Renungan Diri: Dekati Mereka yang Berbudi Luhur, Itulah Satu-Satunya Cara di Tiga Dunia

buku bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govi ndam

“Sungguh bodoh bila kau memikirkan pasangan dan tabungan melulu. Ada yang sudah menentukan dan mengurusi semua itu. Pernahkah kau berupaya untuk mengarungi Lautan Samsara? Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.” Bhaja Govindam ayat 13

Bait ini mengakhiri sesi pertama Bhaja Govindam; bait terakhir gubahan Shankara “untuk sesi pertama”. Empatbelas bait berikutnya ditulis oleh para murid, kemudian empat bait terakhir ditulis lagi oleh Shankara.

Bait pertama biasa dinyanyikan bersama oleh Sang Guru dan para Murid. Bait Pembukaan ini juga selalu mengakhiri setiap dari 30 bait berikutnya:

Bhaja Govindam Bhaja Govindam, Govindam Bhaja Moora-Mate, Sampraapte Sannihite Kaale, Na Hi Na Hi Rakshati Dukrinya-karane.

Bersoraklah dengan gembira, sebut nama Govinda, bodoh! Pengetahuan lain yang kau kejar, tak akan membantumu saat ajal tiba.

 

Jangan lupa Shankara bukanlah seorang sastrawan atau cendekiawan. Ia tidak peduli dengan tatakrama penulisan. Ia lebih peduli pada kesadaran para muridnya. Oleh karena itu, pengulangan tidak menjadi soal bagi dirinya.

Bersoraklah dengan gembira, sebut nama Allah……. Apa yang kau kejar selama ini, apa yang kau timbun dalam gudang, tabunganmu, dan pasangan hidupmu, keluarga dan kerabat tak ada yang membantu saat maut datang menjemputmu.

“Sungguh bodoh bila kau memikirkan pasangan dan tabungan melulu. Ada yang sudah menentukan dan mengurusi semua itu. Pernahkah kau berupaya untuk mengarungi Lautan Samsara? Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.”

He vaatula, bodoh, goblok—apa yang kau pikirkan? Vaatula berarti teler, mabuk, kehilangan arah, dan mungkin sesat sesaat karena teler. Shankara tidak mencap kita sebagai manusia berdosa. Kita hanya mabuk; itu saja. Karena itu Shankara juga tidak menciptakan sosok penyelamat untuk membantu kita. Tidak perlu. Kita bisa membantu diri sendiri. Lepaskan botol arak di tangan…. sebentar lagi juga sadar kembali.

Sesatnya seorang vaatula bukanlah dosa yang harus ditebus di neraka. Tak ada hukuman tambahan bagi mereka yang sesat, karena ketersesatan itu sendiri sudah merupakan hukuman. Mereka yang sesat sudah hidup dalam neraka, mau dihukm apa lagi? Harus dikirim ke neraka yang mana lagi?

………

Apa saja yang kita pikirkan sih? Uang, tabungan, nama, kedudukan, kerabat dan keluarga—itu sajakah yang kita pikirkan selama ini?

Oke, baik—asal sadar bahwa kita bukanlah “pengatur”. Kita bukan “penentu” takdir keluarga kita. Ada yang mengatur dan menentukan semua itu. Bagaimana dengan hidup kita sendiri? Pernahkah kita memikirkan hidup kita? Pernahkah kita berupaya memahami pola pengaturan Sang Maha Penentu? Jangan mengacaukan permainan hidup; ikuti pola main yang sudah ditentukan.

Suami menyeleweng, istri tidak perlu ikut menyeleweng. Kawan kerabat sudah tidak karuan, kita tidak usah ikutan. Penyelewengan adalah pola mereka, ketidakkaruan adalah aturan mereka—lakukan apa yang harus anda lakukan dan biarkan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tapi… ada tapinya, bila kau tidak menyukai penyelewengan, ya jangan bergaul sama para penyeleweng. Kalau tidak suka korupsi, ya jangan bergaul sama para koruptor. Bila  kau sudah sadar, bergaulah dengan mereka yang sadar, yang berbudi luhur. Bila kesadaranmu masih naik turun, berkat bantuan mereka pasti menjadi stabil. Apa yang kurang akan ditambahkan. Kalau sudah sadar akan kekurangan diri, apa guna bergaul dengan mereka yang kekurangan pula?

Seorang meditator harus membenahi diri, membenahi hidupnya. Dan, pergaulan dengan mereka yang hidupnya sudah terbenahi sangat membantu:

“Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.”

