Renungan Diri: Selama ini Aku Tidak Mengalah, Tetapi Terkalahkan!

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

Bulleh, sebenarnya kau siapa? Aku baru sadar bahwa fakir yang secara kebetulan kutemui di sebuah lorong yang jarang kulewati itu bukanlah seorang fakir biasa. Dia telah membidik bagian yang paling tersembunyi di dalam diriku.

 

  • Ketika aku menjadi seorang pekerja biasa, urusan mengalahmenjadi begitu alami, begitu natural bagi diriku. Bukan karena kemauanku, tetapi karena keadaanku. Bagairnana berdebat dengan atasanku? Aku mengalah karena terpaksa.
  • Ketika aku rnenjadi seorang pedagang, seorang pengusaha,aku mentolerir para pejabat yang korup. Aku mengalah.Mau bagaimana lagi? Jika tidak mengalah, tidak mentolerirmereka, usahaku akan dirongrong, perizinan akan dipersulit, perpajakan akan mencari-cari kesalahan.
  • Ketika menjadi pejabat, aku mengalah pada kelompok-kelompok radikal karena aku butuh mereka saat pemilu.Aku juga tidak mau mereka digunakan oleh lawan po Jika aku tidak merangkul mereka, lawanku akan merangkul mereka. Kelompok-kelompok radikal itu mencelakakan negara. Mereka menciptakan kegaduhan. Tapi, apa boleh buat?
  • Ketika aku mcnjadi seorang pemikir, aku pun terpaksamengalah terhadap sekian banyak orang. Mengapa? Karena aku takut digebuki orang-orang yang tidak bisa menerima pandangan-
  • Aku juga mengalah kepada media. Jika kubeberkan pemikiranku sebagaimana adanya, tanpa diselingi “hiburan”,maka media tidak mau menyebarluaskannya. “Tidak cukupseksi”, demikian kata m

 

Selama ini Aku Terkalahkan Terus. Ya, aku baru sadar bahwa selama ini aku tidak mengalah, tetapi terkalahkan.Terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat. Terkalahkan karena kepentinganku maupun kepentingan orang lain—tapi hanya ketika kepentingan orang lain bertemu dengan kepentinganku sendiri.

Aku terheran-heran dengan kesadaranku sendiri. Dari mana kuperoleh? Aku tidak sedang beribadah, tidak mengucapkan mantra, tidak menyalakan lilin atau membakar hio. Tidak ada bisikan dari siapa-siapa, tidak ada wangsit, wahyu, maupun ilham. Kesadaran ini muncul dari dalam diriku sendiri.

Ya, kesadaran yang kumaksud adalah bahwa selama ini aku selalu terkalahkan oleh berbagai urusan.Tidak pernah mengalah. Kudekati lagi Bulleh Shah, “Katakan Bulleh, siapakah engkau sebenarnya? Kehadiranmu saja sudah mampu memunculkan kesadaran baru di dalam diriku. Kau pastilah bukan orang biasa.”

Bulleh Shah tersenyum, tapi tidak menjawab pertanyaanku. Malah memberi kesan seolah pertanyaanku tidak penting.

Ia Melanjutkan Lagunya…

 

“Kau telah menyia-nyiakan hidupmu dengan rnengejar kemenangan sepanjang usia;

wahai Fakir, sungguh tidak sadar dirimu betapa bahagianya mereka yang mengalah!

“Hanya kerikil segenggam, itulah perolehan mereka yang menang.

“Yang mengalah memperoleh mutiara dan permata; para pemenang memperoleh kerikil tak berharga…

Kau menyia-nyiakan intan demi kerikil segenggam; Seberapa nilainya sehingga erat-erat kau pegang?

“Mereka yang mengalah memperoleh permata, setiap permata tak (erhingga nilainya…

Tapi, apa yang kau tahu tentang semua itu? Kau belum pernah mengalah, belum pernah berguru.

“Wahai Manusia Be-Murshid, wahai Insan Be-Pir, sungguh tersia-sadalah hidupmu selama ini…. ”

 

Bagi Bulleh Shah, scorang Murshid atau Pir adalah ibarat permata Kohinoor atau Bukit Cahaya—permata legendaris asal Hindustan yang menjadi rebutan para raja dan sultan selama ribuan tahun hingga akhirnya diboyong ke Inggris untuk menghiasi mahkota kerajaan. Itulah perolehan utama, parolehan yang tak tertandingi oleh apa pun jua karena, Iewat Sang Guru, ia memperoleh kebijaksanaan dan pengetahuan sejati yang dicari-carinya sepanjang usia.

Kita boleh menolak Bulleh Shah, “Tidak, itu adalah pengkultusan guru. Tidak, kepercayaanku tidak mengizinkan hal itu.”

Penolakan kita, dengan dan untuk alasan apa pun, tidak mempengaruhi kedudukan seorang Guru dalam hidup kita. Maksudnya, dalam hal ini, adalah seorang Guru Sejati atau Sadguru (baca juga Alpha dan Omega Spiritualitas: Japji bagi Orang Modern oleh penulis yang sama, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utarna – Ed.).

Pengetahuan seberapa pun yang kita peroleh, baik lewat jalur pendidikan formal maupun nonformal, adalah berkat bantuan para guru—dari guru TK hingga para guru besar di Universitas.

Ada kalanya, pengalaman-diri berinteraksi dengan kerabat, keluarga, orang asing, masyarakat umum. Bahkan bacaan dan tontonan pun berperan sebagai guru. Sah-sah saja. Guru boleh “berjubah” manusia, boleh juga berjubah lain.

Dari mana datangnya konsep tentang “pengkultusan”? Sumber itu pun, dalam hal ini “kepercayaan” tertentu, adalah Guru.

Pengkultusan, O Pengkultusan! Agar tidak terjadi pengkultusan terhadap Baginda, panutanku, sekelompok ekstremis yang hingga hari ini pun masih berkuasa pernah merencanakan penghancuran makam beliau. Untung, lebih banyak orang di seluruh dunia mengecam rencana tersebut. Lalu, apakah mereka yang mengecam penghancuran itu mesti dituduh telah mengkultuskan Baginda?

Bagaimana dengan mereka yang menghancurkan warisan budaya kuno demi kepercayaan baru? Bukankah mereka telah mengkultuskan kepercayaan baru sedemikian rupa sehingga segala sesuatu yang kuno mesti dihancurkan?‘

Di mana-mana ada kelompok yang berpendapat demikian. Dengan dalih tidak mau mengkultuskan, mereka justru terjebak sendiri dalam pengkultusan apa yang mereka percayai sebagai kebenaran mutlak. Mereka mengkultuskan pemahaman dan pemikiran mereka. Mereka merusak demi apa yan mereka kultuskan itu, kemudian mereka rusak sendiri, hancur sendiri, punah, dan musnah sendiri.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s