Renungan Diri: Adakah Keinginan, Amarah dan Keangkuhan saat Berdoa? Serahkan semua pada-Nya!

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

“Berserah diri sepenuhnya berarti keinginan, amarah dan keangkuhan pun diserahkan kepada Dia.” Narada Bhakti Sutra ayat 65 dikutip dari buku(Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sutra ini sulit diterjemahkan. Apa yang kita sebut “penyerahan diri” dalam bahasa Sanskerta disebut Akhila-Aaachaarah Arpan. Segala perbuatan dan tindakan diserahkan kepada Dia. Atau bertindak dan berbuat semata-mata demi Dia, karena Dia. Berarti melibatkan Dia dalam segala sesuatu. Atau mungkin lebih tepat: menyadari keterlibatan-Nya dalam segala aspek kehidupan.

Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya  setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan-lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya, saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan sama sekali dengan ibadah kita.

Lalu, bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada.

Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan.

Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa berubah menjadi luapan amarah.

Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah berdoa? Rajinkah kamu berdoa?

Lagi-lagi, apa solusinya? Bagaimana membebaskan diri dari keinginan, amarah dan keangkuhan? Narada sadar betul bahwa membebaskan diri dari semua itu tidak gampang, “maka,” nasihat dia, “alihkan semuanya kepada Dia. Keinginan, amarah dam keangkuhan pun diarahkan kepada-Nya.”

Apa maksud Narada? Inginkan Tuhan. Marahi ketidaksadaran diri. Dan biarkan “kali aku” bergabung, menyatu dengan “Lautan Aku”.

Untuk itu, para bijak di Timur menciptakan simbol-simbol tertentu, sarana-sarana untuk membantu kita. Sarana itu bisa berupa sebuah patung Krishna, Kristus dan Buddha, atau kaligrafi indah.

Melihat patung Santo Fransiskus dari Asisi, misalnya. Melihat dia menyayangi binatang dan bermain dengan burung-burung kecil, apa yang anda rasakan?

Melihat kelembutan pada wajah Krishna atau ketenangan pada wajah Buddha dan Kasih pada wajah Yesus, apa yang terjadi dalam diri anda? Melihat sebuah lukisan atau tulisan indah, apa yang terjadi pada diri anda?

Selama kita masih belum mampu melihat-Nya di mana-mana, simbol-simbol ini memang dibutuhkan.

Melihat ketenangan pada wajah Sang Buddha, biarlah muncul keinginan untuk menjadi dia.

Melihat kelembutan pada wajah Krishna, biarlah muncul amarah terhadap segala sesuatu yang keras, alot dan kasar.

Melihat kasih pada Wajah Yesus, biarlah hawa napsu dan cinta kita larut dan menyatu di dalam Kasih-Nya.

Ada yang merasa melihat lukisan wajah Yesus di tembok luar rumahnya. Bila “penampakan” semacam itu memunculkan kasih di dalam diri, silakan memperhatikan tembok setiap hari. Tetapi bila ego kita justru meningkat, “Wah, aku hebat….. Lihatlah tembok rumah-‘ku’, ada wajah Yesus di sana. Bagaimana dengan tembok rumahmu?”, maka penampakan seperti apa pun tidak berguna. Kita menjadi pemuja tembok. Kemudian tembok itu menjadi agama, kepercayaan dan iman kita. Tanpa tembok, kita bukan apa-apa. Tembok menjadi tolok ukur keyakinan kita terhadap Allah.

Di salah satu rumah di Mumbai, saya pernah melihat gambar Sai Baba mengeluarkan madu. Sangat bermakna, bila madu itu bisa membantu kita melihat Yang Maha Manis Ada-Nya. Bila tidak, nilai madu yang kcluar dari gambar itu tidak lebih dari nilai madu yang kita beli dari supermarket.

