Renungan #Gita: Keterikatan Terkait Rasa Kepemilikan Menimbulkan Kecemburuan dan Kekecewaan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 15:5

 “Mereka yang bebas dari keangkuhan, ilusi, dan telah menaklukkan kejahatan keterikatan; senantiasa berpusat pada Kesadaran Jiwa Agung; keinginan-keinginannya telah berakhir; dan sudah tidak terpengaruh oleh dualitas suka dan duka, sesungguhnya telah bebas pula dari segala keraguan dan telah mencapai Tujuan Tertinggi nan Abadi (Kemanunggalan diri dengan Sang Jiwa Agung).” Bhagavad Gita 15:5

 

Menarik sekali, kejahatan — setan, iblis, si jahat, atau apa pun sebutannya — bagi Krsna, adalah “keterikatan” manusia.

SUNGGUH SULIT MEMAHAMI HAL INI jika kita dibesarkan dengan pengkondisian, atau indoktrinisasi paham bila si jahat ada di luar diri. Bagi Krsna, si jahat tidaklah berada di luar atau di dalam diri, tetapi ia adalah “keadaan”. “Keterikatan” itulah keadaan jahat. Keterikatan itulah yang mengantar kita, memasukkan kita ke dalam alamnya, yaitu alam neraka penuh penderitaan.

Banyak juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa keterikatan, “Mana mungkin hidup tanpa keterikatan keluarga, pekerjaan segala? Bagaimana dengan kewajiban-kewajiban manusia?

Mereka yang berpaham demikian, umumnya menjadikan keterikatan sebagai landasan mereka berkeluarga, bekerja, dan bahkan untuk bertahan hidup.

SALAH PAHAM INI MEMUNCULKAN EGO, aku, ke-“aku”-an, keangkuhan, dan ilusi. Hasilnya adalah suka dan duka, panas dan dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan.

Pernahkah kita berpikir balik, ketika sedang hangat-hangat berpacaran, apakah kita merencanakan perkawinan untuk “saling mengikat”? Pernahkah kita memikirkan “keterikatan”? Pacaran supaya “aku bisa terikat denganmu” — begitu? Atau, bekerja di kantormu, supaya aku bisa “terikat dengan kantormu”? Begitukah?

Jelas tidak.

Ketika berpacaran, landasannya adalah cinta. Ketika mencari pekerjaan, landasannya adalah penghasilan. Bukankah demikian secara umum?

KEMUDIAN, DARI MANAKAH TIMBULNYA KETERIKATAN? Cinta meluntur, kepuasan berakhir — dan keterikatan muncul. Sepasang suami-istri yang menikah setelah mengakhiri masa pacaran selama belasan tahun sejak di bangku SMP — berakhir dengan cerai. Setelah cerai, baru sadar bahwa selama beberapa tahun sebagai suami-istri, cinta di antara mereka sudah hilang, diganti, diambil tempatnya oleh keterikatan.

Bersama keterikatan, muncul pula rasa kepemilikan, kecemburuan, dan kekecewaan. Hasil akhir: Perceraian. Namun, kisah kita belum selesai, setelah cerai….

MEREKA SALING MERINDUKAN – Namun, lagi-lagi, bukan karena Cinta, tetapi karena, “Sekarang, sebelum pergi ke kantor, mesti mempersiapkan makan pagi dulu,” Atau, “Dulu ada yang menjemput, sekarang pulang kantor mesti naik taksi.”

Untuk disiapkan makan pagi dan disopiri — itukah alasan kita berpacaran dan menikah? Untuk menyiapkan makan pagi, pembantu sudah cukup. Untuk menjemput dari tempat kerja — kita perlu menggaji seorang sopir. Kita tidak perlu kawin untuk itu!

Dalam perkawinan maupun pekerjaan, kita mesti memiliki Integritas Tinggi untuk membuat dan menjaga komitmen. Dan landasan komitmen dalam perkawinan adalah Cinta. Bagi pekerjaan, landasannya adalah Kepuasan Hati. Keterikatan tidak bisa dijadikan landasan.

KITA TERKAIT DENGAN MASAKAN JAWA, maka ke Jepang pun mencari nasi pecel. Bayangkan betapa terbatas jadinya wawasan kita! Cobalah hidangan Jepang, apa salahnya? Hidup memiliki sekian banyak warna — termasuk warna-warna yang belum pernah terdeteksi oleh mata manusia. Masih ada segudang warna kehidupan yang dapat di-explore — mengapa mesti membatasi diri dengan keterikatan pada beberapa warna saja?

Keterikatan mempersempit wawasan kita. Jiwa yang hendak berpetualang, tersesakkan oleh keterikatan dan keterbatasan ilusif.

Keterikatan membuat kita tidak mampu keluar dari kepompong dan terbang di alam bebas sebagai kupu-kupu. Jika kita terikat dengan kepompong — kita tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Padahal, terbang bebas seperti kupu-kupu adalah takdir kepompong; kebebasan adalah takdir kita!

KETERIKATAN BUKANLAH LANDASAN KEHIDUPAN – Letting go adalah landasan bagi kehidupan. Setiap saat kita melewati saat sebelumnya. Saat yang sudah berlalu tidak pernah kembali.

Seseorang mengatakan kepada “calonnya”; “Aku mencintaimu sebagaimana engkau adanya!” Terdengar indah, romantis, tetapi “penerimaan” seperti itu adalah awal bagi bencana, malapetaka, musibah!

Jika aku mencintaimu sebagaimana kau adanya saat ini — maka apa jadinya 10 tahun kemudian, ketika kau sudah berubah? Apa jadinya jika berat badanmu naik 20 kilo? Apa jadinya jika 10 tahun kemudian kau tidak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan sebanding dengan saat ini?

Mencintai seseorang sebagaimana ia “adanya” berarti kita mencintainya sebagaimana adanya ia “saat ini”. Sesaat kemudian, ia berubah — dan cinta kita pun meluntur. Kenapa? Karena kita “terikat” sama dirinya “versi” saat ini. Keterikatan adalah induk dari pengalaman suka-duka ilusif. Kebahagiaan semu, dan kehidupan tanpa kedalaman maupun keluasaan — kehidupan yang tidak berbobot — kehidupan berwarna terbatas dan bercorak satu macam saja, sehingga sangat membosankan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s