-pembagian itu hanyalah untuk mempermudah pemahaman kita. Sesungguhnya Ia Tak-Terbagi.

Matahari Paramatma Hyang adalah Sumber Cahaya, Meliputi Semesta—juga menerangi alam kita dan setiap di antara kita.

 

DENGAN PEMAHAMAN SEPERTI ITU, kita tidak bisa lagi bertindak atau berbuat sembrono. Tidak bisa lagi menyakiti makhluk lain, atau mencemari Iingkungan, apalagi merusaknya—karena semua adalah wujud-wujud yang keberadaannya, penampakannya, disebabkan oleh Sung Maha Sumber Hyang Tunggal.

Sekali lagi, sebagai Isvara, katakan, sebagai Isvara-Jivatma di dalam diri kita masing-masing. Sebagai Isvara-Purusa atau Gugusan jiwa. Ia Menerangi Semesta. Dan sebagai Isvara-Paramatma. Ia-lah Sumber Cahaya Hyang Tunggal. Tiada sesuatu di luar-Nya. Ia Maha Meliputi Segala-galanya.

Bukan sekadar “cantik luar dalam” seperti bunyi iklan salah satu produk. Ini adalah urusan “Tuhan luar dalam”—keilahian luar dan dalam. Keindahan dan kemuliaan luar dan dalam.

 

ISVARA PRANIDHANA berarti berserah diri, berlindung pada Ia Hyang bersemayam di dalarn diri, sekaligus meliputi semesta.

Implikasi atau akibat dari penyerahan diri seperti itu adalah terkikisnya ego individu yang memisahkan kita dari saudara kita; memisahkan satu bagian dari bagian lain; memisahkan manusia dari makhluk-makhluk lain; memisahkan bumi dari planet atau bintang terjauh di galaksi terjauh; memisahkan kepentingan kita dari kepentingan makhluk lain, kepentingan Iingkungan, kepentingan semesta.

Isvara Pranidhana tidak berarti sekadar bersujud sekian kali sebagai tanda penyerahan diri—itu pun boleh, dan baik sekali sebagai peringatan—, tetapi yang penting adalah menumbuhkembangkan nilai-nilai kepedulian, kebersamaan, kasih, berbagi berkah, dan sebagainya.

PATANJALI MENJELASKAN BAHWA PURUSA Tidak Tersentuh atau Tidak Terpengaruh oleh tindakan-tindakan kita; maka dengan sendiri tidak pula menanggung konsekuensi dari perbuatan kita, apalagi menderita karena semua itu.

Purusa adalah beyond, melampaui segala duka-derita. Sekarang, mari kita renungkan bersama. Bagaimana mengakhiri duka-derita yang sedang kita alami? Bagaimana membebaskan diri dari ingatan-ingatan dari dan tentang masa lalu? Bagaimana pula memastikan bahwa di kemudian hari pun kila tetap bebas dari scgala duka-derita?

Tingkatkan kesadaran!

Dari kesadaran jasmani, “aku fisik”; kesadaran mental, “aku berpikir”; kesadaran emosional, “aku merasa”; kesadaran intelektual, “aku pintar”, pun “aku bodoh”—pada Kesadaran Jiwa yang Hakiki, “Aku adalah Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung. Segala pengalaman suka dan duka adalah akibat perbuatan fisik, mental, dan emosional—dan interaksi antara indra dan alam benda. Aku, sebagai Jiwa, mengalami semua itu sebagai Saksi. Aku tidak tersentuh oleh mereka semua, sebagai seorang penonton, seorang saksi, aku tidak terpengaruh oleh adegan-adegan yang sedang kusaksikan, oleh apa pun yang sedang terjadi di sekitarku.”

Tidak ada jalan lain.

Tidak ada cara lain untuk bebas dari duka-derita—satu-satunya adalah dengan cara meningkatkan kesadaran. Kemudian, duka-derita, suka-cita, semua itu menjadi tontonan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan Terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/11/06/renungan-yoga-patanjali-3-laku-utama-mendisiplinkan-diri-belajar-menemukan-diri-sejati-dan-penyerahan-diri/

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s