Renungan Diri: Belajar dari Bunga Mawar Tanpa Pilih Kasih? Bagaimana dengan Kita?

buku Sai Baba bahasa Indonesia

Cover Buku Swami Sri Sathya Sai Baba

LAYANILAH TANPA PILIH KASIH

Kita hidup dalam dunia yang terkotak-kotak. Kadang kita menemukan iklan, “Perumahaan khusus untuk Umat ….. ..” Bahkan, kolam renang pun diberi identitas. Toilet Umum sedang diupayakan untuk memperoleh identitas juga.

Sebelumnya, sekolah, rumah sakit, dan beberapa sarana umum sudah memperoleh identitas-identitas semacam itu. Pelayanan bagi sesama umat lebih baik dan murah; bagi mereka yang “tidak sama” beda tarif, beda pula kualitas pelayanan.

Belajarlah dari bunga-bunga di taman. Apakah mereka mekar dan menyebarkan wangi serta keindahan mereka kepada umat tertentu?

Belajarlah dari matahari, apakah sinarnya menjadi monopoli komunitas tertentu? Belajarlah clari angin, dari sungai, dari gunung — mereka semua berada untuk berbagi dengan semua.

Mereka tidak pilih kasih, sementara manusia yang konon Iebih cerdas, lebih pintar, lebih tinggi derajamya malah memilih untuk hidup dalam kotak-kotak buatannya sendiri. Sungguh aneh!

 

SEKUNTUM BUNGA MAWAR…

Di pekarangan, di halaman depan rumahku sendiri, sekuntum bunga mawar mulai mekar, dari kuncup ia menjadi kembang. Untuk siapakah mekarnya bunga itui Kepada siapa saja ia berbagi keindahan Dan harumnya?

Saya merasakan keindahannya, saya merasakan kelembutannya, saya merasakan keharumannya – Demikian pula Anda. Tapi, ada saja yang tidak suka bunga. Ada saja yang tidak suka tanaman, “Untuk apa pekarangan seluas itu? Tanaman Kan mengundang nyamuk dan serangga.”

Bagaimana sikap bunga mawar di pekarangan rumahku terhadap orang yang berkata demikian? Bagaimana sikapnya terhadap mereka yang tidak menyukainya?

Apakah ia tidak berbagi keindahanya dengan mereka, atau keharumannya? Tetap saja ia berbagi keindahan dan keharuman, dengan siapa saja. Termasuk dengan mereka yang ingin “membunuh”-nya, mengakhiri hidupnya.

 

BUNGA MAWAR DI PEKARANGAN RUMAHKU…..

Tidak memandang bulu. Ia tiDak pilih kasih. Ia tiDak peduli bila ada yang tidak menyukainya. Ia tidak keberatan sama sekali. Ia tetap menyebarkan keindahan dan keharumannya.

Bahkan kumbang yang datahg untuk menghisapnya, untuk mengambil sarinya – diterima pula dengan tangan dan hati terbuka. Ia menerima kawan dan lawan, para pengagum dan para pencela, mereka yang menghargai dan rnereka yang menghinanya – dengan kehangatan yang sama.

Pernahkah kita membayangkan panderitaannya? Seorang yang merasa bunga yang baru mekar itu lebih cantik di vas bunga, memetiknya tanpa memikirkan penderitaannya. Ia tidak peduli. Baru mekar, baru remaja, baru puber, dan dipetik….

Persis seperti seorang anak yang dipisahkan dari induknya… Namun, ia tetap tidak mengeluh. Ia menghiasi vas bunga di ruang tamu kita, dan tetap menyebarkan keindahan dan keharumannya. Ia tetap lembut.

Di India, bunga mawar yang sudah layu dikeringkan, dicampur dengan ramuan lain, kemudian dikonsumsi sebagai suplemen. Dalam kematiannya pun, ia tetap berguna. Tetap memberi kesehatan. Dan, yang lebih aneh Iagi, keharumannya ,tidak berkurang. Malah setelah dikeringkan ia menjadi Iebih harum lagi.

 

MARI KITA BELAJAR DARI BUNGA MAWAR…

Mari kita hayati dan mengambil hikmah dari kehidupan sekuntum mawar… Setelah Iayu pun, ia tetap melayani, mengabdi… Keindahannya, kelembutannya, keharumannya berubah menjadi sumber kesehatan sebagai suplemen makanan.

Kesehatan yang kita peroleh dari bunga mawar itu, kemudian, menjadi bagian dari hidup kita. Tidak ada sekelopak pun yang terbuang begitu saja. Tidak ada kelopak yang tersia-siakan. Setiap kelopaknya menjadi sumber kesehatan dan kehidupan.

Demikianlah kehidupan para sadguru, para wali, para nabi, para avataar, para buddha, dan para mesias. Setalah “kepergian”-nya pun mereka tetap menjadi sumber inspirasi.

Mereka tidak mati bersama apa yang kita anggap dan sebut kematian. Mereka hidup terus. Tugas mereka tidak pernah selesai. Mereka yang sepanjang hidupnya menyebarkan kasih, setelah apa yang kita sebut kematiannya pun masih tetap berbagi kasih.

 

CINTA-KASIH ABADI ADANYA…

Dan, setiap orang yang hidup dalam kasih tidak pernah mati… Kematian hanya membuat mereka tidak terlihat oleh kita. Jiwa kasih mereka hidup terus. Semangat mereka untuk mengasihi dan berbagi kasih tidak pernah mati.

Cinta-Kasih adalah ramuan yang mengabadikan. Cobalah ramuan ini, dan Anda menjadi abadi, sekarang, dan saat ini juga. Para pujangga yang pernah mencicipi ramuan ini telah menjadi abadi. Nama mereka tetap dikenang, ajaran mereka tetap memandu kita. Cahaya mereka, sinar suci mereka tetap menerangi hidup kita. Kisah kehidupan mereka tetap menjadi inspirasi bagi kita, tetap mengilhami kita.

Keiembutan, keharuman, keindahan mereka kekal. Mereka tidak pernah mati, tidak mati dan tidak akan mati. Mereka hidup abadi karena Kasih, dan dalam Kasih.

Kasih adalah Vitamin yang paling penting. Vitamin-vitamin lain boleh dikonsumsi, boleh tidak. Tetapi, vitamin yang satu ini mesti dikonsumsi. Tampa vitamin ini, tidak ada kebahagiaan, tidak ada ketenangan, tidak ada kedamaian.

Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s