Renungan Diri: Pengaruh Konstelasi Bintang Saat Kelahiran Selaras dengan Karma Masa Lalu?

buku spiritual-astrology

Cover Buku Spiritual Astrology

Kelahiran seorang anak terjadi ‘saat’ pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu. -SRI YUKTESHWAR, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Yogananda.

Seorang guru mengaitkan “karma” dengan agama tertentu. Patut disayangkan. Apa yang akan diajarkannya kepada anak didiknya? Bahwasanya Hukum Gravitasi adalah Kristiani karena penemunya adalah seorang penganut agama Kristen? Atau, Hukum Relativitas adalah Yahudi karena penemunya adalah seorang penganut agama Yahudi? Atau, Ilmu Kimia adalah Arab karena istilah itu berasal dari bahasa Arab? Atau, Matematika itu India karena angka “0” (Nol) berasal dari India?

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

 

Hukum Karma dan Kelahiran Kita

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan.

Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Kita dapat mengubah nasib dengan cara:

 

Memperbaiki Diri

Buku ini merayu kita untuk memberdayakan diri. Bhakti Seva merayu setiap orang, setiap pembaca, apa pun rasinya, untuk memberdayakan dirinya: “Kamu bisa!”

Baik penulis buku ini, maupun saya sebagai pengulasnya, tidak tertarik untuk membahas hasil masa lalu secara detail. Hasil masa lalu ini sudah menjadi kenyataan, berupa kelebihan dan kekurangan-kekurangan kita; kekuatan, dan kelemahan-kelemahan kita.

Kita tidak perlu membedah kekurangan dan kelemahan kita, “Oh, saya begini karena begitu…. Saya menjadi begini karena pengalaman masa kecil seperti itu…” Untuk apa membedah dan mencari pembenaran? Untuk apa mencari tahu siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas keadaanku saat ini?

Ya, kita mesti mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kita, tidak hanya kekuatan dan kelebihan kita. Selanjutnya, kita mengatasi kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan diri. Sekaligus mengasah dan memperkuat kelebihan dan kekuatan diri. Itu saja.

Buku ini mengajak kita untuk melakukan hal itu, untuk:

 

Memberdayakan Diri

Sehingga kita tidak tergantung pada welas asih, apa lagi belas kasihan orang lain. Jadilah penyebar kasih…. Dan, terimalah apa yang kau dapatkan, tanpa ketergantungan. Janganlah tergantung pada apa yang kau peroleh, sekalipun adalah kasih murni 100% yang kauperoleh.

Bersyukurlah atas perolehanmu. Tetapi, sekali lagi, janganlah tergantung padanya. Jika kau tergantung pada suatu pemberian – semurni dan sebaik apa pun – berakhirlah kemandirianmu. Dan, jika kau tidak mandiri, kau tidak bebas. Kau tidak merdeka. Kemudian, keadaanmu itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Berakhirnya kemandirian adalah awal dari perbudakan.

Seorang budak menjadi demikian bukan karena keadaan, tetapi karena tidak merasa mandiri. la tidak percaya diri. la berpikir bila dirinya belum mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Perasaan seperti ini, pikiran seperti ini, mesti dibuang jauh-jauh.

Buku ini mengajak kita untuk memberdayakan diri dan menentukan sendiri masa depan kita. Untuk itu, dijelaskan bahwa alam semesta telah menyediakan berbagai macam alat-bantu yang bisa dimanfaatkan….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s