Renungan #Yoga Patanjali: Kesehatan Jasmani, Ketenteraman Hati, Pengetahuan Sejati hanya Efek Samping Yoga?

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Patanjali Yoga Sutra

“Dengan praktik sebagai landasannya, bukan kepercayaan (setidaknya) selama satu milenium terakhir Yoga telah berperan sebagai jembatan untuk menghubungkan berbagai kultur dan kepercayaan yang berbeda… Dengan penekanannya pada laku spiritual, tidak mencampuri isu-isu teologi, dan kemampuannya untuk beradaptasi (dengan kultur dan kepercayaan apa saja — a,k) selama berabad-abad Yoga telah terbukti tidak sebagai laku spiritual yang efektif saja, tetapi juga sebagai penghubung dalam konteks multikultural.”

Christoper Key Chappel (Yoga and the Luminous, 2008)

Dikutip dari terjemahan yang diambil dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sadhana bukanlah sekadar “laku” atau “praktik“ sebagaimana kata ini umum diterjemahkan. Sadhana juga bukan sekadar upaya yang sungguh-sungguh. Sadhana berarti Laku, Praktik atau Upaya penuh Devosi—Laku, Praktik, atau Upaya dengan semangat Pengabdian.

PENGABDIAN PADA SIAPA?

Pengabdian pada, devosi pada Tujuan Luhur upaya tersebut. Dan Tujuan Luhur itu adalah Samadhi—Keseimbangan Diri. Pencapaian Kesadaran Murni, Kemanunggalan Sempurna dengan Sang Jiwa Agung. Dalam satu kata, “Pencerahan”!

Manfaat utama dari Pencerahan adalah untuk Diri sendiri, untuk Diri yang Sejati, demi kemanunggalan dengan Sang Diri Agung. Hal ini mesti dipahami. Jadi, Disiplin atau Yoga—hidup berpedoman pada prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Patanjali ini—bukan untuk perkara Iain. Perkara-perkara lain, seperti kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, ketenteraman hati, bahkan prajna atau pengetahuan sejati sekalipun cuma sekadar efek samping dari Yoga. Efek-efek samping yang menjadi berkah bagi diri kita sendiri sehingga kita dapat menggunakan badan, indra, bersama fakultas-fakultas lainnya—seperti mind atau gugusan pikiran dan perasaan, inteligensi, dan sebagainya—untuk mencapai tujuan akhir tersebut, yaitu Samadhi, Pencerahan!

 

SALAH SATU EFEK SAMPING, bahkan boleh disebut salah satu efek akhir, yaitu Prajna—sebagaimana telah kita pelajari dalam bagian sebelumnya—, mendorong kita untuk hidup berpedomankan rta atau dharma, nilai-nilai luhur kebajikan.

Tentu dengan hidup berpedornan pada nilai-nilai tersebut, kita menjadi pembawa berkah, penyebar berkah bagi sesama makhluk—bagi alam semesta. Kendati itu bukanlah tujuan Jiwa “Anda”, “saya”, “kita” di alam kebendaan ini.

Hola bingung, “Lalu jika tujuan kesadaran Jiwa di alam bendaini adalah untuk menyatu kembali dengan Jiwa Agung, untuk apa berpisah dari-Nya?

“Konon, bukankah kita semua berasal dari-Nya? Kenapa kalau memang mau kembali pada-Nya? Kenapa cerai, kalau mau rujuk kembali? Seperti main-main saja!”

Gola Si Gila tertawa, “Memang lagi main-main. Pikirmu apa lagi? Cilukba, cilukba…kita semua lagi main petak sama Bos. Kamu menyebut-Nya Tuhan…. Hahaha, kasihan deh kamu, baru tahu kalau lagi main petak umpet, hahaha…!”

…….. alinea tidak dikutip (dalam bahasa Inggris)…….

“KELUARLAH DARI TEMPAT PENGUMPETAN-MU, wahai Penipu Unggul. Permainan petak umpet apa yang sedang Kau mainkan? WahaiParamatma, Jiwa Agung, sampai kapan Kau dapat menghindariku? Sampai kapan Kau dapat mengumpet dariku? Atma ini, Jiwa ini memanggil-Mu. Ia telah mencari-Mu sejak lama. Senantiasa Ia memanggil-Mu. Sampai kapan wahai Penipu Unggul, sampai kapan Kau akan bersembunyi dariku?”

HANYALAH SEORANG YOGI yang dapat menyanyi seperti itu. Lagu yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu membuktikan bahwa penciptanya, penyanyinya, berjiwa Yoga.

