Renungan #Gita: Baju-Badan, Pikiran, Perasaan Mengalami Proses Penuaan, tapi Baju bukan Jiwa?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 8:14

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang senantiasa mengenang-Ku dengan segenap gugusan pikiran serta perasaan yang tidak bercabang – sesungguhnya sudah manunggal dengan-Ku. Seorang Yogi seperti itu mencapai-Ku dengan mudah.” Bhagavad Gita 8:14

Inti dari ayat ini adalah ananyacetah — mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang tidak bercabang; dan, nitya-yukta — senantiasa berupaya untuk mempertahankan Kesadaran Yoga, berada dalam kesadaran manunggal.

INILAH KUNCI KEBERHASILAN… Mudahkah? Ya, jika kita menyadari betul bahwa badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya adalah kendaraan — bagian dari kendaraan, dan Jiwa adalah pengernudi.

“Aku adalah Jiwa” — setidaknya itu dulu. Belum memasuki kesadaran Jiwa sebagai saksi — dan, membiarkan kendaraan berjalan dalam mode auto-drive. Bisa juga. Kendaraan-kendaraan berteknologi baru, khususnya di Barat, sudah bisa diatur dengan komputer — kecepatannya seberapa, kita tinggal rnengawasinya saja.

Tetapi, untuk itu tentunya kita membutuhkan jalan raya yang mulus — tanpa hambatan-hambatan yang sering tercipta oleh petugas korup yang sedang bersernbunyi di balik pohon untuk mencari kesalahan para pengguna jalan. Kita butuh enlightened society — masyarakat yang berkesadaran — kemudian hidup di dunia ini menjadi lebih menarik, lebih mudah. Kita tidak perlu membuang waktu banyak untuk hal-hal yang bersifat rutin dan dapat menggunakan waktu lebih banyak untuk pengembangan diri.

SEBELUM BEROPERASI DENGAN MODE-AUTO, setidaknya sebagai pengemudi, biarlah Jiwa yang mengendalikan kendaraan badan. Bukan sebaliknya, kendaraan badan mengendalikan Jiwa.

Kesadaran ini mengantar kita pada kesadaran berikutnya, yang adalah – “Aku-Jiwa, dan penumpang-penumpang lain se-kendaraan; sesama Jiwa, percikan Jiwa Agung, adalah ‘komponen ’ terpenting dalam perjalanan hidup ini.”

Ada kalanya kita menghadapi suatu insiden, kecelakaan sudah tak terhindari, maka refleksi kita secara natural, secara alami adalah kuat sekali untuk menyelamatkan penumpang — bukan kendaraan. Keamanan kendaraan hanyalah menjadi penting supaya penumpangnya aman.

Ketika seorang pilot pesawat terbang sepenuhnya yakin bahwa ia tidak bisa lagi mengamankan pesawatnya, maka seluruh perhatiannya, kesadarannya terpusatkan pada keamanan penumpang dan dirinya.

Adalah kekonyolan yang sungguh tidak masuk akal, jika kita lebih mementingkan keamanan kendaraan atau pesawat daripada keamanan diri dan sesama penumpang.

INILAH LAW OF PRIORITY – Hukum Prioritas. Mana yang lebih penting — kendaraan atau penumpang? Jika kita mernahami hal ini secara baik dan benar, maka kesadaran kita akan terpusatkan dengan sendirinya, tidak lagi bercabang. Kita sadar sepenuhnya bila badan, pikiran, perasaan, intelek, kedudukan sosial, latar belakang akademis, kepercayaan, bahkan nama dan rupa — semuanya adalah bagian dari kendaraan. Wahana, rumah — perlu dijaga, dirawat, dipelihara, dibuat senyaman mungkin — tetapi sernua itu bukan aku, bukan Jiwa.

Jika terjadi kebakaran — dan sesungguhnya kebakaran sudah terjadi sejak kelahiran kita – maka, keamanan penumpang menjadi prioritas utama. Badan sudah mulai menua sejak hari pertama kelahiran kita. Kita menghibur diri dengan rnenggunakan istilah-istilah keren seperti balita, anak remaja, dewasa, Warga negara senior, dan sebagainya dan seterusnya. Semua itu hanyalah ungkapan. Faktanya satu — yaitu kita sedang menua, badan sedang menua. Rumah sedang terbakar. Suatu ketika akan terbakar habis, sisa abunya saja.

