Renungan #Yoga Patanjali: Dualitas, Benih Perpecahan adanya Aku dan Kamu, Sumber Penderitaan

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Patanjali

“Maitri, Menumbuhkembangkan Persahabatan; Karuna, Kasih; Mudita, Keceriaan; serta Upeksa atau Tidak Membedakan dan tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan, seperti suka-duka, kebaikan-kebatilan, dan sebagainya. Dengan cara inilah citta atau benih-benih pikiran serta perasaan menjadi jernih, dan tidak terganggu lagi aleh segala pemicu di luar maupun di dalam diri.” Yoga Sutra patanjali I.33

Semua itu: Persahabatan, Kasih, Keceriaan, dan Pelepasan segala konflik yang tercipta oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan adalah laku, sesuatu yang mesti dilakoni, di-“kerja”-kan, dipraktikkan.

TIDAK CUKUP BILA KITA SEKADAR MEMAHAMINVA. Tidak mernbantu sama sekali. Malah, pemahaman seperti itu dapat menirnbulkan ego atau arogansi pengetahuan, “Aku sudah tahu semua.” Ego semacam itu sangat membahayakan sadhana, laku spiritual. Ego seperti itulah yang rnengikat Jiwa dengan badan dan alam benda.

Ya, mengikat.

Sesungguhnya, segala laku itu bertujuan satu saja, yaitu Kebebasan Diri, kebebasan dari identitas palsu, identitas jasmani, dan meraih kembali identitas diri yang sejati. Yaitu, identitas diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung. Itulah goal dari permainan kehidupan, dari game, permainan yang melibatkan Alam Semesta.

SEDIKIT TENTANG UPEKSA, TIDAK MEMBEDAKAN, atau tidak terpengaruh oleh segala sesuatu, segala benda, segala pengalaman yang saling bertentangan.

Urusannya tidaklah sebatas suka-duka, dan baik-buruk atau bajik dan batil saja. Urusannya adalah dengan seluruh range pengalaman-hidup.

lni punyaku, itu bukan; ini milikku, itu bukan; seperti inilah aku, aku lain dari kamu, inilah pikiranku, seperti inilah perasaanku—kamu lain; ini putraku, takhtaku, mahkotaku, hartaku—sedang yang itu, adalah punyamu, milikmu.

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

MAITRJ, PERSAHABATAN; KARUNA, KASIH; DAN MUDITA, KECERIAAN adalah penawar segala konflik. Memang itulah solusinya. Tetapi, menerjemahkan solusi itu dalam keseharian hidup tidaklah mudah.

Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kita ber-“slogan” One Earth, One Sky, One Humankind—Satu Bumi, Sam Langit, Satu Umat Manusia. Syarat pertama Maitri atau Persahabatan sudah terpenuhi, setidaknya demikian anggapan kita. Tetapi saat menghadapi kenyataan di sekitar kita, di mana si sipit dan si belo dan si bule lebih berhasil dibandingkan dengan kita, maka terlupakanlah slogan yang telah kita ulangi selama bertahun-tahun ini. Muncul rasa iri, cemburu. Kenapa mereka lebih berhasil dibanding kita?

“Love is the Only Solution”—Cinta-Kasih adalah satu-satunya solusi. Syarat kedua Karuna pun rasanya terpenuhi. Tetapi, saat mempraktikkannya? Bagaimana menyikapi seseorang yang tidak memahami bahasa kasih? Apakah mesti mengasihi nyamuk demam berdarah atau anjing gila?

Dengan bekal slogan “Be Joyful and Share Your Joy with Others”—Jadilah Ceria dan Bagilah Keceriaanmu dengan Siapa Saja—rasanya syarat ketiga tentang Mudita terpenuhi. Ya, terpenuhi sebatas slogan. Praktiknya? Apa bisa mum ceria dan berbagi keceriaan ketika orang yang dibagi keceriaan malah menyerang balik?

SANGAT SULIT MEMPRAKTIKKAN KETIGA LAKU TERSEBUT tanpa terlebih dahulu membebaskan diri dari “pengaruh dualitas”—Upeksa. Untuk itu, kita mesti menembus kesadaran jasmani.

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am.

Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

NAMASTE ATAU NAMASKARA MUDRA—Patanjali selalu digambarkan dalam sikap, dalam mudra seperti ini. Kedua tangan tercakup dalam Namaskara.

Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi.

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku.

Jadi, jangan sekadar mencakup kedua tangan dan menunjukkan sikap Namaskara Mudra. Sikap ekstemal atau luaran seperti itu tidak cukup, belum cukup. Sambil mengambil sikap demikian, Kesadaran Tat Tvam Asi mesti timbul, mesti ditimbulkan. Juga dipupuki terus-menerus, ditumbuhkembangkan.

PATANJALI SELALU MENITIKBERATKAN ABHYASA atau Laku, bahkan Praktik secara Intensif dan Repetitif. Laku Namaskara, atau Namaskara Sadhana ini adalah Laku Pertama sekaligus Utama yang mesti dilakoni setiap setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual, setiap pejalan.

Lepaskan kebiasan berjabat tangan; kebiasaan pipi kanan dan pipi kiri; kebiasaan-kebiasaan bersalaman yang hanya menitikberatkan interaksi fisik.

Mulai sekarang, abhyasa—lakoni Namaskara Sadhana, Bersalaman dengan Cara Patanjali, sebagaimana telah dijelaskan di depan. Kemudian, sebagai hasil dari Namaskara Sadhana ini, praktik Upeksa menjadi mudah. Melakoni Maitri, Karuna, dan Mudita pun menjadi gampang.

Setelah itu, barulah kita memahami secara bijak implikasi maitri, karuna, dan mudita. Anjing-anjing yang sedang menggonggongi kita mungkin lapar. Tidak perlu digonggongi kembali. Pun, tidak perlu ditakuti atau dibenci. Tidak perlu ditendang, dipukul, atau ditembak. Tapi, juga tidak perlu dibawa ke dalam rumah dan diperlakukan sebagai anak. Tidak, sikap-sikap yang demikian bukanlah sikap bijak. Anjing adalah anjing. Menggonggong adalah kodratnya. Adalah kodratnya pula untuk hidup sebagai anjing. Hormatilah keinginan dan kebutuhan Jiwa yang sedang menjalani kehidupan sebagai anjing. Berilah kepadanya doggie biscuit—itulah kebutuhannya. Tidak perlu dikeloni.

KITA SERING MENYALAHPAHAMI KARUNA ATAU KASIH, menyalahartikannya, dan malah menjadi penghalang bagi evolusi makhluk-makhluk lain dengan memperlakukan mereka secara tidak bijak. Kita pikir sudah berbuat hebat jika mengasihi hewan dengan memperlakukan mereka “sebagai manusia”. Kita tidak sadar bila Jiwa yang sedang mengalami kehidupan anjing itu memang membutuhkan pengalaman tersebut. Dengan mengubah pola hidup anjing, kita justru menjerumuskan Jiwa yang bersemayam di dalam dirinya. Dia mesti lahir kembali sebagai anjing untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang telah kita rampas dalam kebodohan dan ketidaksadaran kita.

Arti sesungguhnya dari Maitri, Karuna, dan Mudita hanya dapat dipahami setelah melakoni Namaskara Sadhana, setelah menyadari makna Tat Tvam Asi. Sebelumnya, kita hanya meraba-raba. Kita tidak memahami makna sebenarnya sehingga mencelakakan diri sendiri, dan mencelakakan makhluk-makhluk yang berinteraksi dengan kita.

Kata-kata ini adalah kata-kata hidup, dinamis. Bukan konsep yang sudah dibakukan, bukan dogma atau doktrin yang sudah ditentukan. Kata-kata ini bukanlah kata-kata mati. Setelah menjalani Namaskara Sadhana, setiap saat kita akan menemukan makna  baru dari kata-kata ini. Setiap situasi adalah unik, dan membutuhkan pemahaman yang unik pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/07/19/merangkapkan-telapak-tangan-menghormati-tuhan-dalam-diri-orang-yang-kita-temui/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

One thought on “Renungan #Yoga Patanjali: Dualitas, Benih Perpecahan adanya Aku dan Kamu, Sumber Penderitaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s