Renungan Diri: Praktekkan Zikr dan Keseimbangan Diri menuju Kebahagiaan Sejati

buku bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

Keempat: Japa atau zikir. Japa tidak berarti sekadar mengucapkan nama Allah, tapi mengucapkan apa saja dalam kesadaran ilahi. Tidak hanya mengulangi Nama-Nya, tapi hidup di dalam-Nya. Nama, kata, atau kalimat apa saja yang kau gunakan sebagai sarana japa ibarat password untuk mengakses Allah. Dapatkah kau mengakses-Nya dengan password yang kau miliki? Pernahkah kau berusaha untuk mengakses-Nya? Atau, jangan-jangan kau tidak tahu bahwa Allah dapat diakses. Kau pikir hanya nama-Nya saja yang dapat diucapkan, diulangi. Allah bahkan dapat dirasakan… Dirasakan kehadiran-Nya. Wangi-Nya dapat kau cium. Wajah-Nya dapat kau lihat. Firman-Nya dapat kau dengar. Ia Maha Hidup. Kau dapat melihat tanda-tandanya bertebaran di mana-mana.

Akhanda-Japa seperti itulah yang dimaksud Shankara. Japa yang tidak pernah berhenti, tidak pernah putus—akhanda.

Kau dapat melakukan Japa di mana saja, kapan saja. Yang kumaksud tentunya Japa ala Shankara yang telah melampaui  dualitas baik-buruk. Namun sebagai pemula kau juga dapat memilih waktu untuk menunjang latihanmu. Misalnya waktu pagi antara pukul 04.00-06.00 sangat kaik. Alam sekitarmu  masih tenang, dan gelombang otakmu saat itu sedikit banyak terpengaruh oleh keadaan alam di luar. Tentukan terlebih dahulu Mantra, Maanas-Yantra atau “alat untuk mengendalikan pikiran yang akan kau gunakan. Mantra atau alat ini sebaiknya kau sesuaikan dengan “kepercayaanmu”—tidak perlu meninggalkan satu kepercayaan dan memeluk kepercayaan lain. Ya Allah Hu, Jesus sweet Jesus, Om Mani Padme Hum, Om Namah Shivaaya…. apa saja. Asal kau tidak melakukannya secara mekanis. Ulangi dalam hati sembari menghayati makna setiap kata yang kau ucapkan. japa selama minimal 3 menit atau maksimal 20 menit setiap hari sudah cukup untuk menciptakan keseimbangan di dalam dirimu. Sebelum japa kau dapat melakukan pernapasan perut sebagaimana telah kuberikan di bagian Praanaayaama.

 

Kelima: Samadhi atau keseimbangan diri bukanlah sesuatu yang perlu kau upayakan. Samadhi justru “terjadi sendiri” sebagai hasil dari olah diri yang telah kau lakukan. Kemudian, keadaan samadhi inilah yang membahagiakan manusia.

“Pengendalian diri dan pembebasan dari nafsu; Pemahaman tentang yang langgeng dan yang semu; Zikr dan keseimbangan dirilah yang dapat membahagiakanmu; untuk mempraktekkanya,gunakan segenap energimu.”

Olahraga dapat kau tunda sekali-kali. Olah diri tak dapat kau tunda. Sebetulnya, olah raga pun merupakan bagian dari olah diri. Dan, kau bisa menambah apa saja sebagai bagian dari olah dirimu; Shankara tidak berkeberatan. Misalnya, aku jadikan tulis-menulis sebagai bagian dari olah diriku….. Tulis—menulis bukanlah bagian dari pekerjaanku. Aku banyak belajar dari tulisanku sendiri. Ide-ide yang muncul saat aku menulis kadang terasa asing bagi diriku sendiri. Kadang tanganku tergerakkan dan aku dapat menyelesaikan puluhan halaman dalam empat jam. Kadang tanganku tak tergerakkan, dan empat halaman pun belum tentu selesai. Whatever be the case, proses olah diri berjalan terus. “Gunakan segenap energimu untuk rnempraktekkannya,” kata Shankara