Siapa yang berani menyebut-Nya Chaliya, Penipu Unggul? Einstein pun masih bersikukuh bahwa Tuhan tidak bermain dadu—sementara itu, penulis lagu ini tidak ragu. Tidak bimbang. Ia tidak berandai-andai. Ia tidak malu-malu. Bunyi tuntutannya jelas sekali, “Wahai Penlplu Unggul. sampai kapan Kau akan bermain petak umpet seperti ini?“

Hubungan seorang Yogi dengan Gusti Pangeran adalah hubungan cinta—bukan sekadar cinta-kasih, tapi juga cinta mesra. Tradisi yang juga ada dalam Gereja Kristiani—di mana Yesus, Hazrat Isa, Isanatha adalah Mempelai Pria, dan para panembah, para devotees adalah pengantin.

Bagi seorang Yogi, Pangeran, Tuhan adalah Liladhari, The Game Master, Maestro dalam Permainan Semesta. Untuk membuat permainan ini menarik, acap kali peraturan-peraturan permainan yang sudah ditentukan-Nya sendiri pun dihiraukan-Nya.

Begini.

BAGI EINSTEIN, SEGALA SESUATU DALAM ALAM INI TUNDUK pada hukum-hukum fisika. Semuanya teratur, in perfect order.

Tapi bagi para pendukung teori kuantum, di balik segala sesuatu yang teratur itu ada hukum Iain, yaitu hukum ketidakteraturan, hukum probabilitas, hukum kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas, hukum kuantum yang memungkinkan terjadinya lompatan kuantum.

Tanpa ketidakteraturan, permainan semesta menjadi hambar. Keteraturan membuat permainan sangat tidak menarik. Segalanya sudah bisa diprediksi sejak awal. Lalu, permainan pun bukan menjadi permainan lagi. Permainan pun menjadi sesuatu yang sangat serius. Nah, teori kuantum inilah yang memungkinkan terjadinya ketidakteraturan—rnemungkinkan permainan petak-umpet, cilukba!

Berkah, anugerah, grace tidak mengikuti Hukum Keteraturan. Turunnya hujan berkah, yang lebih sering secara tiba-tiba, mendadak, tanpa babibu, tanpa pemberitahuan, adalah bukti adanya Hukum Ketidakteraturan!

…… alinea daalam bahasa sanskerta dan bahasa Inggris tidak dikutip………

APA MUNGKIN AKU SAJA YANG MERINDUKAN-MU? Tidak Kau pun pasti merindukanku. Seorang Ayah tidak bisa tidur tenang, jika berpisah dari anak-Nya…. Apa yang perlu kutakuti, takdirku, kehormatanku, semua telah kuserahkan pada-Mu, ada di tangan-Mu…… Sampai kapan Kau akan bersembunyi terus…Jiwa Agung, dengarkan panggilan Jiwa ini.”

 

IA ADALAH KEKASIH; kadang Ayah Sejati, Bapa di Surga, kadang Hyang Mahakuasa—kadang jauh, kadang dekat.

Hubungan seorang Yogi dengan Gusti Pangeran memiliki banyak warna—tak terhitung warnanya. Hubungan seorang Yogi dengan Gusti Pangeran sungguh sangat colorful. Kadang sangat serius, filsafat mumi; kadang sangat playful.

Di atas segalanya, hubungan seorang Yogi adalah hubungan yang sangat akrab, informal. Tiada formalitas, tanpa basa basi.

 

……. Puisi bahasa Sanskerta dan bahasa Inggris tidak dikutip………..

 

“Api Cinta bukanlah api biasa, O Kasih. Bukan aku saja yang terbakar, Kau pun pasti ikut terbakar. Cinta bukanlah perkara satu arah. Kau pun pasti mengalami apa yang kualami…. Sungguh, Engkaulah mahkota—Engkau1ah Tujuan Akhir, Engkaulah Maksud hidupku. Sampai kapan, Kasih…sampai kapankah Kau akan bermain petak umpet seperti ini???”

SEORANG YOGI YANG JUGA ADALAH BHAKTA, ATAU PANEMBAH bisa berubah bahasa dalam sekejap. Sesaat sebelumnya, Gusti Pangeran masih Ayah, Bapa Sejati, Tuhan, Hyang Mahakuasa. Sekarang Ia adalah Kekasih—sekali lagi Kekasih.

“Sampai kapan, O Kasih, Kau akan bermain petak umpet seperti ini? Sampai kapan???” Sadhana Padah hendak mengakhiri permainan petak umpet ini, permainan ilusif ini. Tinggal beberapa langkah lagi, maka yang mengasihi, kasih itu sendiri, dan Sang Kekasih akan rnenyatu—menyatu “kembali”, Cilukba!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s