Renungan Patanjali: Keterikatan Tumbuh dari Benih Ketertarikan? Yoga Berupaya Benih Tak Bertunas!

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Meditasi, antara lain, adalah upaya penghalusan Gugusan Pikiran dan Perasaan atau mind. Hasilnya adalah Buddhi, kemampuan untuk memilah antara yang mulia dan tepat, dan yang tidak mulia dan tidak tepat. Namun dengan Buddhi saja kita tidak bisa menyadari jati diri kita – jati diri yang ‘sejati’ – Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati.

UNTUK MENYADARI-NYA, Buddhi mesti bergabung dengan kesadaran awal, dengan benih-benih pikiran dan perasaan atau, dengan Citta, sehingga ia berhenti mengurusi hal-hal di luar diri dan menoleh ke dalam. Saat itulah ia baru menyadari kesejatian dirinya. Inilah Jalur Meditasi atau Raja Yoga untuk mencapai kesadaran diri.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 13:24 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sejalan dengan penjelasan tersebut, dalam Sekapur Sirih, Pengantar dari Buku Yoga Sutra Patanjali disampaikan bahwa: “Tujuan utama Yoga adalah “Mendaur Ulang”Mind dan hasilnya adalah Buddhi – Intelegensia, kemampuan untuk memilah antara tindakan, ucapan, pikiran serta perasaan yang tepat; dengan tindakan, ucapan, pikiran serta perasaan yang tidak tepat.

Selanjutnya, dalam Yoga Sutra Patanjali I.2 disebutkan bahwa sebelum menjadi mind, saat masih berupa benih, itulah yang disebut Citta. Sebagai kesimpulan: sutra pertama (I.1) Disiplin Diri adalah Yoga; sutra kedua (I.2) Displin Diri atau Yoga adalah menghentikan aktivitas Citta.

 

Berikut penjelasan tentang Citta:

“Di luar itu (jika citta tidak terkendali, maka), terjadilah Keselarasan dengan Perubahan-Perubahan (Sang Jiwa Individu mengidentifikasikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut).” Yoga Sutra Patanjali I.4

“Di luar itu,” berarti di luar saat-saat ketika terjadi penghentian vrtti akan gerak-gerik citta atau benih pikiran dan perasaan.

MAKSUDNYA, KETIKA CITTA DIBIARKAN TERGETAR atau tergerakkan, dibiarkan “ber”-vrtti, maka Jiwa Individu mulai mengidentifikasikan dirinya dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

Untuk mudahnya, ketika benih belum membuahi indung telur, ia tetaplah benih. Saat itu Ia tetaplah Purusa, Cahaya Matahari yang Tak Terpisahkan dari Matahari dan menerangi Alam Kebendaan, atau Semesta sebagaimana kita mengenalnya; sebagaimana kita mengartikan istilah “semesta”.

Nah, “di luar saat itu”, ketika benih sudah memasuki indung telur; ketika benih bersama indung telur sudah dalam proses membentuk janin, maka Sang Purusa, Sang Saksi dalam salah satu Wujud-Nya sebagai Jiwa Individu mulai mengidentifikasikan dirinya dengan janin. Kelak, ia pun akan mengidentifikasikan dirinya dengan setiap pembelahan yang terjadi pada janin.

Dari Sudut Pandang yang Beda, ketika riak atau “benih-ketertarikan” kita pada sesuatu—entah seseorang atau salah satu benda di Alam Benda ini—tidak berlanjut, tidak berbuah, tidak “bertunas”, maka tidak terjadi apa-apa.

Tetapi, ketika “benih-ketertarikan” itu bertunas, maka timbullah keterikatan pada “tunas” dan perubahan-perubahan lain yang terus terjadi pada tunas tersebut.

Untuk memahami hal ini, barangkali kita perlu bertemu kembali dengan Hola yang sedang berdiskusi dengan Buddhi, dengan Inteligensi Dirinya.