Mereka yang menjadi pemuja tembok dan pemuja madu lupa akan tujuan simbol-simbol tersebut. Kendati mengaku percaya pada Allah Yang Tak Berwujud, sesungguhnya mereka masih memuja wujud. ltu pun tidak menjadi soal, asal kita sadar, sehingga bisa melanjutkan perjalanan. Tidak berhenti di tempat. Tidak berhenti pada tembok dan madu.

Fenomena seperti itu bisa terjadi di mana saja, dan sesungguhnya disebabkan oleh kekuatan mind kita sendiri, persis seperti Iukisan seorang pelukis, atau patung hasil pahatan seorang pemahat. Sebelum terwujud, lukisan itu, patung itu “ada” di dalam pikiran sang seniman. Kemudian, dibantu oleh elemen-elemen alami seperti tanah, pewarna dan lain sebagainya, terwujudlah sebuah lukisan atau patung. Keluarnya madu dari gambar Sai Baba atau lukisan Yesus di atas tembok — ya, kedua-duanya berasal dari “pikiran”,  dari mind. Gunakan semua itu sebagai alat bantu. Bukan untuk memperbudak dan membelenggu jiwa anda.

Beberapa tahun yang lalu, setiap patung Ganesha di seluruh dunia dikabarkan meminum susu. Di Indonesia, hanya satu surat kabar berbahasa Inggris yang memuat berita tersebut. Koran-koran lain memilih untuk tidak menurunkan berita tersebut, takut diserang oleh teman-teman yang tidak memahami mekanisme mind. Padahal fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia. Patung sekecil 4 senti meter dan terbuat dari perak padat dimasukkan ke dalam segelas susu. Tidak sampai lima menit, susunya habis. Luar biasa!

Selama dua-tiga hari, ratusan ribu orang melaporkan hal yang sama. Inilah kekuatan pikiran massa — callective mind. Sejuta orang mempercayai kebijakan scorang Hitler — lihat apa yang terjadi?

Sejuta orang bisa juga mempercayai seorang nabi atau seorang buddha, seorang mesias atau seorang avatar. Dan kepercayaan semacam itu bisa menghasilkan “perubahan” yang kita anggap positif. Tetapi untuk berapa lama? Mass-Consciousness — kesadaran-massa sepcrti itu tidak tahan lama. Baru ditinggal sang master, pata pengikut sudah saling bunuh-membunuh demi kekuasaan.

Itu sebabnya kesadaran harus bersifat pribadi. Harus muncul dari dalam diri sendiri. Tidak bisa dipaksakan. Jangan pula tcrbiasa “nebeng” kesadaran orang lain. Siapa pun orang itu.

Kembali pada apa yang dikatakan Narada:

“Berserah diri sepenuhnya berarti keinginan, amarah dan keangkuhan pun diserahkan kepada Dia. Dan, bila anda masih tertarik dengan wujud-wujud luaran, biarlah itu wujud seorang Yesus, atau seorang Siddhartha, atau seorang Lao Tze, atau seorang Zarathustra, atau tulisan indah mengagungkan Allah.

Penganut agama Sikh memperlakukan kitab suci mereka sebagai Guru Hidup. Ada upacara untuk membangungkan dan menidurkan. Saat dibuka dan dibaca, ada yang mengipasinya. Banyak  orang mengkritik mereka. I see no harm done to anybody. Apa salahnya? Daripada membangunkan nafsu dan menidurkan kesadaran, lebih baik mengurusi kitab suci. Daripada mengipasi api amarah, lebih baik mcngipasi halaman-halaman Guru Granth. Demikian sebutan mereka bagi kitab suci. Guru Granth berarti “Kitab, sang Guru”, atau: ”Kitab, Sang Guru”. One and same thing. Para filsuf dan ahli bahasa boleh menganalisa, membedah dan memikirkan perbedaan antara kedua makna tadi. Silakan. Para pencinta tak akan pernah mempermasalahkan. Selama Guru Granth bisa menimbulkan kasih di dalam diri, perbedaan makna tidak menjadi soal.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s