Renungan Diri: Puasa Navaratri, Menaklukkan Ego, Nafsu dan Keangkuhan

buku sutasoma Navratri_food

Makanan Navaratri

Kisah Di Belakang Puasa Navaratri

“Kemudian Sutasoma melihat sesuatu yang menakjubkan. Sosok seorang perempuan berkulit hitam. Ya, hitam arang. Kedua matanya seperti bara api. Ia memiliki beberapa lengan dan memegang senjata disetiap tangannya. Pertama ia takut. Ia berusaha untuk membuka mata….. tidak bisa… Ia lebih takut lagi, karena wanita yang menakutkan itu ada di dalam dirinya. Ia berusaha membayangkan wajah Buddha dengan senyumannya yang khas…. Tidak bisa…. Ia merasa tidak berdaya menghadapi sesuatu yang berada dalam dirinya.

“Aku Widyutkaraali. Warna kulitkan sangat hitam, maka mereka menyebutku Kali, Si Hitam: Maha Kali – Sangat Hitam. Tenaga yang kumiliki bukanlah tenaga biasa. Tenaga ini dari Widyut, dari Energi Murni, maka aku sering disebut, Widyut Kali, Si Hitam yang Penuh Energi.”

Sutasoma hanya bisa diam terperangah.

“Namun kehadiranku di dalam dirimu bukanlah sebagai Kali; bukan pula sebagai Mahakali; juga tidak sebagai Widyut kali. Aku datang sebagai Widyut Karaali….. untuk membakar kebimbanganmu. Aku datang untuk menghangus keakuanmu. Aku hadir dalam dirimu, untuk menyadarkan kamu bahwa ‘ia yang sedang mengembara’ pun adalah ‘aku’ – keakuanmu. Selama ‘aku’ masih ada, kau akan selalu ragu, karena ‘aku’ menciptakan ‘kamu’. Di mana ada ‘aku’, di sana ada ‘kamu’. Di mana ada panas, di sana ada dingin. Di mana ada suka, di sana ada duka. Di mana ada terang, di sana ada gelap. Aku datang untuk melenyapkan dualitas di dalam dirimu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

buku sutasoma kali

Dalam Kisah Navaratri, Kali adalah salah satu wujud Bunda Ilahi yang menaklukkan musuh Chanda dan Munda kemudian menghabisi Panglima Rakthabija.

Silakan baca:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/15/menaklukkan-kejahatan-dalam-diri-kisah-madhu-dan-kaitabha-dalam-kitab-devi-mahatmyam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/20/menaklukkan-nafsu-agresif-dengan-seribu-wujud-kisah-mahishasura-dalam-devi-mahatmyam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/26/menaklukkan-rasa-angkuh-dalam-diri-kisah-chanda-munda-dalam-devi-mahatmyam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/03/perang-batin-tak-kunjung-usai-kisah-shumbha-nishumbha-dalam-devi-mahatmyam/

 

Kisah Devi Mahatmyam pada Tautan di atas digunakan sebagai latar belakang Perayaan Navaratri

 

Navaratri – Perjalanan ke Sumber di Dalam Diri

Pesta Navaratri dirayakan dengan doa dan keceriaan di awal Musim Gugur dan awal Musim semi. Ini adalah periode waktu yang tepat untuk kembali ke dalam diri. Musim Semi dikaitkan dengan segala yang sudah tua diremajakan dan kehidupan muncul di musim tersebut. Musim Gugur dikaitkan dengan rontoknya keterikatan dengan keduniawian. Intinya adalah proses Daur-Ulang, proses yang berkesinambungan termasuk peremajaan. Akan tetapi apabila alam atau tanaman mengalami proses peremajaan, tidak demikian dengan pikiran kita. Perayaan Navaratri dikaitkan membawa pikiran ke sumbernya.

Manusia yakin bahwa kekuatan energi matahari menyebabkan beberapa perubahan pada alam. Awal Musim Semi dan Awal Musim Gugur adalah waktu penting terjadinya perubahan alam. Manusia perlu berterima kasih kepada Energi yang memelihara keseimbangan bumi. Karena perubahan alam, maka tubuh dan pikiran manusia juga mengalami perubahan. Manusia perlu menghormati perubahan alam ini untuk menjaga keseimbangan fisik dan mentalnya.

Meskipun Navaratri dirayakan sebagai kemenangan kebaikan atas kejahatan, pertarungan yang sebenarnya bukan antara baik dan jahat. Dari sudut pandang Vedanta, kemenangan adalah realitas mutlak mengalahkan dualitas.

Ketiga aspek feminin alam semesta  Satvik, Rajas dan Tamas. Ketiga sifat satvik, rajas dan tamas dikendalikan dan dilampaui dengan cara melakukan persembahan kepada Bunda Ilahi. Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas dalam diri.

Manusia akan kembali ke Sumber di dalam dirinya melalui puasa, doa, keheningan dan meditasi. Malam juga disebut ratri karena membawa peremajaan. Puasa mendetoksifikasi tubuh, keheningan memurnikan ucapan, dan meditasi menoleh ke dalam diri sendiri.

Tiga hari pertama Navaratri dikaitkan dengan Tamo guna, tiga hari ke depan untuk rajo guna dan tiga hari terakhir untuk sattva guna. Setelah itu baru merayakan hari kesepuluh sebagai Vijaydashmi.

