Renungan #Gita: Menjelang Ajal, Film tentang Hidup Kita Diputar, Penyesalan dan Keterikatan Muncul

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 8:10

“Saat tibanya waktu meninggalkan raga, jika seorang yogi berpikiran tenang, terkendali, dan berjiwa penuh devosi – memusatkan prana atau aliran kehidupannya di tengah kedua alis-mata; maka, niscaya ia mencapai Sang Purusa – Gugusan Jiwa yang Suci.” Bhagavad Gita 8:10

 

“Lagi-lagi, jangan menyalahtafsirkan ayat ini. Kita tidak bisa melakukan apa yang disarankan ini – walau sesungguhnya sangat mudah – jika tidak melakoni Yoga sepanjang usia. Saat ajal tiba, baru mau melakukan pranayama – pengaturan napas – ya, tidak bisa. Saat itu kesadaraan kita akan melayang kemana-mana.

“Sesaat sebelum Jiwa berpisah dari Badan – Sesaat sebelum perpisahan itu betul-betul terjadi, mulailah pertunjukan kolosal – film tentang hidup kita. Saat itu terjadi penyesalan, muncul keterikatan, dan sebagainya. Dan, apa yang terjadi saat itu menjadi benih bagi kehidupan berikut.

“Nah, jika saat itu kita memusatkan seluruh pikiran, kesadaran, dan napas di tengah kedua alis mata sambil mengenang Gusti Pangeran, maka kita tidak akan terganggu oleh gambar-gambar yang disaksikan. Kita hanya menjadi saksi saja, penonton saja. Kemudian, karena tidak terpengaruh, maka pertunjukan akan berhenti dengan sendirinya; dan, kita manunggal dengan Purusa – Gugusan Jiwa, Cahaya Murni Sang Jiwa Agung. Kita seolah keluar dari satu teater dan measuki teater lain.

“Dalam hal ini, mencapai Purusa aatau Gugusan Jiwa yang suci adalah suatu keadaan di mana Jiwa-Individu terbebaskan dari segala bayang-bayang kebendaan, dan ia menyatu dengan Cahaya Murni Jiwa Agung. Di mana tiada lagi setitik pun kegelapan. Keadaan ini disebut bardo dalaam tradisi Tibet atau barza oleh para sofie atau sufi. Ini adalaah keadaan transisi sesaat.

“Dalam keadaan ini, kendati Jiwa Individu atau Jivatma, Sinar – sudah menyatu dengan Gugusan Jiwa atau Purusa, Cahaya – tetap juga masih memiliki wujud sebagai cahaya. Belum sepenuhnya manunggal dengan Jiwa Agung atau Paramatma Hyang melampaui segala dualitas, termasuk terang dan gelap. Para Yogi yang telah mencapai Purusa, masih bisa ‘lahir kembali’ sebagai Avatara, Utusan Mesias, atau apa pun sebutannya. Bukan untuk menyelesaikan hutang-piutang karma. Mereka tidak memiliki neraca seperti itu. Mereka datang untuk membantu kita yang masih menderita sebab ilusi-dualitas.

“Kembali pada sloka atau ayat ini. Setelah memahami, what, sekarang how?

“Bagaimana caranya? Gampang, mudah. Kuncinya, sekarang ketika masih berbadan, Jiwa mulai menyadari bila ia bukan badan. Ia hanyalah sedang menyaksikan kejadian-kejadian yang terjadi karena interaksi badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan dengan dunia benda.

“Lagi-lagi menjadi penonton, berarti, ya, menjadi penonton. Sepanjang hidup, pertunjukan di atas panggung kehidupan berjalan terus. Taruhlah kita meninggalkan keramaian dan menjadi petapa di tengah keheningan hutan atau desa terpencil, itu pun pertunjukan! Hanya saja pemerannya barangkali berkurang.

“Asal, tidak terkecoh oleh pikiran! Walau pemeran berkurang, pikiran bisa menciptakan karakter-karakter dalam bentuk wayang khayalan. Jika itu terjadi, maka keramaian atau keheningan sama saja. Di mana-mana tetap ramai. Hutan pun kembali menjadi kota!

“So, intinya, latihan paling mudah ini hanya bisa dilakukan dan menjadi efektif, jika sekarang dan mulai saat ini juga kita bergaya hidup Yoga. Lakoni Yoga seutuhnya, setiap bagiannya, bukan sekadar gerak badan atau asananya saja. Ikutilah Yoga-Sadhana dari awal hingga akhir. Jadilah seorang Karma Yogi – berkarya tanpa mengharapkan hasil bagi diri, namun dengan tujuan mulia yang jelas.

“Menjadi Karma-Yogi juga berarti, berserah diri dengan semangat manembah. Berlatih pranayama setiap saat memiliki waktu, bukan sekadar 10-20 menit sehari dengan menggunakan stop-watch supaya tidak lewat – rugi! Dengan cara itu kita belum bisa menjadikan Yoga sebagai gaya hidup. Ia sekadar latihan saja.

“Sebaliknya, jika setiap orang yang berlatih Yoga mencapai-Nya – maka kacau juga. Toko dunia akan tutup. So, tanpa mengkritisi para “Yogi Mall, Gym, dan studio” – Mari mengurusi diri sendiri. Hiduplah dalam Yoga dan berlatihlah untuk mencapai Yoga – kebebasan mutlak, kemanunggalan sejati.

“Sesungguhnya, seorang Yogi tidak perlu mati-raga untuk mengalami kebebasan dan kemanunggalan. Ia sudah mengalaminya dalam hidup ini. Saat ajal tiba, ia hanya melanjutkan pengalamannya secara lebih intensif, lebih dahsyat lagi!”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s