Renungan Diri: Vadan, Simfoni Ilahi Melibatkan Setiap Jiwa dan Setiap Bentuk Kehidupan

buku Vadan hazrat inayat khan

Hazrat Inayat Khan

 

Adik perempuan Hola bercita-cita untuk menjadi anggota Kopako, Korps PaIing Korup. Dengar-dengar, departemen itu yang paling basah; dan di sana paling bisa melakukan apa saja. Kendalanya hanya satu, dia adalah seorang wanita, padahal Kopako tidak pernah menerima perempuan sebagai anggota. Perempuan dianggap sangat lemah dan kurang korup.

Adik Hola pun pantang mundur, “Aku pasti berhasil menjadi anggota Kopako. Lihat saja nanti!”

Eh, betul juga… Dia berhasil menjadi anggota Kopako. Hola ikut bangga, “Adikku yang perempuan jadi anggota Kopako lho.”

Para sahabat tidak percaya, “Masak sih? Nggak percaya! Kopako kan tidak menerima perempuan sebagai anggotanya.”

“Memang, memang. Mereka tidak menerima perempuan, tetapi adikku menyamar sebagai pria,” jawab Hola.

“Menyamar sebagai pria? Mana bisa sih? Mau bohong sampai kapan? Mereka kan mandi, tidur rame-rame. Masa tidak ada yang tahu?”

“Tahu, tahu, memang tahu—semuanya juga tahu!”

“Lalu?”

“Ya, memang tahu, tetapi tidak ada yang mau memberitahu kepada atasannya!”

Kita tahu persis mana yang benar, mana yang salah. Tindakan mana yang tepat, dan mana yang tidak atau kurang tepat. Kendati demikian, sayangnya kita masih bertindak tidak tepat, kurang tepat.

Dan, ketidaktepatan itu akhirnya rnenggelisahkan hati kita sendiri. Kemudian, kegelisahan itu pula yang kita tularkan pada lingkungan. Pada masyarakat sekitar kita.

Vadan adalah Buku Kedua dari tiga buku yang ditulis sendiri oleh Hazrat Inayat Khan, Sang Maestro Sufi. Terjemahan dua buku lainnya adalah Gayan dan Nirtan.

Sang Maestro sendiri mcnjelaskan Vadan sebagai “Simfoni Ilahi”. Sebuah simfoni yang melibatkan alam semesta, beserta seluruh isinya, sebuah simfoni yang melibatkan setiap jiwa dan setiap bentuk kehidupan.

buku vadan

Cover Buku Vadan

Demi keharmonisan simfoni ini, jiwa Manusia harus memainkan perannya dengan baik. Ia harus memahami perannya dengan baik. Telinganya harus peka terhadap suara, nada dan irama. Dan, lewat buku ini, Hazrat Inayat Khan membantu kita rneningkatkan kepekaan diri.

Seperti dua buku sebelumnya, untuk yang satu ini pun Hazrat Inayat Khan menggunakan istilah-islilah musik dari tradisi Hindustani sebagai judul bab. Istilah-istilah ini diberi makna esoteris, makna batin oleh Sang Maestro:

Alapa: Wejangan. Scsuatu yang disampaikan secara spontan, tanpa persiapan. Sabda Allah.

Alankara: Ornamentasi. Hiasan. Sebuah ide yang diungkapan dengan indah.

Boula: Lirik. Sesuatu yang clahsyat disampaikan lewat kata-kata sebuah lagu.

Chala: Tema. Sesuatu yang mencerahkan.

Gamaka: Sesuatu yang berasal dari hati penyair dan disampaikannya lewat musik.

Gayatri: Persembahan, doa. Ucapan-ucapan sakral.

Raga: Aransemen. Persembahan Jiwa yang rindu kepada Kekasihnya, Tuhan.

Sura: Sebuah not. Tuhan berbicara lewat jiwa yang telah tercerahkan.

Tala: Ritme. Penyelarasan, pepaduan suara.

Tana: Getaran (suara). Dialog jiwa dengan alam semesta.

Tulisan, wejangan para master bukanlah sekadar esai atau ceramah. Tulisan dan wejangan mereka memicu kebangkitan jiwa kita. Kehadiran seorang Master dalam hidup anda merupakan sebuah peristiwa luar biasa, peristiwa yang patut dirayakan. Kemudian dalam perayaan itu anda akan menemukan dan mendengarkan simfoni Ilahi.

 

ALAPA

Kesenangan, kenikmatan—itukah kasih? Bukan. Kasih adalah kerinduan abadi. Gigih dan tidak pernah lelah, tak pernah letih, berharap dan sabar—itulah kasih. Kasih berarti penyerahan diri kepada orang yang dikasihinya, kepada Sang Kekasih. Kemudian, kesenangan kekasih menjadi kesenangannya; ketidaksenangan kekasih menjadi ketidaksenangannya. Kasih mengajar manusia untuk menaklukkan egonya. Untuk berkata dalam kasih: Bukan aku, tetapi Kamu, kamu, Kamu….

Cinta sejati tak pernah berakhir, karena ia tidak berawal. Yang berawal dan berakhir bukanlah cinta.

Kadang Ia menggunakan tangan seorang teman untuk menyakitimu. Kadang Ia menggunakan wujud seorang musuh untuk menghiburmu.

Pasukanku (yang dimaksud adalah para murid—a.k.), biarlah keberanian menjadi pedangmu dan kesabaran menjadi perisaimu.

Wahai “Rahim-Hati”-ku, wujudkan impianku. (Demikianlah doa para sufi. Mereka tahu persis bahwa yang mengabulkan doa tidak berada di luar diri. Ia bersemayam dalam hati—a.k.)

Setiap jiwa merindukan “Aku mendengar panggilan-“Ku”, Setiap kawan maupun lawan, merasakan perasaanku.

Pikiran-“Ku” telah “Ku”-tanam di atas lahan mind-mu. Kasih-“Ku” berada dalam hatimu. Kata-kata-“Ku” berada di mulutmu. Cahaya-“Ku” menerangi seluruh wujudmu. Perkerjaan-“Ku” telah kuserahkan kepadamu. Seorang Murshid mendengar jelas Sabda Allah seperti ini. Kemudian, ia meneruskannya kepada para murid—a.k.)

Sekian banyak wujud yang telah “Kami” ciptakan semata-mata untuk menyempurnakan wujud manusia.

Pada suatu hari aku bertemu dengan Tuhanku. Maka aku bertekuk lutut dan bertanya, “Wahai Maha Pengasih, Engkaukah menghukum mereka yang berbuat jahat dan memberi ganjaran kepada mereka yang berbuat baik?” Ia tersenyum dan menjawab, “Bukan. Bukan Aku. Mereka yang berbuat jahat mengundang hukuman mereka sendiri. Dan, mereka yang berbuat baik mengundang ganjaran mereka sendiri.” (Ini yang disebut hukum aksi-reaksi, sebab-akibat. Hukum Karma—a.k.)

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s