Renungan Masnawi: Sudah Beramal Saleh? Kisah Syaikh, Penjual Kue dan Penagih Hutang

 

buku masnawi rumi-meditatinhg-kit

Jalaluddin Rumi

Seorang Shaykh yang murah hati menjual segala sesuatu yang dimilikinya untuk membangun tempat peristirahatan bagi para darvish, para sufi, para pencari Kebenaran. Sampai-sampai, dia harus berhutang untuk itu.

Kerelaannya untuk mengorbankan segala sesuatu demi para pcncinta Allah, persis seperti kerelaan Ismail mengorbankan kepalanya demi Allah. Dan, sebagaimana Ismail memperoleh perlindungan dari Allah, dia pun selalu dilindungi oleh Allah. Ada saja uang yang masuk, sehingga dia bisa meneruskan bantuannya terhadap para darvish.

Nabi pernah bercerita tentang dua malaikat yang senantiasa berdoa agar Allah memberkahi mereka yang murah hati dan rnenyadarkan mereka yang kikir.

 

Bunyi doa para malaikat sebagaimana diterjemahkan oleh Nicholson agak berbeda: “OGod, do Thou give the prodigal a boon in return, and O God do Thou give the misserly a bane (in return).”

Berarti, “O Tuhan, berkahilah si dermawan; dan kutuklah mereka yang kikir.”

Bagi saya, istilah “kutuk” ini memiliki beberapa sisi. Kutukan manusia bisa mencelakan,  bisa juga tidak. Seseorang mengharapkan agar saya celaka. Kebetulan saja, jika saya mendapatkan musihah, saya akan berpikir, “Sialan, saya ini kena kutukan dia.” Jika tidak terjadi sesuatu, kutukan yang  sama akan saya anggap enteng, “Kutukan tinggal kutukan. Semuanya di tangan Tuhan.  Buktinya, nggak kena kan?!”

Berarti, Kutukan manusia “tidak Berarti” sama sekali. Bisa kena, bisa tidak. Kalau “kena” pun belum tentu “kena” — karena bisa saja kebetulan. Sebaliknya, kalau “tidak kena” juga belum tentu “tidak kena” karena bisa saja “belum kena”!

Di lain pihak, “kutukan” Allah tidak bisa  disamakan dengan “kutukan” manusia. Bila  Allah “hendak” mencelakakan, tanpa kutukan pun, bisa celaka. Untuk apa “mengutuk”? Adakah seorang ibu yang mengutuk anaknya? Setidaknya, saya tidak pernah mendengar satu pun kejadian seperti itu. Adakah orangtua yang mengharapkan  agar anaknya celaka? Sepertinya helum ada kasus seperti itu. Lalu, jika mereka yang menjadi “perantara” bagi kelahiran saya tidak bisa melakukan hal seperti itu, apalagi Allah yang menyebabkan terjadinya kelahiran!

Istilah “Kutukan Allah” harus diartikan kembali. Kutukan Allah adalah “upaya” Allah untuk mengembalikan kita pada jalan yang lurus. Kutukan Allah bagaikan teguran bagi kita yang tersesat. Kutukan Allah adalah pertanda Kasih serta Kepeduliannya terhadap kita.

Kembali pada kisah Shaykh yang murah hati:

 

Demikian, Shaykh yang murah hati itu berderma terus sampai hari-hari terakhir hidupnya. Menjelang akhir hayatnya, dia menyadari adanya tanda-tanda kematian dan bahwa tidak lama lagi dia akan meninggalkan dunia ini. Sementara itu, dia masih berhutang 400 dinar dan mereka yang meminjamkan uang datang bersama untuk menagihnya. Mereka pun sudah bisa merasakan bahwa sebentar lagi Shaykh akan wafat. Desakan mereka untuk segera melunasi hutangnya membuat Shaykh mengeluh, “Ya Allah, apakah Engkau tidak memiliki 400 dinar untuk dibayarkan kepada mereka ini?”

Sementara itu, seorang anak  kecil penjual kue melewati padepokan Shaykh, “Kue Halwa, kue Halwa (semacam dodol, sangat populer di Iran dan sekitarnya—a. k.) .”

Si Shaykh berpikir, “Jika saya menyuguhkan Halwa kepada para penagih hutang ini, mungkin mereka akan duduk tenang untuk beberapa saat.” Maka dia menyuruh seseorang untuk memanggil  Si Penjual Kue.

Berapa untuk semuanya?” tanya Shaykh kepada anak kecil yang menjual kue itu. Masih sempat terjadi tawar-menawar sedikit. Akhirnya, disepakatilah harga setengah dinar untuk seloyang kue.

“Tolong berikan kue itu kepada mereka,”kata Shaykh kepada Si Penjual Kue, sambil menunjuk para penagih hutang.

Sebentar saja dan kue seloyang pun habis dimakan. Maka Si Penjual Kue mengambil kembali Ioyangnya dan mendatangi Shaykh untuk menagih setengah dinar yang dijanjikan.

“Tetapi saya tidak punya uang. Dan tidak lama lagi, saya akan meninggalkan dunia fana ini,” kata Shaykh.

Sambil mencaci maki Shaykh, anak kecil itu mulai menangis, “Dasar sial nasibku; kenapa aku melewati padepokan ini? Seharusnya aku tahu bahwa para sufi itu semuanya berjiwa anjing—serakah. Untuk apa kalian berdoa dan mengambii air wudhu? Kucing-kucing jalanan yang sering mencuci muka dengan air kotor lebih baik daripada kalian.”

