Renungan Diri: Relevan Masa Lalu, Tidak Relevan Sepanjang Masa, Berlaku Masa Kini Tidak Untuk Selamanya

buku ah hridaya sutra

Cover Buku Ah Mereguk Keindahan, Hridaya Sutra

“Dengarkan Saviputra, Hukum-alam itu pun sesungguhnya bersifat “Kasunyatan”. Tidak pemah muncul dan tidak akan lenyap. Tidak kotor, juga tidak bersih; tidak berkurang, juga tidak bertambah.” Hridaya Sutra ayat 3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Segala sesuatu yang “ada” memiliki awal dan akhir. Saat ini ada, sesaat lagi tidak ada. Yang berawal, akan berakhir. Yang lahir, akan mati. Hukum dan peraturan pun demikian. Relevan untuk masa lalu, tidak berarti relevan sepanjang masa. Berlaku untuk masa kini, tidak berarti harus berlaku untuk selama-Iamanya.

Setiap peraturan, hukum, perundang-undangan harus diperbaiki, disempurnakan dari waktu ke waktu. Tidak ada yang langgeng, yang abadi. Bahkan yang berlaku bagi satu kelompok, tidak berlaku bagi kelompok lain. Yang berlaku untuk suatu saat, tidak berlaku untuk saat lain.

Kita menggunakan diapers atau popok untuk bayi. Berarti apa? Berarti, kita membenarkan “aksi ngompol” para bayi. Es Dhammo Sanantano – demikianlah kebenaran, demikianlah hukum, demikianlah peraturan bagi para bayi. Akankah anda menghukum seorang bayi karena ia mengompol? Jelas tidak. Percuma, karena dia belum tahu apa-apa.

Tetapi jika bayi yang sama sudah berusia tiga-empat tahun dan masih juga mengompol, apa yang akan anda lakukan? Tetap mcmberikan diapers? Tidak, anda akan mengajar dia. Bahkan jika perlu memberi hukuman ringan, tanpa harus menyakiti dirinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi sudah tidak berlaku bagi seorang anak yang berusia 3-4 tahun.

Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain. Dharma seorang pria lain, dharma seorang wanita lain. Dharma anda lain, dharma saya lain.

Kesalahpahaman terjadi, ketidakpuasan muncul, jika dalam ketidaksadaran anda berupaya untuk memberlakukan satu dharma bagi setiap orang untuk selama-lamanya. Karena tidak sadar akan sifat dharma yang hams berubah dari waktu ke waktu, karena belum memahami sifat hukum yang perlu penyempurnaan dan perbaikan dari masa ke masa, kita selalu bertindak tidak arif, kurang bijaksana.

Hukum agama atau syariah masyarakat India saat itu, didasarkan pada Manu Dharma Shaastra— Kompendium Hukum yang ditulis oleh Resi Manu. Pada masa Siddhartha Gautama saja, hukum tersebut sudah terasa usang, kadaluwarsa. Sudah banyak pasal-pasal yang perlu disempurnakan, diperbaiki, didefinisikan kembali. Apalagi sekarang, saat ini, jika Manu Dharma Shaastra rnasih dijadikan pegangan, ya tambah kacaulah!

Anehnya, manusia tetap juga tidak sadar. Baru-baru ini (buku ini ditulis tahun 2.000…… pengkutip), seorang tokoh masyarakat menyatakan agar mereka yang dianggapnya “berdosa” terhadap masyarakat suatu daerah diadili di daerah tersebut, dengan menggunakan hukum adat daerah tersebut. Lalu, ia menjelaskan bahwa berdasarkan hukum adat, seorang pembunuh harus diberi hukuman mati atau membayar denda. Dan apa pula denda yang la maksudkan? Seorang pembunuh harus membayar dengan onta, yaitu 50 ekor onta, yang ia rupiahkan menjadi Rp 250 juta. Satu onta, dihargai Rp 5 juta. Saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala saya. ]ika hukum seperti itu diberlakukan, mereka yang berduit dengan sangat mudah bisa memperoleh SIM atau Surat Ijin Membunuh.

Bayangkan — dengan satu milyar rupiah saja, anda sudah boleh membunuh empat orang. Bahkan, nantinya bisa-bisa pcmerintah tinggal jual “Kartu Membunuh Pra-Bayar”. Kalau sudah habis pulsa, tinggal diisi ulang.

Sang tokoh tadi tidak sadar bahwa hukum seperti itu mungkin sangat efektif di masa lalu. Ketika, seseorang bisa membunuh orang lain hanya karena satu onta, hukuman membayar 50 onta menjadi sangat bermakna. Sangat berarti dan sangat efektif untuk membuat si calon pembunuh berpikir 50 kali. Jelas, hukum seperti itu tidak bisa diberlakukan lagi. Taruhlah, angka 50 onta diganti mcnjadi 500 onta atau 5000 onta — yang jelas, nyawa manusia tidak bisa dihargai dan dinilai demikian.

Seribu lima ratus tahun yang lalu, adanya hukum seperti itu di tanah Arab bisa dipahami. Masyarakat Arab saat itu masih belum cukup sadar akan nilai-nilai kcmanusiaan. Satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah bahasa materi. Dan “materi” pada jaman itu, dikaitkan dengan jumlah onta atau domba yang dimiliki oleh seseorang. Sekarang, ceritanya sudah lain.

Kesimpulannya, setiap hukum – entah hukum adat, entah hukum pemerintah, entah hukum agama — senantiasa harus ditinjau ulang. Ada yang perlu disempurnakan, ada yang perlu dihapus, ada yang perlu ditambah, ada yang perlu didefinisikan kembali. Es Dhammo Sanantano — demikianlah kebenaran itu adanya. Demikianlah yang seharusnya terjadi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s