Renungan Diri: Mind Sakit Dulu Baru Tubuh dan Cara Mengelola Mind lewat Meditasi

buku mederi

Cover Buku Mederi

Disampaikan oleh dr. Bambang Setiawan, Ahli Bedah & Bedah Syaraf pada Acara Diskusi“Ilmu Medis & Meditasi” di Bukit Pelangi, Jawa Barat, 31 Juli 2004

Ilmu medis tidak bisa dipisahkan dari penyakit. Untuk itu, mari kita melihat penyakit itu apa? Setidaknya kita mengenal dua macam penyakit, yaitu psychological dan organic. Biasanya disebut “penyakit psikis” yang berkaitan dengan mind manusia, dan “penyakit organik” yang berkaitan dengan tubuh manusia.

Nah, mana yang duluan? Bila kita jatuh sakit, mana yang sakit duluan, mind kita atau tubuh kita? Saya sengaja menggunakan bahasa Inggris, mind, seperti yang juga digunakan oleh Bapak Anand Krishna, karena istilah ini bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi panjang sekali. Mind adalah adalah rentetan pikiran, perasaan, rasa dan emosi. Dan, penyakit dimulai dari mind. Kemudian, ia mengekspresikan ke tubuh kita, ke organ kita, ke sel-sel dalam tubuh yang membentuk organ. Biasanya, setelah penyakit sudah menular ke tubuh, kita baru menyatakan orang itu sakit.

Pertanyaan kita, soal mana yang duluan: mind atau tubuh yang jatuh sakit lebih dulu, terjawab sudah. Jelas, mind. Ya, mind yang lebih dulu jatuh sakit. Baru, setelah itu, badan kita, tubuh kita. Berarti, kalau tubuh kita sakit, sesungguhnya ada yang tidak beres dengan mind kita. Sebab itu, dalam program-program pelatihan yang diberikan oleh Bapak Anand Krishna, ada yang disebut Mind Culturing — Mengelola Mind. Apa yang dilakukan beliau sudah tepat sekali, karena badan hanyalah alat dari mind. Makanya, yang harus diolah dengan  baik, diobati, adalah mind, bukan badan.

Memang betul, bila badan sudah terlanjur sakit, harus ada penanganan pertama dengan memberinya obat atau perawatan Iain. Tetapi untuk selanjutnya, mind yang harus diolah, dirawat, atau dalam bahasa Bapak Anand Krishna, dibudayakan.

Ilmu Medis modern baru mengakui hal ini. Para ilmuwan kita baru bisa menerima mind sebagai penyebab utama segala macam penyakit. Riset membuktikan bahwa 75 persen yang kita derita disebabkan oleh mind, sisanya karena virus, kecelakaan dan lain sebagainya. Padahal, para master,para ahli yoga misalnya, sudah menyimpulkan hal itu ribuan tahun sebelumnya.

BapakAnand Krishna, bahkan berkesimpulan bahwa 25% penyakit yang menurut para ilmuwan kita tidak disebabkan oleh mind, sebetulnya masih juga berkaitan dengannya. Saya setuju dengan pendapat beliau. Contohnya, orang yang tenang, daya tahan tubuhnya membaik, sehingga ia dapat bertahan terhadap serangan virus. Sebaliknya, orang yang tidak tenang, dalam keadaan stress, daya tahan tubuhnya anjlok, tidak mampu bertahan.

…….

Bagi saya, Mind adalah pencipta.

Bila ia mencipta sesuatu yang baik, sehat, maka kita menjadi baik, tubuh pun sehat. Bila ia mencipta sesuatu yang tidak baik, tidak sehat, maka kita menjadi tidak baik, tubuh pun jatuh sakit. Mereka yang mengidolakan badan dan menganggap badan segalanya, tidak mengetahui hal ini.

Bagaimana mengendalikan Mind?

Seperti yang dijelaskan dalam hampir setiap buku yang ditulis oleh Bapak Anand Krishna — dengan Awareness atau “Kesadaran”. Hanyalah Kesadaran yang dapat mengendalikan mind. Yang dimaksud adalah Kesadaran “Ter”-tinggi Manusia, Bapak Anand menyebutnya Kesadaran Murni. Kesadaran “Ter”—tinggi yang dapat dicapai oleh manusia.

Saat ini pun kita sadar. Tapi, kesadaran kita masih sangat rendah. Misalnya, orang yang berhalusinasi, berkhayal pun sesungguhnya sadar — tapi kesadarannya ilusif. Ia masih berkesadaran rendah. Orang yang menganggap dirinya terpisah dari Tuhan, sesungguhnya masih berkesadaran ilusif. Ia berhalusinasi. Berkesadaran tinggi, manusia sadar bahwa dirinya hanyalah “percikan” dari Kesadaran Murni, dari Tuhan!

Dalam meditasi, kita mencapai Yang “Ter”-tinggi itu, Kesadaran Murni. “Ter” di sini saya gunakan bagi sesuatu yang “Tidak Terbatas”, bukan sekadar “paling”. Bila saya katakan Kesadaran paling Tinggi, maka saya membatasi kesadaran itu sendiri. Padahal, Kesadaran Murni dalam bahasa Bapak Anand Krishna itu berarti sesuatu Yang Tak Terbatas.Untuk mencapai itu, kita harus me-manage mind kita. Kira harus mengolahnya dengan baik. Meditasi adalah caranya.

