Renungan Diri: Manusia seperti Pulau Terpisah padahal Dipersatukan Dasar Laut yang Sama

buku karma yoga

Cover Buku Karma Yoga

“Spiritualitas adalah esensi setiap kepercayaan. Nilai-nilai spiritual adalah nilai-nilai universal yang terdapat dalam semua tradisi, budaya, dan kepercayaan. Jadi, tidak ada spiritualitas kepercayaan A, atau B. Esensi dari A, B, C, D, semuanya – sama.

“Misalnya…. Kedamaian, kasih-sayang, kebersamaan – ini adalah nilai-nilai spiritual yang bersifat universal. Sesungguhnya setiap nilai spiritual bersifat universal. Sebaliknya tidak setiap nilai universal bersifat spiritual.

“Nilai kebersamaan adalah universal dan spiritual. Sebaliknya, nilai keserakahan – sekalipun universal, dalam pengertian banyak penganutnya, dan ada dimana-mana – tidak bersifat spiritual.

“Berkarya dengan semangat melayani sesama mesti dipahami sebagai nilai spiritual yang tertinggi – nilai yang tidak hanya bisa, tetapi mesti diterapkan dalam keseharian hidup manusia. Karena, kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantu-membantu.

“Sayang sekali bahwa nilai-nilai spiritual yang bersifat universal seperti ini tidak selalu diajarkan kepada kita sejak usia dini. Maka, sebagai orang dewasa pun kita tetap saja terkotakkan sebagai pemeluk kepercayaan A, B, C, dan sebagainya. Sesungguhnya, kita sudah menjadi korban…

 

“Indoktrinisasi yang Salah

Sesungguhnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam salah satu buku saya berjudul “Youth Challenges & Empowerment” (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama – Ed.), indoktrinisasi itu sendiri sudah merupakan kesalahan. Indoktrinisasi menciptakan perpisahan. Indoktrinisasi dilakukan untuk menghasilkan manusia dengan sifat yang sesuai dengan doktrin tertentu.

“Kebersamaan tidak perlu dijadikan doktrin. Karena, kebersamaan adalah nilai yang bersifat universal. Ia tidak memecah-belah, tidak memisahkan, tidak menciptakan kotak baru.

“Kebersamaan dapat dimunculkan lewat kesadaran – bukan indoktrinisasi – bahwasanya kita semua adalah makhluk yang berada atas kehendak Gusti Allah. Kita semua ada karena adanya Hyang Tunggal. DariNya kita berasal, kepadaNya kita akan berpulang. Kesadaran akan kesatuan dan persatuan seperti itulah yang dapat memupuki benih kasih di dalam diri kita masing-masing.

“Untuk jangka pajang, untuk mewujudkan perubahan yang bersifat sustainable atau berlanjut – pendidikan kita memang semestinya berlandaskan kesadaran akan kebersamaan, dan tidak berlandaskan doktrin-doktrin yang justru memecah-belah kita. Tapi itu urusan lain. Bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur menjadi korban indoktrinisasi yang salah? Masih adakah harapan bagi kita, supaya dapat berkarya tanpa pamrih diatas landasan kebersamaan dan kesadaran?

 

“Ya, Ada Harapan!

“Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan ‘kesan terpisah’. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan!

“Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi.

“Berkarya tanpa pamrih pribadi menjadi sangat mudah jika kita memperhatikan napas kehidupan yang mempersatukan kita semua. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa hidup tanpa napas. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan pun bernapas. Napas kehidupan itulah faktor pemersatu yang sangat nyata.

“Apa yang tejadi bila tumbuh-tumbuhan berhenti menghirup karbon dioksida dan ikut menghirup oksigen bersama kita manusia? Barangkali kita sudah kekurangan oksigen. Tapi tidak, mereka menghirup akan yang kita keluarkan dari sistem kita, dan mengeluarkan apa yang kita butuhkan.

“Patutkah kita merusak lingkungan yang justru memberi kehidupan kepada kita? Patutkah kita seenaknya menebang pohon yang menjadi penopang hidup kita?

 

“Eksperimen Para Suci

Sesungguhnya para suci dari setiap tradisi – lahir di belahan dunia mana pun jua – sudah menyerukan kebersamaan. Itulah pesan utama mereka.

“Baginda Rasul membentuk ummah; Buddha Gotama membangun sangha; Yesus Kristus mendirikan komunitas. Demikian pula dengan para suci lainnya. Dan, mereka semua, tanpa kecuali, menggunakan spiritualitas, esensi keagamaan, laku batin sebagai landasan.

“Sebagaimana telah saya jelaskan pula dalam “A New Christ” (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama – Ed.), Kerajaan Allah yang hendak diwujudkan oleh Sang Mesias pun tidak lain adalah dunia yang damai, dimana penghuninya saling mengasihi, saling membantu, saling memajukan.

“Tidaklah cukup bila kita berdoa di tempat ibadah, sementara saudara kita – sesama manusia – masih tinggal di kolong jembatan dan malam ini barangkali tidur dengan perut kosong. Apa arti sedekah yang kita berikan kepada fakir-miskin, atau sumbangan yang kita berikan kepada para pengurus tempat-tempat ibadah, jika karyawan di perusahaan kita sendiri masih susah menyekolahkan anaknya?” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramed ia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com Link: http://www.oneearthcollege.com/

Tautan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/08/31/renungan-gita-keikaan-oneness-tiada-dia-lain-kecuali-dia-menurut-einstein-dan-sri-krishna/

oec2Elearning-Banner-2

Banner utk di web

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s