Gunakan segenap energimu, karena kau membutuhkan energi dalam jumlah yang cukup besar. Olah diri bukanlah latihan biasa. Olah diri rnenuntut komitmen penuh dan disiplin yang tinggi. Ada baiknya juga bila sekali-kali melakukan latihan bersama. Dengan berlatih bersama kita dapat menciptakan kolam energi — Pool of Energy. Dengan itu, kita tinggal berenang bersama dalam kolam itu. Mereka yang melakukan rneditasi bersama di ashram tahu persis apa yang saya maksudkan. Tidak berarti anda menciptakan kebiasaan baru, lalu tidak bisa meditasi kalau tidak di ashratn. Tidak demikian, bukan itu maksudku. Keberadaan setiap peserta meditasi di ashram justru membebaskan jiwanya, tidak membelenggu dirinya. Energi meditasi itu sendiri adalah energi  yang membebaskan. Ungkapan ini agak vulgar sedikit, tapi tepat sekali umuk menjelaskan apa yang terjadi di ashram: The World Screws You, Meditation Unscrew: You. Ada kalanya kata screw diigunakan untuk  f…k. Memang demikian adanya, dunia benda f…ks you. Persis seperti skrup, diputar ke kanan, kau terikat dengan dunia benda. Diputar ke kiri, kau terbebaskan dari keterikatan. Puraran kita di ashram adalah putaran kiri, putaran yang membebaskan.

Di luar sana pun ada kolam energi, tetapi energi di sana bukanlah hasil meditasi. Energi di luar sana adalah hasil friksi, hasil konflik, hasil clash of egos. Pilihan sepenuhnya ada di tanganmu, mau energi yang mana…….

Energi meditasi berasal dari dirimu sendiri, hasil aksesrnu dengan Sumber Scgala Energi dan tidak terbatas. Energi hasil friksi mengandalkan konflik dengan pihak lain. Kau harus bersaing dan berhantam untuk memperolehnya. Dan perolehanmu tetap saja terbatas. Oleh karena itu, energi hasil friksi menciptakan ketergantungan. Energi meditasi tidak.

Energi hasil friksi seperti minyak solar. Energi hasil meditasi seperti premix murni tanpa timbel. But how will you know the difference? Kau tidak dapat rnembedakan yang satu dari yang lain, bila belum pernah mencoba keduanya. Selama ini kita baru bekendaraan diesel, hidup kita penuh timbel…. segala macam keterikatan membebani mesin jiwa kita. Cobalah hidup dengan energi meditasi, dengan penuh kesadaran – kau akan menyayangkan masa silam yang telah kau lewatkan tanpa kesadaran.

Recharge bateraimu dengan energi meditasi. Betapa seringnya kau melakukan recharging tergantung pada kebutuhanmu, pemakaianmu. Teman-teman kita di ashram yang sibuk dengan Forum Kebangkitan Jiwa, Institut Pendidikan Holistik, Sufi Mehfil, Yoga Purnima dan sebagainya, saya anjurkan melakukan recharging setiap hari. Bahkan sehari dua kali jika perlu.masih ditambah dengan “program renang bersama” dalam kolam energi di ashram setidaknya satu kali setiap minggu.

Begitu canggihnya mekanisme diri manusia: bila kita tidak melakukan recharging pada waktunya, ia akan menarik energi dari sumber terdekat. Kemudian tergantung pada sumber terdekat anda siapa. Bisa juga dari kebun, dari pohon, atau berita-berita di koran, dan tontonan teve. Apa saja, siapa saja bisa menjadi sumber energi. Mekanisme otomatis ini bisa merupakan berkah sekaligus serapah. Ya, dua-duanya. Berkah, karena anda tidak pernah keurangan energi. Serapah, karena anda tidak selalu dapat memilih sumbernya.

Oleh karena itu, sebelum terjadi kekosongan dan diri anda menarik energi dari sumber mana saja, dengan penuh kesadaran masukilah alam meditasi and recharge your batteries.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Tautan terkait sebelumnya:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/10/25/renungan-diri-menemukan-sumber-kebahagiaan-via-pengendalian-diri-dan-pembebasan-dari-nafsu/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s