“MAKSUDMU APA BUDDHI? AKU MASIH BELUM PAHAM,” Hola mengeluh.

“Maksudku Hola, anakmu Si Dungu Dakocan itu berasal dari mana?”

“Ya, lahir dari rahim ibunya, dari istriku.”

“Dan, indung telur istrimu itu dibuahi oleh sperma bukan?”

“Ya, begitulah.Ya, kurang lebih begitu, ya, ya, spermaku.”

“Pikirkan, Hola. Sebelum itu, sebelum secuil spermamu berbuah dan sekarang berbentuk Dakocan, putramu, sudah berapa botol sperma yang telah kau sia—siakan dengan berbagai cara?”

“Ya, nggak tahu, Buddhi. What are you getting at? Maksudmu apa?”

“Maksudku, kau bahkan tidak tahu berapa botol sperma, yang setiap botol entah mengandung berapa ‘tetes’ sperma yang setiap tetes sperma itu berpotensi untuk menjadi Dakocan, telah kau sia-siakan selama ini.”

“Ya, so? Aku kan tidak pemah berpretensi sebagai selibat!”

“Maksudku bukan itu. Urusannya bukan selibat atau tidak selibat. Perkaranya adalah bahwa kamu tidak terikat dengan benih-benih, sekian banyak sperma, yang telah kau sia-siakan. Bahkan, kau tidak ingat seberapa banyak! Tapi kau terikat dengan Dakocan, setetes sperma yang telah bertunas dan menjadi Dakocan. Kau ‘mengganggapnya’sebagai anak. Padahal, sudah ada begitu banyak ‘anak-anak’ lainnya yang tersia-siakan begitu saja. Pasalnya, mereka belum berbentuk sebagai Dakocan. Masih berupa benih.”

Hola tercerahkan!

Bagaimana dengan kita? Paham?

BENIH CITTA BELUM BERTUNAS; ketika sperma Hola belum menjadi Dakocan, tidak ada keterikatan. Berapa botol sperma dengan “potensi” untuk rnenjadi entah berapa banyak Dakocan, terbuang begitu saja. Tidak ada penyesalan.

Tapi ketika “setetes” sperma berubah menjadi Dakocan, maka ia menjadi “anakku”. Sekarang, apa pun yang terjadi pada anak itu mampu mengganggu tidur Hola. Sekarang, si Dakocan besar bisa membahagiakan Hola sekaligus membuatnya gelisah pula. Segala pasang surut yang dialami Dakocan, seolah Hola sendiri yang mengalaminya.

Demikianlah maksud Patanjali.

Jika tidak mau terobrak-abrik oleh berbagai pengalaman dalam hidup ini, jika tidak mau “dipermainkan” oleh perubahan-perubahan yang terjadi di alam benda, waspadailah selalu gerak-gerik Citta Anda! Hentikan Cilta bergetar, bergerak, dan kita bisa tetap berada pada kesadaran Jiwa yang tak terpisahkan dari Hyang Agung.

Saat itu, ibarat jalan di luar rumah terendam banjir, tapi rumah kita tetap kering. Air got tidak meluap atau merendam rumah kita.

TAPI JIKA AIR GOT MELUAP, rumah kita pun akan mengalami pengalaman sama yang terjadi pada jalan di luar rumah. Di luar kebanjiran, di dalam pun rumah terendam.

Hola merenung kembali, “Iya, ya, Dakocan itu kan hanya setetes sperma yang kebetulan sudah berwujud. Maka, aku terikat padanya. Sperma berbentuk itu kusebut anakku. Yang belum berbentuk terbuang begitu saja tanpa penyesalan dan keterikatan. Permainan macam apa pula ini?”

Inilah permainan “macam” Alam Benda atau Materi dan Jiwa atau Energi; Prakrti dan Purusa; indung telur dan benih… Inilah Pergelaran Semesta.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s