SO, APPLY THE LAW OF PRIORITY – Aplikasikan Hukum Prioritas sejak kita menyadari hal ini. Dari sekarang dan saat ini juga, selamatkan Jiwa. Kebakaran, pemusnahan, penuaan — semua adalah bagian dari pengalaman hidup. Alami. Tidak perlu, tidak bisa dihindari. Jalani semuanya, lewati semuanya — dengan penuh kesadaran bahwa alam benda rnemang bersifat sementara dan senantiasa berubah. Segala sesuatu sedang mengalami proses pendauran-ulang. Termasuk pikiran serta perasaan kita pun berubah-ubah terus.

Baju yang sedang kita pakai ini — baju-badan, baju-pikiran, baju-perasaan — semuanya sedang mengalami proses decay — proses penuaan, dan akhirnya akan sobek, benangnya terurai. Adakah sesuatu yang perlu digelisahkan? Tidak, baju adalah baju. Bukan diri kita.

Kemudian, setelah seluruh gugusan pikiran dan perasaan sudah tidak bercabang dan terpusatkan pada identitas diri sebagai Jiwa — maka berupayalah untuk senantiasa berada dalam kesadaran ini… NITYA-YUKTA, SELALU BERADA DALAM KESADARAN—MANUNGGAL – Saat ini, kesadaran kita masih agak pincang.

Seolah percikan sinar matahari Ilahi terpisah dari matahari, sehingga mesti “berupaya” untuk menyatu kembali. Ini bukanlah kesadaran tertinggi, belum! Tapi, merupakan anak tangga atau sarana yang paling efektif. Ya, upaya atau kerja-keras adalah sarana, keharusan, untuk menyadarkan

kembali Jiwa tentang hakikat-dirinya.

Jiwa yang sudah lama bercengkrama dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lain-lain — sudah telanjur mengidentifikasikan dirinya dengan semua itu. Identitas palsu ini seperti daki tebal yang melekat pada kulit Jiwa. Mesti dibersihkan secara perlahan-lahan. Jangan dipaksa, Kulit bisa lecet, memar, atau berdarah. Bermandilah di bawah pancuran Kesadaran Jiwa hakiki, daki tebal ini akan terkupas dengan sendirinya.

Inilah kerja-keras seorang Yogi, yang dimaksud — pekerjaan purna waktu. Ia tidak “melarikan” diri ke kamar mandi dan tinggal di kamar mandi “pertapaan” di tengah hutan untuk membersihkan dirinya. Ia berada di tengah keramaian dunia. Sambil rnenjalani hidup, ia sedang memandikan dirinya dengan siraman Kesadaran Jiwa.

Hidup 24/7; rnenjalani hidup purna waktu; dan,

MEMBERSIHKAN DIRI PURNA WAKTU – Apa bisa? Bisa. Pemahkah kita berada di Bandara Changi, Singapura selama beberapa jam? Rahasia kebersihannya adalah karena petugas di sana tidak butuh mandor atau pengawas untuk mengingatkan tugas mereka. Mereka siap setiap saat untuk membersihkan lantai, membersihkan toilet. Mereka seolah sudah berada dalam mode auto-pilot.

Tidak ada yang menyuruh mereka. Mereka bekerja sendiri atas kesadarannya, karena mereka tahu persis bila itu adalah tugas mereka. Dengan demikian, kebersihan bandara terjaga, terjamin, tanpa ada paksaan dari petugas pengawas yang dapat memberi kesan seolah pekerjaan mereka berat sekali. Padahal, tidak juga. Dengan adanya kesadaran, semua pekerjaan menjadi mudah dan menyenangkan.

Sedikit melenceng dari topik pembahasan, tapi penting juga kita memperhatikan “jumlah” petugas pembersih lantai, toilet, dan lain sebagainya di Changi; kemudian membandingkannya dengan jumlah petugas untuk tugas-tugas serupa di bandara-bandara internasional kita! Dengan jumlah yang secara proporsi lebih besar, para pekerja kita tetap tidak secakap dan seefisien di Changi. Kesadaran kita akan tugas masih sangat rendah. Padahal kita digaji untuk tugas tersebut. Bagaimana pula berkesadaran Jiwa?

(Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s