 

Puasa selama Navaratri

buku rahasia-alam-500x500

“Mulailah dengan Puasa. Itulah password yang anda butuhkan untuk memasuki alam rahasia. Akan tetapi puasa yang saya maksud bukanlah puasa biasa. Puasa yang saya maksud ialah puasa pengendalian diri, puasa untuk mengatasi kelemahan diri. Puasa yang saya anjurkan ialah puasa seumur hidup sejak saat ini. Janganlah anda makan berlebihan. Jangan pula menahan lapar mati-matian. Isilah perutmu dengan 70 persen cairan, sisa 30 persen dengan makanan padat.” (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“ Tujuan puasa adalah untuk membiarkan nafas atau energi kehidupan mengalir leluasa ke seluruh tubuh, lewat setiap urat, setiap syaraf. Dalam keadaan puasa, urat urat dan jaringan syaraf kita menjadi lebih reseptif terhadap energi kehidupan, terhadap nafas. Tidak ada blokade blokade lagi, sehingga energi bisa melewatinya dengan lebih leluasa.”  (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Badan butuh istirahat, dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan puasa. Kendati demikian, puasa bukanlah kebutuhan badan saja. Energi yang dibutuhkan oleh badan dan diperolehnya lewat makanan dana minuman digunakan pula oleh otak untuk berpikir, dan oleh jiwa untuk merasakan sesuatu. Karena itu, saat badan berpuasa, pikiran dan perasaan pun ikut berpuasa. Manusia mendengar dengan sepasang telinga, melihat dengan mata, mencium dengan hidung, dan merasakan dengan kulitnya. Bagi telinga, apa yang terdengar itulah makanan dan minuman. Bagi mata, apa yang dilihatnya itulah makanan dan minuman. Bagi hidung, apa yang tercium adalah makanan dan minuman. Dan, bagi kulit apa yang dirasakannya itulah makanan dan minuman. Setiap indra yang melakukan kegiatan makanan dan minum juga membutuhkan puasa. Setiap indra membutuhkan istirahat. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna dengan baik apa yang telah diterimanya.”  (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Puasa Navaratri dilakukan sekitar 9 hari sebagai penghormatan terhadap energi feminin dalam diri. Kecenderungan manusia adalah terjebak dalam pola tertentu. Pola makan tertentu sebenarnya adalah tanda disiplin dari diri, akan tetapi pola yang membelenggu juga merupakan kelemahan. Saat terlibat dalam makanan kita sering lupa bahwa seharusnya kita makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh mempunyai kapasitas tertentu, akan tetapi indra kita selalu craving, sangat butuh untuk dipenuhi. Puasa memberi kesempatan pada tubuh untuk keluar dari pola lama yang membelenggu dan memberi arah yang baru.

Kita perlu memberikan kesempatan kepada tubuh dan pikiran kesempatan untuk keluar dari pola lama dan memberikan arah baru. Kecenderungan pikiran manusia adalah untuk memakai pola dan terjebak dengan pola tersebut. Mengikuti pola adalah tanda dari disiplin diri,akan tetapi  ia pun juga memiliki kelemahan. Ketika makan, kita sering lupa bahwa kita harus makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh membutuhkan tidak begitu banyak membutuhkan makanan, akan tetapi indra terus mendambakan, dan kita terus memberi makan. Jadi, puasa memberi kesempatan untuk tubuh dan pikiran untuk keluar dari pola dan memberikan arah baru.

 

Puasa Navaratri, Puasa Jangka Pendek dan Puasa Garam

Ayurveda telah berbicara panjang lebar tentang manfaat puasa. Puasa merupakan cara yang efektif untuk menyalakan api pencernaan dan membakar akumulasi racun dari tubuh dan pikiran. Hal ini juga menghilangkan gas, mencerahkan tubuh, meningkatkan kejernihan mental, memberikan lidah bersih dan nafas segar, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Bagaimana pun, tidak direkomendasikan puasa jangka panjang, yang bisa menguras jaringan tubuh dan menciptakan ketidakseimbangan. Berkah puasa jangka teratur dan pendek, yang bisa pada hari yang sama setiap minggu atau beberapa hari setiap bulan, semua tergantung pada keadaan individu dan persyaratan pembersihan.

Ada konsumsi lebih garam dalam makanan kita hari ini daripada kebutuhan normal tubuh. Hal ini dapat dilihat dalam peningkatan kejadian retensi air dalam tubuh, faktor utama untuk hipertensi dan masalah kardiovaskular. Puasa membantu tubuh “menghilangkan garam”.

Bahan bacaan: art of living: journey to the source

Catatan Puasa Navaratri tahun 2015: 13-21 Oktober 2015

Yang bisa dimakan: Singkong, Ubi, talas, Kentang, Air Putih dan Juice, Buah-Buahan (kecuali Tomat, Wortel, Mentimun), Gula Merah, Coklat Silver Queen (diperiksa yang ingredient tanpa garam), Susu Murni, Syrup Mawar, Jeruk Nipis, Merica.

Yang Tidak Boleh: Apa pun yang mengandung garam, The dan Kopi dibatasi, Nasi, Roti, sayuran, Mentega/butter, Telur, Daging.

buku sandi-sutasoma_res

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Diri: Puasa Navaratri, Menaklukkan Ego, Nafsu dan Keangkuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s