Renungan Diri: Menemukan Sumber Kebahagiaan via Pengendalian Diri dan Pembebasan dari Nafsu

buku bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

“Pengendalian diri dan pembebasan dari nafsu; Pemahaman tentang yang langgeng dan yang semu; Zikr dan keseimbangan dirilah yang dapat membahagiakanmu; untuk mempraktekkanya,gunakan segenap energimu.” Terjemahan Bhaja Govindam ayat 30 dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Lalu apa yang dapat membahagiakan diriku? Bila harta benda, sanak saudara, kerabat dan keluarga, tak satu pun dapat membahagiakanku, apa yang harus kulakukan? Pilihan kita tidak terlalu banyak. Hanya dua saja…… masuk ke dalam alam depresi berat dan berakhir dengan bunuh diri, atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan di dalam diri.

Pilihan pertama membebaskan anda dari penderitaan duniawi, dari pcnderitaan di dunia ini. Pilihan kedua membebaskan anda dari penderitaan itu sendiri. Kemudian anda berada di alam ini atau alam sana tidak menjadi soal.

Bila masih berkesadaran fisik murni, kita akan memilih yang pertama. Lihat saja the so called spiritual groups yang sesungguhnya masih sangat material, physical, belum spiritual. Baik aksi bunuh diri maupun aksi pernbunuhan yang mereka lakukan menjadi bukti bagi kesadaran mereka yang masih berada pada tataran fisik murni. Untung tidak banyak di antara kita yang berkesadaran scperti itu. Setinggi-tingginya angka kematian karena bunuh diri atau karena dibunuh, masih jauh lebih tinggi mereka yang mati karena sakit atau karena kecelakaan.

Jumlah mereka yang memilih alam meditasi juga tidak terlalu banyak, bahkan kurang dari mereka yang memilih opsi bunuh-membunuh. Lalu apa yang terjadi dengan mayoritas? Mayoritas umat dunia berada dalam keadaan limbo, tidak berani memilih. Pilihan pertama terasa terlalu berat, sementara untuk pilihan kedua mcreka belum siap. Kelompok mayoritas ini yang kemudian pusing sendiri. Mau ke mana? Mereka seolah kehilangan arah. Untung ada seorang Shankara dalam setiap zaman. Seorang Shankara adalah pahlawan sejati. Ia berada di tengah klta untuk rnenuntun kelornpok mayoritas keluar dari alarn limbo.

Tidak cukup dengan kata-kata, cara apa saja akan ia gunakan untuk membantu kita. Shankara, Sang Penyanyi Agung Bhaja Govindam ini juga membcri kita beberapa metodc, cara untuk keluar dari alam limbo.

Pertama: Praanaayaam atau pengendalian diri. Ada yang menerjemahkan Praanaa sebagai napas, kemudian olah napas atau pengaturan napas itu yang dianggapnya Praanaayaam. Tidak demikian. Praanaa bukanlah napas, tetapi Life Force—Kekuatan yang Menjadi Sumber Kehidupan. It is “The Energy”. Energi Semesta dan energi di dalam diri sesungguhnya satu dan sama, tetapi yang berada di dalam diri manusia sudah mempcroleh sifat manusia. Lebih spesifik lagi “manusia siapa”—manusia-aku, manusia kamu, manusia-dia, atau manusia-mereka. Energi yang berada di dalam diri makhluk-makhluk hidup lainnya pun sudah memiliki sifat mereka. Energi yang ada dalam pepohonan, bebatuan, air, angin, api, tanah, dan lain sama semuanya, yaitu sudah memiliki sifat mereka.

Praanaayaam tidak berarti pengaturan napas, tetapi pengendalian diri, pengendalian hidup. Nah, untuk itu bisa jadi kau perlu mengatur napasmu. Perlu mengubah dietmu. Perlu memperbaiki pola hidup secara menyeluruh. Banyak hal yang perlu kau lakukan.

  • Mulailah dengan napas, karena itulah modal utama yang kau miliki. Tarik napas pelan-pelan, buang napas sepelan mungkin….

Setiap menarik napas, kembungkan perutmu. Buang napas, kempiskan perut. Gunakan hidung baik untuk menarik maupun membuang napas. Lakukan selama kurang lebih 10 menit setiap pagi, dan 10 menit setiap sore. Pagi, sebaiknya sebelum makan pagi. Dan, sore sebaiknya sebelum makan malam. Perutmu harus dalam keadaan sedikit kosong, sehingga napas yang masuk dan keluar lebih leluasa. Program Lengkap Self Management atau Olah Diri dapat ditemukan dalarn buku SOUL QUEST—Journey from Death to Immortality, terbitan Gramedia Pustaka Utama.

