Renungan Diri: Pencerahan Maria Magdalena, “Perempuan dari Magadha”

buku mawar mistik

Cover Buku Mawar Mistik

Maria menjawab mereka: “Baiklah, akan saya sampaikan apa saja yang kalian belum dengar sebelumnya.” Ulasan Injil Maria Magdalena Ayat 7-9 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Maria sudah bertemu. Ia berada dalam keadan “Pertemuan Abadi”. Ia berada dalam alam yang beda dari alam kita.

Apa yang terlihat oleh kita sesungguhnya hanyalah bayangan dia. Apa yang tercium oleh kita hanyalah aromanya. Dan, bayangan ini tidak akan ada untuk selamanya. Aroma ini tidak akan bertahan lama.

Maria sedang melewati kita. Hendaknya kita tidak lagi menyia-nyiakan waktu, dan menyapanya.

 

Ayat 10-16

“Saya pernah diberkahi-Nya dengan penglihatan dan saya pun menyampaikan kepada Guru: ‘Aku melihatmu, Guru!

Ia menjawab: ‘Terberkatilah dirimu, karena penglihatan itu tidak mengganggumu. Di mana ada kesadaran, di sanalah adanya harta karun’.”

Selama bertahun-tahun kesadaran kita terfokus pada salah satu arah yang menjadi kiblat kita, entah arah itu barat, timur, utara atau selatan. Dan,sebagaimana dengan penglihatan kita, kesadaran yang terfokus pada sesuatu pun akhirnya membuyar. Saat itulah terjadi peningkatan kesadaran. Kesadaran kita meluas, dan tiba-tiba saja kita lihat kiblat itu berada di mana-mana… di barat, di timur, di utara, di selatan, di setiap penjuru. Kita melihat Wajah-Nya di mana-mana.

Pada saat yang sama kita menemukan jati-diri kita. Kita menemukan sesuatu yang luar biasa. Kita melihat sesuatu yang tak pernah kita lihat. Kita menemukan diri kita dalam pelukan-Nya!

Nah, “yang terakhir ini” — menemukan diri dalam pelukan-Nya — dapat mengganggu kesadaran kita. Bunga yang baru saja mekar, baru pertama kali mekar, menjadi sombong: “Tidak ada bunga lain yang bisa mekar, kecuali diriku…. Akulah pemekaran terakhir… Pemekaran seperti ini bahkan tidak pernah terjadi. Inilah yang untuk pertama dan terakhir kalinya terjadi pemekaran.”

Bunga-bunga Iain yang pernah mengalami pemekaran dan sudah mulai layu, memahami kesia-siaannya. Kesia-siaan bunga yang baru saja mekar. Namun, mereka tidak ingin merusak kegembiraannya, tidak ingin merusak perayaannya dan, mereka membisu.

Pada saat itu ada tiga kemungkinan yang umumnya terjadi:

  1. Bunga yang baru saja mekar mulai menolehke kanan dan ke kiri, dan melihat bunga-bunga lain yang mekar bersamanya. Ini yangterjadi dengan Guru Nanak, Sang Guru Sejati, dan ia menari-ria, “He, Kabir TukangTenun — ternyata kamu juga mekar ya. Farid,si Gelandang, kamu juga. Dan, kamuRavidas, Tukang Tambal Sandal…. Lihat tuhsiapa lagi, ah Bulleshah si Pelupa…. DuhGusti, ternyata turunnya hujan kali ini merata!”
  2. Bunga yang baru mekar itu melihat bunga-bunga lain yang pernah mekar dan sudahmulai layu. Sri Krishna di medanKurukshetra berkata: “Wahai Arjuna, inibukanlah yang untuk pertama kalinya. Pengalaman kita sudah berulang sekian kalidi masa lalu, dan akan berulang lagi di masa Karena itu, janganlah kau menjadisombong, jangan pula berkecil hati…. Inilah Jalan Kehidupan!”
  3. Bunga yang baru mekar itu tidak menoleh ke mana-mana; ia memperhatikan dirinya ..”Akulah Yang terakhir, Akulah Satu-satunya, Akulah Kebenaran Hakiki, tiada Kebenaran di luarku!”

Maria mengalami “pemekaran”, dan apa yang dilakukannya? Ia mencetak sejarah baru. Ia tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia juga tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia menghadap Sang Guru, “Guru, Guru, Kuch-Kuch Hota Hai…… Ada yang terjadi pada diriku… What is in I don’t know….. But, something is happening… something-something, kuch-kuch! Guru, aku tak tahu apa ini… tapi sesuatu sedang terjadi.”

Sang Guru tersenyum, “Maria, kau mengalami apa yang pernah dialami oleh Magadhi – Perempuan Agung yang menolak kerajaan Magadha dan memilih untuk menjadi pengikut Buddha — Amrapali!” Sejak itulah Sang Guru selalu memanggilnya dengan julukan Magadhi, Perempuan dari Magadha. Saat itu, di Timur Tengah tidak ada kota atau dusun dengan nama Magadha. Maria sendiri berasal dari kota Bethany. Hingga hari ini pun para teolog masih bingung, kenapa Maria dari Bethany disebut Magdalena. Apakah Maria dari Bethany dan Magdalena itu satu 0rang? Barangkali mereka dua orang yang berbeda.

Para teolog mencari jawaban dari berbagai sumber. Para arkeolog, antropolog, dan sejarawan pun ikut mencari bersama mereka. Tidak seorang pun menemukan jawabannya. Kenapa? Karena mereka lupa bertanya pada Yesus sendiri? Pada Maria sendiri, “Bunda, jelaskan kepada kami, kenapa kau dipanggil dengan sebutan itu? Apa maksudnya.

Tidak, mereka tidak bertanya langsung, barangkali karena mereka tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah bertemu dengan Bunda, maupun dengan Yesus, maka mereka selalu berandai-andai….. barangkali begini, barangkali begitu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s