Yang dimaksud dengan tiga dunia bukanlah bumi dan langit dan alam di antara keduanya, tetapi tiga “masa” dan tiga “alam kesadaran”. Masa lalu, masa kini dan masa depan—begitulah dulu, begitu pula sekarang, dan akan tetap begitu di kemudian hari….. Hanya mereka yang berbudi luhur dapat membantumu. Untuk menjinakkan pikiranmu, yang masih liar, menenangkan jiwamu yang masih gelisah, sekaligus mempertahankan kesadaran ruhanimu yang selama ini naik-turun melulu, dekatilah mereka yang berbudi luhur. Hanya mereka, hanyalah mereka yang dapat membantumu.

Good company sajjanasanga atau “pergaulan dengan mereka yang berbudi luhur’, ibarat naukaa, kapal yang dapat dijadikan wahana untuk mengarungi lautan samsara, lautan  kelahiran dan kematian yang maha luas.

Memang ada juga yang berusaha mengarungi lautan samsara tanpa naukaa, tanpa sarana kapal. Mereka bekerja sendiri, berenang sendiri. Lakukan hal itu bila anda cukup pede, cukup percaya diri. jadikan diri anda sebuah kapal untuk mengarungi lautan samsara—no problem… tetapi jangan mengkiritik mereka yang lebih suka menggunakan kapal umum, kapal pesiar atau sebagainya. Mau naik kapal atau perahu, atau berenang… tak masalah. Mereka tidak saja berkeinginan untuk mengarungi lautan samsara, tetapi juga keinginan untuk menikmati perjalanan ke tepi seberang. Biarlah mereka menikmati perjalanan mereka.

Sedikit peringatan bagi mereka yang merasa sudah menjadi naukaa atau kapal antarjemput. Terlebih dahulu lakukan uji-coba, are you seaworthy? Kapal sih kapal… layakkah kita untuk turun ke dalam air? Sebelum melayani antar-jemput untuk umum, antarlah terlebih dahulu dirimu ke seberang sana… balik ke seberang sini…. ulangi beberapa kali… bila “kapal kesadaraan”-mu sudah lulus ujian dan ternyata masih “layak” untuk berlayar, by all means, layanilah orang lain. Bila kesadaranmu sendiri masih belum terbukti tahan banting, benahi dulu dirimu. Persis seperti safety regulation di dalam pesawat terbang: Bila oksigen di dalam ruang pesawat berkurang, masker oksigen di atas tempat duduk anda akan jatuh sendiri. Jadi “bantulah diri anda sendiri sebelum membantu orang lain.” Bila anda sendiri sudah kekurangan oksigcn dan susah bernapas, bagaimana bisa membantu orang lain?

Seorang naukaa juga tidak perlu memasang iklan dan mempromosikan diri, “Wahai manusia-manusia yang takut tenggelam dalam lautan samsara, manfaatkan layanan kapal kesadaranku untuk mengarungi lautan samsara!” Mereka yang membutuhkan pelayananmu akan mencarimu sendiri. Dalam perjalanan bila kau melihat seorang perenang sudah kehabisan tenaga, jangan pula bersikap sinis terhadapnya, “Rasain lu, ngos-ngosan kan! Coba dari dulu memanfaatkan pelayananku. sudah sampai juga ke seberang sana.”

Bila kau masih angkuh dan merasa “lebih hebat daripada orang lain” karena sudah menjadi naukaa, ketahuilah bahwa kau sedang mengalami ilusi. Kau ge-er, belum apa-apa sudah basah sendiri. Seorang naukaa haruslah shallow—kosong di dalamnya. Kekosongan itulah yang  membuatnya menjadi naukaa. Ia berbobot sekaligus kosong. Bobotnya “bobot rohani”, yang membuatnya “kosong ego”.

Good company atau satsang tidak berarti sekadar “mendekati seorang naukaa”, tetapi menggunakan jasanya, menerima pelayanannya dan “menaikinya”. Pergaulan anda sudah “sat”, sudah benar atau belum, naukaa yang anda naiki sudah betul atau belum, haruslah teruji oleh “rasa” anda sendiri. Pergaulan dengan mereka yang berjiwa besar, mereka yang berbudi luhur tak akan membebani jiwa anda. Malah akan meringankannya, membebaskannya dari segala macam beban. Bila hubungan anda dengan seseorang malah membebani jiwa anda, ketahuilah bahwa orang itu belum layak menjadi naukaa.

Atau, bisa jadi ia memang seorang naukaa,hanya sajaanda belum menaikinya. Mungkin juga anda sudah menaikinya, tapi lupa menurunkan buntelan di atas kepala.

(Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s