  • Apa yang kau makan tidak kalah penting. Jangan berlebihan, jangan terlalu sedikit. Perutmu harus kau isi dengan kurang lebih 70% cairan: air putih, sup, jus, dan sebagainya. Sisa 30% dengan makanan padat. Dengan cara ini tubuhmu akan selars: dengan alam sekitarmu. Dunia kita persis sama: 70% air, 30% tanah.

 

  • Pembagian waktu: Duapuluh empat jam dalam satu hari sebaiknya dibagi menjadi 4 bagian @ 6 jam. Gunakan tidak lebih dari 6 jam untuk istirahat/tidur. Kemudian 6 jam untuk bekerja. Bagian kedua ini tentu tidak mudah. Bila kau seorang karyawan, hampir mustahil hanya bekerja selama 6 jam. Tetapi bila kau cukup efisien, dan tidak hanya produktif tapi juga kreatif performance-mu bisa menjadi lebih baik, sehingga tidak perlu membanting tulang. Bagian ketiga 6 jam untuk keluarga. Dari bagian ini kau masih bisa mencatut beberapa jam untuk pekerjaan. Sengaja saya gunakan kata “catut”, karena sesungguhnya bagian ini merupakan hak keluargamu. Bila kau perlu mencatut waktu, bisa jadi karena kau tidak efisien. Kau membutuhkan 8 atau I0 jam untuk melakukan apa yang seharusya kau lakukan dalam enam jam. Sisa enam jam terakhir kau butuhkan untuk dirimu sendiri. Untuk olah diri, untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirimu. Untuk belajar dan mempelajari diri. Enam jam pertama untuk istirahat, enam jam yang kedua untuk bekerja. Enam jam ketiga untuk keluarga, dan enam jam keempat untuk olah diri.

 

  • Jangan boros energi. Ocehan, ngerumpi, sms-an lewat ponsel, dan chatting di intemet secara berlebihan sesungguhnya memboroskan energi. Termasuk juga, memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan, membaca koran hingga setiap titik dan komanya, kebiasaan menonton teve atau film lebih dari 4 jam sehari, kecuali ada kaitannya dengan olah diri.

 

 

Kedua: Pratyahaar atau pembebasan dari nafsu dalam pengertian seluas-luasnya—bukan hanya napsu birahi, tapi napsu untuk rnenang sendiri. Nafsu untuk meraih keuntungan sebesar mungkin bagi diri sendiri, sementara orang lain buntung. Dalam hidup sehari-hari, cobalah menerapkan prinsip kasih. ltulah prinsip utama. ltulah peraturan tertinggi. Bukankah kasih itu merupakan sifat utama Allah? Bahkan ada yang menyatakan, “Kasih itulah Allah”.

  • Berkaryalah tanpa berharap. Tidak perlu memikirkan imbalan, ganjaan, pengakuan, pahala dan sebagainya. Sudah ada hukum fisika, hukum aksi reaksi atau sebab akibat yang mengaturya. Tanpa kau pikirkan pun, hukum itu berjalan rapi.

 

  • Kasihilah sesamamu sebagaimana kau mengasihi dirimu. Di sini, sesama tidak berarti sesama manusia saja, tetapi sesama makhluk hidup. Dan, eesungguhnya segala sesuatu dalam alam ini hidup. Tak ada sesuatu yang mati.

 

  • Perhatikan kebiasaan-kebiasaanmu. Ada yang menyangkut makanan, ada yang berkaitan dengan pola hidup….. Coba tanya: adakah manfaatnya bagi evolusi batinmu? Bila tidak, kenapa kau masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan itu? Kehiasaan merokok tak berguna dan harus dilepaskan sebagaimana kebiasaanmu makan taoge dan bawang secara berlebihan. Tanpa taoge, kau tidak bisa makan, tanpa bawang, kau merasa kehilangan. Kau sudah tidak pernah masak mie pakai taoge, tapi taoge pakai mie. Lucu kan?

 

 

Ketiga: Viveka atau mengembangkan pemahaman tentang yang langgeng dan yang semu:

  • Introspeksi diri bukanlah sesuatu yang harus kau lakukan setahun sekali. Tidak cukup pula bila kau melakukannya setiap hari sekali. lntrospeksi diri perlu dilakukan setiap saat. Bertanyalah pada diri sendiri, “Apa yang sedang kaukejar?” Sesuatu yang langgeng, atau yang semu? Kau akan menemukan bahwa yang langgeng cukup disadari saja, tidak perlu dikejar. Yang langgeng sudah ada. Kau tidak perlu mencarinya ke mana-mana. Yang kaukejar selama ini hanyalah hal-hal semu yang tidak mampu membahagiakan dirimu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Menemukan Sumber Kebahagiaan via Pengendalian Diri dan Pembebasan dari Nafsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s