Renungan #Gita: Kematian pada Periode Konstelasi Matahari Tertentu Membuat Kita Lahir Kembali?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 8:25

“Asap atau kabut, waktu malam Amavasya (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogi meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:25

 

Adalah penting untuk kita pahami bahwa masa yang dimaksud tidaklah melulu sesuai dengan kalender kita. Mati di antara 14 Januari s/d 12/13 Juli: Bebas. Mati antara 14 Juli s/d 13 Januari:Balik!

TIDAK. TIDAK SELALU DEMIKIAN – seseorang yang telah mengenal, menyadari, menginsafi hakikat dirinya seperti seorang pelancong yang sudah tahu jalan, tidak perlu ikut group untuk berpesiar. Dia bisa jalan sendiri.

Turis-awal, biasanya selalu mencari biro perjalanan, dan memercayakan seluruh agenda perjalanannya kepada mereka. dia tinggal bayar, dan ikut saja.

Sebaliknya seorang turis yang sudah terbiasa, mengatur sendiri agenda perjalanan. Memesan hotel sendiri, beli tiket sendiri yang relatif lebih murah.

Perjalanan turis-awal barangkali lebih nyaman, tapi belum tentu ‘senikmat’ turis adventuris yang mengatur sendiri semuanya.

Jadi,

“JADWAL-JADWAL KEBERANGKATAN” dalam dua ayat ini, sesungguhnya mesti diartikan sebagai Jadwal Keberangkatan Group-Tour. Pilihan di tangan kita, ikut group atau jalan sendiri sewaktu-waktu.

Asap, malam hari dan bulan mati/gelap adalah menandai ‘keraguan’ seorang Yogi. Hal ini perlu kita kupas dan pahami sedikit.

 

Pertanyaannya, apakah seorang Yogi, seorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga, masih tetap ragu, bisa bimbang?

Jawababnnya : Tidak. Titik. Tegas. Jelas.

Ayat-ayat ini adalahditujukan kepada para praktisi Yoga, Yogi dalam pengertian, para pelaku, parapraktisi yang sedang berupaya.

Dalam dialog antara Krsna dan Arjuna ini, Krsna adalah seorang ‘Yogi’ yang telah mencapai kesempurnaan. Dan, ia sedang mengajak, merayu Arjuna untuk menggapai kesempurnaan yang sama.

Kadang kita membaca suatu buku yang kita sangat sukai, dan mengharaapkan kawan baik kita membacanya juga. Kadang kita mengalami sesuatu yang indah, dan ingin orang yang kita cintai mengalaminya juga. Krsna adalaah seorang Yogi yang telah siddha – mencapai kesempurnaan – dan ingin berbagi pengalamannya dengan Arjuna yang belum mencapainya.

Untuk itu Krsna menjelaskan…

KENDALA-KENDALA DALAM PERJALANAN – Apa yang membuat seorang Yogi tidak mencapai kesempurnaan, dan mengalami kematian mesti mengalami kelahiran-ulang. Kendala utamanya adalah:

  • Pertama ; Asap, Kabut keraguan
  • Kedua : Malam Hari, Kemalasan
  • Ketiga : Amavasya, Bulan mati mewakili gugusan dan perasaan yang satis, tidak

dinamis, tidak kreatif

Para Karma Yogi – mereka yang bekerja tanpa pamrih – menjadi dinamis dan kreatif. Sebaliknya, para petapa di tengah ‘hutan’ bisa menjadi sebaliknya. Saya katakan ‘bisa’ karena tidak semuanya demikian. Berada di tengah hutan, jauh dari keramaian, seorang Yogi masih bisa berkarya. Ia masih tetap bisa menjadi dinamis dan kreatif. Bahkan, melebihi Karma Yogidi tengah keramaian dunia. Ia menjadi Super Karma Yogi!

Seorang petapa yang senantiasa memusatkan kesadarannya bagi kebaikan sesama – menelurkan Veda, pengetahuan sejati yang dapat membantu bukan saja umat manusia tapi juga makhluk-makhluk lain baik di planet ini maupun dari planet-planet lain, alam-alam lain yang kebetulan sedang berkunjung.

Duduk diam mereka pun lebih dinamis daripada kerja keras kita sepanjang hari, sepanjang hidup.

Kembali pada mereka yang masih “bingung” – dan barangkali mayoritas di antara kita berada dalam kelompok ini. Kegelapan, kabut gugusan pikiran dan perasaan kita – jika kita adalah “pelaku Yoga” sepanjang hidup – “diserap” oleh cahaya bulan yang walau tidak sempurna, bukan bulan purnama, tetap saja mengeluarkan cahaya lembut.

Ini adalah bekal dan berkah bagi seorang Yogi. Tetap diserap – apanya yang diserap? Keraguannya. Jiwa mengalami kelahiran kembali minus pengalaman rau dan bimbang. Demikian dalam kehidupan berikutnya, ia bisa melanjutkan perjalanan tanpa kelemahan-kelemahan sebelumnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku yoga sutra patanjali

Perhatian:

Penjelasan Krishna ini ditujukan kepada para Yogi. Untuk bisa menjadi Yogi silakan menjalani panduan pada buku: (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s