Mendengar tangisan anak itu, salah seorang di antara para penagih hutang mendekati Shaykh, “Permainan apa lagi ini? Engkau sudah berhutang 400 dinar dan tidak bisa melunasinya. Sekarang menambah hutang setengah dinar lagi, padahal sudah tahu bahwa sebentar lagi engkau akan mati.”

Shaykh sama sekali tidak menanggapi mereka. Malah memejamkan matanya. Wajahnya tenang, berkilau. Seperti wajah bulan yang tidak terpengaruhi oleh gonggongan anjing. Seperti Mustafa yang tidak terpengaruhi oleh cacian dan rnakian para musuhnya. Seperti Yesus yang tidak ambil peduli terhadap mereka yang menarik janggutnya (= menghinanya, peribahasa dalam bahasa Parsi-a.k.).

Berapa besar sih nilai uang setengah dinar? Dengan rnudah, para penagih hutang itu bisa membayar Si Penjual Kue, tetapi pikiran semacam itu tidak terlintas dalam benak mereka, karena tidak dikehendaki oleh Shaykh.

Seusai shalat tengah hari, seorang pelayan mendatangi Shaykh dengan membawa sebuah baki dari majikannya. Sepertinya, si majikan itu pun seorang dermawan dan sudah mendengar banyak tentang kemurahan hati Shaykh. Maka dia mengirimkan sejumlah uang untuk Shaykh. Kirimannya ternyata persis 400 dan setengah dinar!

Para penagih hutang menyadari kesalahan mereka dan merasa malu sekali, “Mohon memaafkan kami. Sesungguhnya kami pun tahu bahwa uang yang anda pinjam tidak digunakan untuk keperluan pribadi. Seharusnya, kami tidak menagihnya lagi.”

“Tidak apa,” kata Shaykh, ”sebagai orang-orang yang meminjamkan uang, menagih itu merupakan kewajiban kalian.”

 

Anda pikir anda “bisa” menyumbang, “bisa” beramal-saleh, “bisa” berderma?  Tidak, anda tidak “bisa” melakukan semua itu, jika tidak “diberi” kesempatan oleh Tuhan.

Sementara ini, anda belum “memperoleh” kesempatan untuk berderma, untuk beramal saleh, untuk menyumbang. Jangan kaget, jangan tersinggung—lakukan introspeksi diri. Anda berderma untuk apa? Menyumbang untuk apa? Beramal-saleh untuk apa? Jika untuk “menagih” surga, anda hanyalah seorang penagih hutang. Jika untuk “memperoleh” ganjaran dan pahala, maka hubungan anda dengan Keberadaan—dengan Tuhan, dengan Allah, dengan “Apa” pun sebutan anda bagi ”Dia”—hanyalah hubungan antara “peminjam” dan ”penagih”.

Anda tidak lebih baik daripada para penagih hutang yang mendatangi Shaykh dan mendesak dia untuk melunasi pinjamannya.

Pikirkan!

Jika anda menyumbang, berderma, dan beramal-saleh “bukan karena kewajiban”, “Bukan pula untuk mendapatkan imbalan”, ketalzuilah bahwa Allah telah “memberikan” kesempatan itu kepada anda! Berbahagialah bahwa di antara sekian banyak penagih hutang, pemberi pinjaman dan rentenir, andadipilih  untuk menjadi “pencinta”!

Dalam kisah ini, para penagih hutang mendapatkan kembali hutang mereka. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Demikian pula keadaan anda, jika anda berdagang dengan Allah. Apa yang anda berikan “dengan nama” Dia akan diberikan kembali kepada anda. Tidak lebih, tidak kurang.

Terserah anda—apa mau anda?

Hubungan seperti apa yang anda inginkan dengan Tuhan? Hubungan antara kekasih dan yang dikasihi, atau hubungan antara peminjam dan penagih?

Rumi melanjutkan kisahnya:

 

Shaykh menjelaskan kepada para penagih hutang, “Jangan menganggap kecil nilai setengah dinar yang ditangisi oleh penjual Halwa. Tangisannya menjadi pemicu, sehingga Allah mengirimkan uang ini.”

 

Uang 400 dinar bagi para penagih hutang mungkin tidak terlalu besar. Mereka tidak akan menjadi bangkrut, jika tidak memperoleh kembali uang itu. Tetapi, bagi si penjual Halwa, uang setengah dinar bernilai besar sekali. Tangisan dia lebih bermakna daripada desakan para penagih hutang.

Seperti biasa, Rumi berbelok lagi dan mengajak kita untuk melihat sisi lain dari kisah yang sama ini:

 

Anak kecil itu mewakili mata kita. Kerinduan hati terhadap Allah haruslah terungkapkan lewat airmata, lewat tangisan. Untuk memperoleh “Jubah Kehormatan” dari Dia, tangisilah “Jubah Badan”-mu.

“Jubah Badan” adalah ”kesadaran rendah” dalam diri kita. Menangisinya berarti merasa jenuh dan muak dengan instink-instink hewani dalam diri. Kemuakan seperti itu, kejenuhan seperti itu, akan menjadi pemicu bagi peningkatan kesadaran.

“Jubah Kehormatan” berarti “Kesadaran Ilahi”. Puncak dari segala pengalaman. Jika anda cukup puas berada di kaki gunung, tidak perlu naik gunung. Lupakan puncak. Tetapi jika anda sudah jenuh berada di bawah, mulailah mendaki Gunung Kasadaran. Puncak Keilahian sedang menunggu anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s