Renungan #Yoga Patanjali: Nakal-Nakal Sedikit Bolehkah? Tidak Boleh! Yoga adalah Disiplin

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Abhyasa atau Upaya secara Terus-Menerus Membutuhkan Yatna, Kerja Keras; dan Sthiti atau Ketetapan Hati.” Yoga Sutra Patanjali I.13

ABHYASA BUKANLAH UPAYA ASAL-ASALAN. Misal, hari ini hidup sesuai dengan pola hidup yang dianjurkan dalam Yoga, besok tidak; lusa Yoga lagi dan keesokan harinya tidak. Yang demikian itu bukan Yoga Abhyasa, bukanlah laku atau praktik yang bisa disebut Yoga.

Lawan kata dari Yoga adalah Bhoga.

Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain). Itulah Bhoga.

BEBERAPA WAKTU YANG LALU SAYA BERTEMU DENGAN SEORANG AHLI KITAB, yang saat itu “kebetulan” sedang minum bir dan bukan sekadar minum, tetapi sudah sepenuhnya berada di bawah kendali bir, wajahnya tampak sesegar tomat. Apalagi kedua daun telinganya, lebih merah daripada ujung hidung Pinokio yang berwarna merah cabai. Berarti, wama daun telinganya sudah supermerah.

Melihat saya, ia tercerahkan!

Jika sebelumnya ia masih santai, merebah bareng rekan-rekannya, tiba-tiba ia duduk tegak. Apakah “duduk tegak” merupakan pertanda pencerahan? Tidak tahu juga. Tapi orang itu, setidaknya cukup sadar untuk membedakan wajah saya dari wajah rekan-rekannya. Barangkali, melihat saya dia kaget!

“Bung, nggak apa-apa, kan? Ya, kan?!? Mesti ada keseimbangan lah… Yaa, nakal-nakal sedikit boleh, kan? Nanti juga sembahyang lagi.”

Mau nakal sedikit atau banyak, bukan urusan saya. Bagi saya tidak menjadi soal. Dia sendiri seorang ahli kitab, dan dia tahu persis apa kata kitabnya.

Nah, “keseimbangan” ala ahli kitab ini sudah pasti ditolak oleh Patanjali. Keseimbangan yang dimaksud Sang Bhagavan adalah jenis lain, jenis beda.

DEMIKIAN PULA DENGAN PENGENDALIAN DIRI PURNAWAKTU ALA PATANJALI, tidak sama dengan pengendalian diri paruh waktu ala ahli kitab.

Pengendalian dan Keseimbangan Diri ala ahli kitab tidak membutuhkan abhyasa. Tidak perlu mempraktikkan ketidakterikatan atau vairagya, tidak perlu menarik diri dari segala pemicu di luar. Hari ini bisa mengendalikan diri, besok tidak, lusa bisa, keesokan harinya kebablasan lagi, no problem.

Dalam model, modulus, atau mandala para ahli kitab, ada institusi “penebusan dosa dengan berbagai cara”—semacam sin laundering, pencucian dosa. Jadi, salah-salah boleh saja, nanti tinggal dicuci.

Lain hal dengan model, modulus, atau mandala ala Patanjali. Tidak ada Lembaga Pencucian Dosa. Pasalnya, tidak ada yang disebut Dosa. Yang ada adalah Dosa atau Kesalahan Diri, dan setiap kesalahan mesti dipertanggungjawabkan oleh pembuat kesalahan; kemudian, diperbaiki olehnya juga.

Nah, dalam rangka “perbaikan” itulah dibutuhkan Abhyasa, Upaya yang Sungguh-Sungguh; kerja keras; upaya dengan seluruh tenaga; upaya dengan segenap energi; dan upaya dengan niat yang jelas dan kuat, serta ketetapan hati, kebulatan tekad.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3elearning-banner

Advertisements

One thought on “Renungan #Yoga Patanjali: Nakal-Nakal Sedikit Bolehkah? Tidak Boleh! Yoga adalah Disiplin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s