Renungan Diri: Kegedhen Empyak Kurang Cagak, Demi Gengsi Setelah Hajatan Bangkrut

buku Javanese Wisdom besar

Cover Buku Javanese Wisdom

“Hendaknya kau lebih memperhatikan karakter, bukan reputasi diri; karena karakter itulah dirimu yang sebcnarnya, sementara reputasi hanyalah pandangan orang tentang dirimu.” John Wooden (1910-2010), Coach Basketball

 

“Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan.” Petuah ini merupakan teguran bagi kita semua yang sering “mati gengsi”—menjadi korban gengsi yang sesungguhnya tidak berarti. Itu adalah salah satu sisi, seperti dalam kasus di bawah ini:

 

Setelah Pesta, Bangkrut

Persis seperti itu yang terjadi. Semalam suntuk sound sstem  dan speaker raksasa memaksa seluruh warga kampung ikut merayalcan hajatan seorang pemilik warung.

Bahkan, yang punya hajat mengundang berapa penyanyi dari kota terdekat. Semua membutuhkan biaya. Hanya beberapa hari kemudian, warung itu berpindah tangan ke orang yang meminjamkan uang untuk hajatan.

Kesadaran seperti apakah ini? Ketika ditanya mengapa dirinya sebodoh itu, mantan pemilik warung itu masih bisa tersenyum, “Ya nggak apalah, perayaan kan seumur hidup sekali. Warung Iudes nggak apa-apa.”

Saya mendengar dari tetanggana, “Dia itu memang gengsian. Dulu, ada warga yang mengadakan hajatan dan semalarnan dangdutan. Dia tidak mau kalah. Waktu itu dia bilang, ‘Lain kali kalau aku hajatan, pasti lebih wah. Kalau warung amblas, rela.” ‘

Sisi lain dari petuah ini adaJah….

 

Tidak Sadar akan Kemampuan Diri

Ya, tidak sadar. Dalam kasus di atas, pemilik warung itu sadar akan kemampuannya. Dia sadar sepenuhnya bahwa warung yang dimilikinya bakal Iudes. Tetap saja, demi gengsi, demi hajatan yang wah, ia bertindak gila!

Nah, sekarang tentang pengeluaran melebihi penghasilan karena ketidakmawasan diri—karena tidak eling, tidak sadar akan kemampuan diri:

Seorang siswa SMU, arau bahkan seorang mahasiswa, yang memiliki kebiasaan merokok sudah jelas tidak sadar akan kemampuannya. Dia belum memiliki pekerjaan dan penghasilan, tapi sudah “membakar” uang. Jangan heran bila kemudian hari ia beralih ke narkoba dan sebagainya.

Demikian juga dengan seseorang yang setelah menikah dan berkeluarga masih menjadi tanggungan orangtuanya. Setiap ada kebutuhan, ia berpaling ke orangtuanya. Sungguh tidak bertanggung jawab. Karena itu, sebelum menikah, sebelum berkeluarga, sebelum beranakpinak, sebaiknya Anda pikirkan lebih dulu. Renungkan dulu. Apakah Anda sudah mampu untuk membiayai sendiri keluarga Anda? Jika belum, tunda dulu perkawinsn Anda.

Demikian nasihat saya kepada seorang teman, dan dia mengikuti nasihat itu. Tapi, bukannya menabung, seluruh gajinya malah dia habiskan untuk berkencan dengan pacarnya di hotel, motel, dan restoran mahal. Celaka tiga bclas! Bukan itu maksud saya, sobat.

 

“Untuk apa Menabung?”

Demikian dalih seorang sahabat yang merasa sudah tercerahkan dan tidak membutuhkan tabungan atau perencanaan, “Sekarang aku mengalir seperti air… Aku tidak perlu menabung dan memikirkan hari esok. Keberadaan tahu persis kebutuhanku.”

Mau mengalir seperti air? Lalu untuk apa menjadi manusia bertulang, berdarah, dan berdaging? Mengapa tidak diciptakan berair saja? Menurut pemahaman saya yang masih dangkal, bukanlah demikian rencana Gusti Pangeran. Jika Ia menghendaki kita mengalir seperti air, maka badan kita sudah pasti seratus persen air, bukan 60-70 persen air scperti sekarang.

Masih banyak pesan Gusti yang lain. Bukan hanya ada air, masih ada api, angin, tanah, dan ruang yang mahaluas. Belajarlah dari setiap elemen, bukan dari air saja. Berkobarlah bersama api, membumilah bersama tanah, meluaslah bersama ruang, dan raihlah kekuatan dahsyat dari angin untuk rnewujudkan perubahan.

 

“Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan”

Petuah ini memiliki banyak arti, banyak dimensi. Pengeluaran yang dimaksud di sini bukan sekadar dalam bentuk uang, tapi juga pengeluaran energi, pikiran, perasaan, dan apa pun yang tidak selaras dengan penghasilan.

Contoh: Sahabat saya yang rnerasa sudah hebat, tercerahkan, dan mau mengalir bersama air. Ia yang merasa sudah “sampai”, sehingga semua orang dianggapnya berada jauh di bawahnya. Wahai sobat yang merasa serbabisa, cobalah pindahkan tiang beton di depanmu. Bisa?

“Pengeluaran besar, penghasilan kurang.” Lebih baik tidak banyak bicara, let us act—mari berkarya! Biarlah tindakan kita berbicara tentang kemampuan kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s