Renungan M Jackson: We Are The World, Anggaplah Tuhan sebagai Kepala Keluarga Besar Dunia?

buku michael jackson 500x500

Cover Buku The Gospel of Michael Jackson

 

WE ARE THE WORLD, I985 (Written & composed by Michael Jackson and Lionel Ritchie)

“There comes a time

When we hear a certain call

When the world must come together as one

There are people dying

And it’s time to lend a hand to life

The greatest gift of all”

“Suatu ketika….. Kita mendengar seruan…….. Agar dunia bersatu…… Begitu banyak orang yang sekarat…… Sekarang saatnya untuk saling bergandeng tangan…… Karena kehidupan adalah karunia terindah……. Yang pernah kita dapatkan” dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

 

Sudah tiba saatnya bagi semua orang saat kita mendengar panggilan ini. Namun, kita tidak menanggapinya. Michael menanggapinya. Di sini bedanya dengan kita. Dia tidak hanya menyimak panggilan ini; dia juga bertindak.

Apakah panggilan ini?

Ini adalah panggilan untuk bersatu, untuk hidup di bawah cinta, perdamaian, dan harmoni. Panggilan  adalah panggilan untuk menyadari ide agung “satu bumi, satu Iangit, dan satu umat manusia”.

Michael sadar akan hal ini. Jadi, dia bisa merasakan kesakitan, penderitaan, pedih dan duka orang-orang di planet ini. Dia bisa merasakan sakitnya kita, perihnya Anda, dan penderitaan saya.

Pada saat yang sama, Michael juga menyadari bahwa kesadarannya ini tidaklah unik. Dia tidak merasa lebih jagoan karena kesadaran ini. Dia tidak melihatnya sebagai sebuah pencapaian. Dia tidak bangga-bangga amat dengan hal itu. Kesadaran ini tidak membuatnya sombong.

Sayup-sayup saya bisa mendengat dia bernyanyi: “We are the WorId…..”

 

HANYA CINTA YANG KITA PERLUKAN

Sebelumnya, the Beatles sudah pernah menyanyikan: Semua yang kaubutuhkan adalah Cinta! All you need is love……. Michael mengamini kebenaran yang sama, visi yang sama.

Kita tahu kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Kita semua menyadari bahwa cinta kasih adalah satu-satunya solusi. Tetapi kita tldak berani berubah. Karena kita hidup di tengah-tengah kekerasan, kita jadi terbiasa hidup dengan kekerasan.

Mulai dari rumah tangga hingga jalanan, kekerasan ada di mana-mana. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, kekerasan tetap dapat memasuki rumah kita lewat TV dan tayangan website.

Kita menemukan kekerasan dalam bidang politik, di bisnis, dan bahkan di lembaga-lembaga keagamaan. Kekerasan ada di dalam pikiran kita. Dan pikiran kita ini sangatlah licik. Pikiran kita ini tengah berupaya keras untuk membuat kita Iupa bahwa dia sebenarnya penuh kekerasan:

 

“Kita tidak bisa hidup…… Dengan terus berpura-pura setiap hari…..  Bahwa seseorang, di suatu tempat, akan membawa perubahan…… Kita semua adalah bagian…… Dari keluarga besar Tuhan…. Dan sebenarnya kau tahu…… Satu-satunya hal yang kita perlukan hanyalah cinta“

 

DUNIA BERUBAH JIKA KITA BERUBAH

Namun, tidaklah mudah untuk mengubah diri kita yang “sombong“, “acuh“, dan “masa bodoh”. Jadinya kita berusaha mengubah dunia. Kita berusaha mengubah orang-orang di sekitar kita. Kita berusaha mencari kambing hitam atas semua kesalahan kita.

Kira berpura-pura bahwa semuanya oke-oke saja dengan kita; bahwa dunialah yang tidak beres. Dunia yang perlu berubah. Lebih mudah untuk menangani sesuatu di luar diri kita, daripada menangani diri kita sendiri. Lebih gampang menuding daripada mencari solusi. Lebih mudah berkata bahwa tidak ada cinta di luar sana daripada mengembangkan cinta di dalam diri.

Michael adalah pembawa solusi. Dia menawarkan penyelesaian masalah: “Kita semua bagian dari keluarga besar Tuhan.” Michael sebenarnya mengusulkan sebagai berikut: Anggaplah Tuhan sebagai Kepala Keluarga Besar Dunia.

Selama saya merasa sebagai kepala keluarga dan Anda merasa sebagai kepala keluarga — kita pun menciptakan jurang pemisah. Perpisahan ini adalah produk ego manusia, pikiran manusia.

Dengan memandang Tuhan sebagai Kepala Keluarga Besar Dunia,kita sebenarnya memasrahkan pikiran kita, ego kita. Dan, begitu hal itu terjadi, pikiran dipasrahkan, ego ditiadakan, muncullah cinta.

Pada saat itulah, mudah bagi kita untuk bernyanyi bersama Michael:

“Kita adalah dunia……. Kita adalah anak-anaknya….. Kitalah yang akan membawa hari yang lebih cerah….. Jadi marilah mulai memberi…… Ini adalah pilihan kita sendiri…. Kita sebenamya sedang menyelamatkan hidup kita sendiri….. Sungguh, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik…… Yang kita butuhkan hanyalah….. Kesediaan kau dan aku untuk memulainya“

 

HUBUNGAN FISIK VS HUBUNGAN SPIRITUAL DENGAN DUNIA

Seseorang yang berhubungan dengan keluarga dekatnya adalah orang yang berhubungan secara fisik dengan dunia. Hubungan ini  adalah hubungan yang biasa terjadi. Boleh-boleh saja punya hubungan semacam mi, mungkin bagus juga malah, tetapi tidak ada yang hebat-hebat amat dengannya. Kebanyakan dari kita terhubungkan dengan dunia melalui cara ini.

Sebaliknya, Michael ticlak berhubungan dengan dunia seperti cara kita. Hubungan dia dengan dunia jauh lebih ddlam dan lebih kuat daripada hubungan kita dengan dunia. Hubungan dia adalah hubungan spiritual. Dia merasa terhubungkan dengan seluruh dunia…. dan hubungan spiritual semacam ini membuatnya sangat rentan.

Michael ke mana-mana telanjang dalam tubuh jiwanya. Dia tidak merasa terbebani dengan badan kasarnya. Tubuh fisiknya yang lemah tidak dapat menampung jiwanya. Sang jiwa bebas untuk mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara, berbagai jalan yang dia inginkan.

Di mata kita dan di mata dunia, dari hari ke hari Michael semakin rapuh. Namun secara spiritual dia makin terbuka terhadap alam semesta. Dia makin merasa menyatu dengan seluruh jagat raya.

Dia dapat merasakan penderitaan umat manusia. Dia tidak hanya mengakui penderitaan itu ada, dia juga berusaha keras untuk menghilangkannya:

 

“Kirimkan hatimu…… Sehingga mereka tahu ada yang peduli……. Dan hidup mereka menjadi makin kuat dan bebas…… Sebagqimana Tuhan telah menunjukkan kepada kita…… Dengan mengubah batu menjadi roti….. Maka kita semua harus saling membantu.”

 

Gandhi, Sang Mahatma, Sang jiwa Agung memiliki obsesi untuk menghapus setiap butir tangis dari setiap mata. Michael Jackson juga punya obsesi semacam itu. Ini adalah hal yang spiritual, seratus persen spiritual.

dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s