Renungan #Gita: Panggung Kolosal Dunia Tak Pernah Usai, Silakan Menyingkir Sendiri!

buku bhagavad pohon asvattha

Ilustrasi Pohon Asvattha, planet bumi hanya salah satu rantingnya

Bhagavad Gita 15:2

“Ditumbuhbesarkan oleh ketiga sifat alam, Sattva, Rajas, dan Tamas — dahan dan ranting pohon ini ada yang merambat ke atas, ada yang ke bawah. Interaksi dengan dunia benda dan kebendaan melahirkan kuncup-kuncup baru, serta akar-akar baru pun ikut menjalar ke bawah dan menyebar ke segala penjuru. Demikian, terjadilah segala macam karma, segala kejadian dan keterikatan, di alam benda.” Bhagavad Gita 15:2

 

“Tersebar ke mana-mana, ke segala penjuru“ menjelaskan adanya sekian banyak alam, sekian banyak universes, sekian banyak galaksi, sekian banyak lapis dunia benda dan kebendaan.

DUNIA INI, PLANET INI hanyalah merupakan salah satu ranting dari Pohon Keberadaan. Barangkali galaksi kita adalah salah satu dahannya. Sekarang bayangkan wujud kita, badan kita, yang kita pikir kita miliki ini! Seperti apakah hakikatnya?

Hakikat badan kita adalah sebagian kecil dari hakikat dunia ini. Dan hakikat dunia ini sendiri adalah bagian kecil dari ranting galaksi. Kemudian hakikat ranting galaksi kita adalah hanya sebagai salah satu dari sekian banyak dahan yang tidak akan pernah terhitung persis jumlahnya!

Batang pohon ini — Sang Pencipta — mengikat dedaunan dengan rantingnya, dan mengikat dengan dahannya. Mengikat badan dan pancaindra dengan objek-obj ek kebendaan di luar.

KENAPA MESTI MENGIKAT? Karena, keterikatan itulah dunia, galaksi, alam tercipta! Tanpa ikatan tersebut tidak ada alam, tidak ada dunia benda, tidak ada penciptaan!

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Kenapa mesti menciptakan Alam dan Keterikatan? Bertanyalah pada Batang Pohon, pada Akar. Wahai Batang Pohon, Wahai Akar, Wahai Sang Pencipta, kenapa Kau beranting dan berdaun?

Barangkali jawabnya seperti ini: “Seperti itulah kodratku, ada akar; ada dahan, ada ranting, dan ada daun.” Kodrat Sang Pencipta adalah Ciptaannya.

Kenapa seorang pemain bola bermain bola?

Kenapa seorang pcmain biola bermain biola? Kenapa api terasa panas, membakar, sernentara air terasa sejuk? Kenapa mata manusia di atas dan tidak di tengah badan? Kenapa daun beringin berbentuk seperti daun beringin? Kenapa ada pertunjukan wayang?

JAWABNYA: KARENA ITULAH! Ya, karena pertunjukan. Semuanya ini adalah pertunjukan. Nikmatilah pertunjukan sebagai pertunjukan. Suka dengan peran seorang pemain, maka apresiasilah permainannya — tldak perlu “mengikat” diri dengannya. Tidak suka dengan permainan pemeran lain, maka tidak perlu membencinya pula. Suka sekali dengan pertunjukan ini, ya tetaplah berada di sini hingga akhir zaman, dan saksikan pagelaran kolosal, abadi, yang tidak pernah berhenti ini!

Mau lkut “main” – silakan juga sesuka-suka kita. Tak seorang pun melarang kita. Silakan membahagiakan atau menyengsarakan diri — pilihan di tangan kita.

KETAHUILAH BILA PERMAINAN INI ADALAH PERMAINAN ABADI. Permainan ini tidak pernah berakhir. Ketika satu pertunjukan selesai, satu pagelaran berakhjr, dan tirai pun diturunkan — maka, terjadi “pralaya”, kiamat, atau apa pun sebutannya. Sesungguhnya, pralaya atau kiamat itu pun hanyalah bersifat sementara.

Bahkan apa yang kita anggap akhir dari semesta — kiamat total, kiamat besar — hanyalah merupakan selang atau interval sebelum pertunjukan berikut.

Pertunjukan yang sedang kita tonton berakhir dalam sekian menit atau sekian jam. Para pemeran di atas panggung, turun dari panggung ketika peran mereka selesai. Kita membuat kesimpulan “tamat”. Padahal tidak juga, tidak pernah tamat.

Para pemeran yang dinilai “baik” oleh penonton sedang dilamar untuk pertunjukan lain, untuk pagelaran lain. Para pemain yang dianggap “jelek” oleh penonton sedang berupaya mati-matian untuk mendapatkan pekerjaan lain.

PAGELARAN DI ATAS PANGGUNG BERAKHIR – Namun, itu hanyalah salah satu sisi kebenaran. Sisi lain adalah bahwa setiap akhir adalah awal dari pertunjukan baru. Setiap kematian adalah benih bagi kelahiran baru.

Dan permainan ini, lagi-lagi, terjadi di mana-mana. Di sekian banyak alam, dimensi, dan tentu saja bukan di planet bumi ataupun di galaksi Bimasakti saja.

Karena sifatnya yang memang kolosal — maka permainan ini cenderung tidak pernah membosankan. Baik bagi pemain maupun bagi penonton. Inilah yang menjelaskan kenapa “akhir zaman” tidak pernah “tiba” juga, padahal sudah sekian kali diramalkan! Alasannya karena pertunjukan “zaman ini” belum juga membosankan secara universal dan bagi mayoritas pemain serta pemeran.

SEBAB ITU, JIKA ADA INDIVIDU, ada “Oknum Jiwa” yang merasa bosan, maka ia mesti rnenyingkir sendiri, dengan daya dan upayanya sendiri. Ia tidak perlu menunggu kehadiran seorang soul-mate untuk membantu atau menemaninya.

Lupakan ilusi soul-mate segala.

Pemahaman itu masih merupakan pemahaman kebendaan. Soul-mate atau apa pun sebutannya, hanyalah ranting-ranting, atau bahkan dedaunan Pohon Keberadaan. Masih sama-sama dan sepenuhnya terjerat di alam kebendaan’

Kenapa hanya se-“oknum” soul-mate?

Kita semua adalah soul-mates. Selama kita masih berkesadaran dualitas, selama saya masih menganggap Jiwa “Anda” beda dari Jiwa “saya” – maka saya pun bisa menganggap “Anda” sebagai soul-mate “saya”. Dualitasl Apa bedanya soul-mate dengan body-buddy, body-mate? Tidak ada yang membedakan. Dua-duanya adalah paham dualitas. Jika kita masih menikmati pertunjukan alam kebendaan — monggo, lanjut, teruskan!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Tautan terkait sebelumnya:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/10/20/renungan-gita-pohon-asvattha-pagelaran-dahan-dan-ranting-menjulur-di-panggung-dunia-akar-di-atas-tak-nampak/

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

One thought on “Renungan #Gita: Panggung Kolosal Dunia Tak Pernah Usai, Silakan Menyingkir Sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s