Renungan #Yoga Patanjali: Tidak Bisa Mengondomi Dunia, Kondomi Benih Pikiran dan Perasaanmu!

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Masa mau melarang iklan di televisi? Kalaupun bisa, tidak membantu juga. Karena di layar televisi, layar tancap, atau di layar mind, so creamy rich bisa ada di mana-mana. Jadi nggak perlu mengondomi dunia benda, nggak bisa juga. Masa semua benda di dunia benda ini mau dibungkus pakai karet dan plastik? Kondomi citta-mu, benih-benih pikiran serta perasaanmu.”

Silakan ikuti penjelasan lengkap Patanjali tentang hal tersebut di bawah ini:

Yoga Sutra Patanjali I.12

“Nlrodha, Penghentian atau Pengendalian terhadap Citta atau Benih Pikiran dan Perasaan dapat terjadi dengan Abhyasa atau Usaha Intensif secara Terus-Menerus; dan Vairagya atau Pelepasan Diri dari segala hal yang menciptakan keterikatan.” Yoga Sutra Patanjala I.12 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Penghentian—atau barangkali lebih mudah dipahami jika kita menggunakan istilah “pengendalian” citta atau benih pikiran dan perasaan—memang mesti diupayakan.

Patanjali menjelaskan.

“Pengendalian Citta dapat terjadi dengan Abhyasa, pelatihan, atau upaya lntensif secara terus-menerus, berulang-ulang; dan Vairagya, atau pelepasan dirl dari berbagai keinginan, benda, situasi ataupun perorangan yang menyebabkan keterikatan. Berarti, dari segala pemicu di luar diri yang dapat menimbulkan ketertarikan dan kerinduan.”

Gita menyampaikan hal yang sama, dan sama pula kesimpulan Buddha. Berarti, rumusan ini, sutra ini ibarat rumusan sains, ilmiah, dan bersifat empiris. Pengalaman siapa pun sudah pasti sama, maka solusi-solusi yang ditawarkan oleh Patanjali juga bersifat universal. Jika penyakitnya sama, maka obatnya sudah pasti sama pula. Tinggal menentukan dosisnya. Jika penyakitnya berat dan sudah lama, mungkin membutuhkan dosis yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan yang penyakitnya belum berat dan baru terjangkit.

UNTUK MEMUDAHKAN PEMAHAMAN KJTA, banyak sekali pecandu narkoba yang sudah “sembuh” dan “bersih”, namun hanya bertahan selama beberapa bulan. Tidak lama kemudian, mereka kembali mengonsumsi narkoba. Kenapa?

Karena pergaulan, karena ketersediaan narkoba. Lalu, bagaimana lagi? Bukankah kita sudah menyatakan perang terhadap narkoba dan menyebutnya barang haram? Bukankah tindakan kita sudah tepat?

Belum. Tindakan kita belum cukup tepat.

Buddhi mengumpamakan tindakan kita sebagai “upaya mengondomi narkoba”. Ya, tidak bisa. Yang harus dikondomi adalah pemakainya.

“Begitu adanya, Bos Hola,” Buddhi menjelaskan, “narkoba, seperti pemicu-pemicu lain di alam benda ini—rokok, lawan—gender, apa saja—adalah bagian dari prakrti atau materi, kebendaan.” –

“Termasuk lawan gender, materi juga, benda juga?”

“Ya, karena gender adalah sifat materi. Jiwa tidak mengenal gender. Tidak ada pasangan Jiwa-Jiwi. Ketertarikan kita pada seseorang, bukanlah ketenarikan J iwa. Jiwa tidak pemah tertarik atau tarik-menarik dengan perorangan. Dalam Kesadaran Jiwa, semua adalah satu dan sama.

“Yang ‘tertarik’ adalah fisik. pikiran, perasaan.

“Dan mereka tertarik dengan pasangan mereka masing-masing. Fisik tertarik dengan fisik; pikiran dengan pikiran; perasaan dengan perasaan. Hola tertarik dengan Holi; Bola dengan Boli; Gola dengan Goli. Permainan La-Li semuanya, La-Li…La-Li…La-Li…itu saja. Enggak ada urusan Jiwa, Bos.”

“LHA, HOLI KAN SOUL MATE—kU, Mas Buddhi!” Hola masih ingin membela ketertarikannya terhadap Holi, Walau sesungguhnya sudah memudar sejak lama.

Buddhi tertawa terbahak-bahak, “Hola, oh Hola, siapa yang ingin kau tipu? Siapa yang ingin kau bodohi? Aku kan intelegensimu. Apa yang terjadi pada dirimu tadi malam ketika melihat bintang iklan yang so sexy and so creamy rich di layar televisi?”

Hola tersipu-sipu, “Ya, Bos Buddhi…ya, betul. Tapi, aku tidak melanjutkan pikiranku. Padahal Bola kenal baik dengan bintang iklan ltu, malah menawarkanku untuk berternu. Aku menolak. Pikir-pikir, untuk apa?!”

“Nah, itu Hola, ‘pikir-pikir untuk apa.” Itulah suaraku,itulah aku. Dan apa yang kau lakukan, maksudku tidak melanjutkan pikiran so creamy rich, itulah nirodha.

“Masa mau melarang iklan di televisi? Kalaupun bisa, tidak membantu juga. Karena di layar televisi, layar tancap, atau di layar mind, so creamy rich bisa ada di mana-mana.

“Jadi nggak perlu mengondomi dunia benda, nggak bisa juga. Masa semua benda di dunia benda ini mau dibungkus pakai karet dan plastik? Kondomi citta-mu, benih-benih pikiran serta perasaanmu.”

BARANGKALI AWALNYA GAGAL, tidak berhasil. Namun, hendaknya tidak berkecil hati atau berhenti berupaya. Kita mesti tetap berupaya. Tidak boleh berhenti. Inilah abhyasa, upaya intensif serta repetitif, berulang-ulang.

Berupayalah untuk menarik diri, menarik citta dari pemicu-pemicu di luar diri. Kalau menggunakan bahasa Hola, “Pakai otak lah, Sampeyan. Jangan menyalahkan miras, tapi belajarlah dari botol miras. Dia tidak termabukkan. Ada miras di dalamnya pun ia tetap tegak, goyang sedikit pun tidak. Sampeyan saja yang termabukkan. Jadi, bukan salah miras. Salah Sampeyan.

“Ada miras di depan mata. Ya, ucapkan salam, selesai perkara. Tidak perlu dilanjutkan. Miras tidak pernah mengundang kamu, ‘ayo dong cicipi aku.’ Kamu saja yang geer, seolah miras itu cewek cantik, atau cowok macho yang sedang mengundang dirimu.

“Tidak, tidak ada urusan undangan. Miras, narkoba, rokok, cerutu, tidak ada yang mengundangmu. Kamu yang geer dan merasa diundang.”

Vairagya berarti Pelepasan Diri. Jika masih ada keterikatan, masih ada ketertarikan, berupayalah untuk menarik diri dari pemicu-pemicu di luar. Sekali, dua kali gagal, tak apa. Tidak perlu putus asa. Ulangi lagi—abhyasa—dan pada suatu ketika citta Anda tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu tersebut. Tiada lagi ia tergetar olehnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s