Renungan Diri: Menyadari Kebebasan dan Cara Membebaskan Diri dari Keterikatan

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Rahasia Alam Alam Rahasia

Pernah kubaca dalam kitab Yoga Vaasishtha, kumpulan ajaran Guru Vasishtha kepada Sri Rama, putra Raja Dasharatha.

Rama bertanya, ”Guru, kebebasan itu apa? Bila Moksha atau Nirvaana itu disebut Kebebasan Mutlak, apa pula makna kemutlakan?

 

Kenapa saya harus berupaya untuk menyatu dengan Yang Mutlak itu? Bagaimana bila aku baru merasakan persatuan dengan-Nya?”

Vasishtha menjawab lewat cerita-cerita pendek yang cukup populer di jaman itu, cerita-cerita rakyat dari anak benua India.

Vasishtha menjelaskan, ”Janganlah kau bicara tentang Moksha, Nirvaana, Kebebasan Mutlak, dan Kemutlakan. Just think Rama, renungkan betapa bahagianya kamu bila kau memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu.”

Tidak perlu membebaskan diri  “dari” dunia. Bebaskan diri selagi anda berada di dalam dunia. Sadari kebebasan diri anda. Kita tidak pernah bisa membebaskan diri dari dunia, karena dunia dan diri kita terbuat dari bahan baku yang sama. Perhiasan yang terbuat dari emas tidak dapat membebaskan dirinya dari emas.

Dunia dan diri kita berbahan-baku sama – Energi. Membebaskan diri dari dunia berarti membebaskan diri dari bahan baku energi. Membebaskan diri dari dunia berarti juga membebaskan diri dari diri sendiri. Dari energi yang satu dan sama itu.

Kebebasan yang dimaksud Vasishtha bukanlah kebebasan seorang petapa yang ia peroleh dengan meninggalkan keluarga dari rumah. Kebebasan seperti itu tidak berarti apa-apa, karena walau jauh dari keluarga dan rumah, belum tentu anda bebas dari keterikatan dengan rumah dan keluarga. Bisa jadi rumah dan keluarga masih ada dalam pikiran.

“Tidak,” kata Vasishtha, “tidak perlu membebaskan diri dengan cara itu. Bebaskan dirimu dari keterikatan, karena keterikatanmu bersifat ilusif. Keterikatan manusia tidak pada tempatnya. Keterikatan manusia adalah ciptaannya sendiri; tercipta karena ketidaktahuannya.”

“Untuk mengikat diri dengan keluarga dan rumah, kamu harus terlebih dahulu menganggap diri terpisah dari keluarga dan rumah. Padahal kamu tidak terpisah. Kebebasan berarti bebas dari kesalahpahaman seperti itu. Berada dalam medan energi yang sama, dan energi itulah kamu.”

 

 

Rama bertanya, ”Bagaimana menyadari hal itu? Dengan cara apa pula dapat kubebaskan diriku dari keterikatan?”

Rama dapat membedakan pengetahuan dan kesadaran. Dia tahu bahwa dirinya belum sadar. Dia sadar akan ketidaksadaran dirinya. Sungguh luar biasa, tak heran bila orang India menjulukinya sebagai Purushottama—Manusia Utama, hampir sempurna.

Maka berlanjutlah dialog antara Putra Mahkota Rama dan Petapa Vasishtha, antara murid dan murshid:

”Ketahuilah Rama bahwa Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal Pertama adalah Shaanti.” Shaanti sering diterjemahkan sebagai “Kedamaian”, padahal Shaanti juga berarti ”Yang Mendamaikan” atau sekadar “Damai”. Ia yang sudah damai dapat merasakan kedamaian dalam dirinya, dan dapat pula mendamaikan.

Siddhartha Gautama, Sang Buddha menyebutnya Saadhu dalam bahasa Pali, bahasa sehari-hari di jamannya. Saadhu dan Shaanti memiliki arti yang sama: Damai dan mendamaikan – Kedamaian. Sang Buddha selalu menutup wejangannya dengan kata Saadhu.

Bersama ajarannya kemudian kata Saadhu pun berhijrah ke Afghanistan dan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Mengikuti logat warga lokal sana, Saadhu pun mengalami penyesuaian dan menjadi Syahdu.

Saadhu, Syahdu memiliki sesuatu yang melebihi kedamaian biasa. Ada unsur mistis, unsur gaib, something transcendental. Kedamaian yang dimaksud bukanlah kedamaian semu, kedamaian luaran. Yang dimaksud ialah kedamaian dalaman, kedamaian yang berasal dari dalam diri. Dari jiwa sendiri.

Dan, tidak cukup merasakan kedamaian dalam diri saja. .. Kedamaian yang anda rasakan harus dapat anda bagikan. Temanku selalu berkata, “Be Joyful and Share Your Joy with Others”. Tidak cukup menjadi ceria atau joyful, keceriaan atau jaofulness itu harus dapat anda sebarkan pula. Salah seorang pendengarannya agak tuli barangkali. Ia hanya menangkap dua kata pertama saja, “Be Joyful”. Dan, dengan selalu mengkritik pandangan orang, meremehkan kepercayaan orang, dia sudah merasa joyful; ya terpaksa harus ditegur, “Kamu sih sudah ceria, bagaimana dengan mereka yang kau kritik, yang kau remehkan?

Ceriakah mereka?”

Anda boleh ceria, ulah anda belum tentu menceriakan. Anda boleh damai, ulah anda belum tentu mendamaikan. Tentunya anda tidak dapat menceriakan dan mendamaikan setiap orang, setiap saat. Setidaknya anda dapat berupaya.

Damai itu juga sabar. Adakah kesabaran dalam diri anda? Bila tidak, anda belum cukup damai.

Damai selalu mempersatukan. Ia tidak memecah belah. Ia tidak percaya pada kubu-kubuan, klik-klikan. Ia tidak eksklusif. Ia menerima perbedaan dan merangkul semuanya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s