Berada dalam alam meditasi, kita baru bisa melihat denganjernih. Kita baru memahami peran mind, dan peran Kesadaran.

Interaksi mind dengan alam menciptakan Keberadaan, segala apa yang terwujud, segala apa yang terlihat. Karena, interaksi ini sangat dinamis, dan sifat mind itu sendiri yang berubah terus, maka Keberadaan pun tampak berubah. Dan, perubahan itu abadi, terjadi terus. Tak pernah berhenti. Manusia merupakan bagian dari keberadaan yang dinamis ini. Ia terciptakan dan menciptakan. Bila ditarik ke belakang terus, saya tercipta oleh siapa, karena siapa, dan yang menciptakan saya tercipta oleh siapa, karena siapa… maka kita akan memasuki alam penuh misteri. Pertanyaan kita tak pernah terjawab, dan “misteri yang tak terungkap” itu kita sebut Tuhan. Bila kita memahami hal ini, maka selesailah segala persoalan kita.

Saat ini, kita belum memahami hal ini‘ MaKa,kita terperangkap oleh sesuatu yang sebenarnya ciptaan mind kita sendiri. Mind kita pula yang menciptakan keinginan utuk memiliki, dan bersama keinginan itu terciptalah perpisahan, Otonomi Diri, “Ini Aku, itu Dia. Ini wujud-‘ku’. Itu wujud ‘dia’. Aku aku, dia dia, kita beda!” Ini yang disebut ilusi. Perpisahan yang kita rasakan antara manusia dan manusia, antara manusia dan wujud-wujud lain kehidupan, antara manusia dan Tuhan, sungguhnya berasal dari kesadaran ilusif ini. Dan Kesadaran ilusif inilah yang menjadi problem  manusia‘. Kesadaran ilusif inilah yang menimbulkan problem sepanjang zaman. Dalam kesadaran ilusifini kita menciptakan perbedaan, kemudian terperangkap dalam konflik ciptaan kita sendiri.

Ironisnya, kita menanggapi konflik-konflik itu, dan setiap tanggapan menciptakan konflik baru. Seharusnya kita sadar bahwa konflik semacam itu berasal dari kesadaran ilusif, dan bila kesadaran ilusif terlampaui, konflik pun ikut terlampaui.

Dalam kesadaran ilusif kita menciptakan “aku” ilusifdengan segala atributnya, keinginan-keinginan serta rasa kepemilikannya. Bila satu pun keinginan tak terpenuhi, kita kecewa, sakit hati, dan menciptakan stress bagi diri scndiri. Kemudian kita mencari kambing hitam di luar diri. Kita menyalahkan orang lain atau keadaan. Demikian yang terjadi sejak manusia pertama terperangkap dalam kesadaran ilusif ciptaannya.

Kesadaran ilusif menciptakan wujud-wujud yang berbeda. Kesadaran ilusif pula yang menyebabkan recycling, daur-ulang atau reinkarnasi. Keinginan-keinginan yang tak tercapai menciptakan wujud baru, menyebabkan kelahiran ulang dan seterusnya.

……..

Selama ini,pemahaman kita tentang “ciptaan” juga barangkali belum tepat. Kita melihat pohon dan gunung dan sungai, kemudian menyimpulkan pasti ada yang menciptakan semua itu. Kemudian, karena pemahaman kita tentang penciptaan itu seperti seseorang membangun rumah. Maka, muncul pertanyaan berikutnya: Siapa yang membangun? Siapa yang menciptakan? Bahan bakunya apa, diambil dari mana? Biasanya kita tidak mau pusing,jawab saja: “Tuhan” — titik.

Lalu Tuhan apa, siapa? Dan, dari mana Ia memperoleh bahan baku untuk menciptakan bulan, bintang, matahari, dan pIanet-planet lain yang tak terhitung jumlahnya. Sesungguhnya peetanyaan ini masih dapat dijawab, bahan bakunya Keberadaan itu sendiri, Kesadaran itu sendiri‘ Dan, diri kita, diri setiap manusia, setiap makhluk, dan setiap benda juga tercipta oleh Keberadaan yang sama, Kesadaran yang sama. Keberadaan adalah Whole, Besar, kita bagiannya, kecil — tapi tak ada perpisahan. Kira tidak pernah berpisah dari Keberadaan.

Di bawah bimbingan Bapak Anand Krishna kita sudah mulai memahami hal ini. Sebab itu, marilah kita mulai dari kelompok kita yang kecil ini. Kita meyakinkan diri sendiri: Tak ada perpisahan. Sesungguhnya aku dan kamu satu. Dan, kita semua merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kcberadaan yang sama.

Saya yakin bahwa apa yang kita pahami, apa yang saat ini baru dipahami oleh kelompok kecil, akan meluas. Awalnya, tidak ada lagi konflik dalam diri kita. Kemudian, dalam kelompok kita, antara sesama peserta meditasi. Kemudian, kita pun tak akan berkonflik dengan segala sesuatu di luar diri.

Karena apayang ada di luar juga ada di dalam diri kita. Kita semua satu.

Hal ini sudah terbukti secara ilmiah. Kita semua dipertemukan oleh suatu Medan Energi Elektromagnetis. Bukan saja kita, tetapi kita dengan bintang yang terjauh di langit sana — medan energi ini mempertemukan, mempersatukan kita semua. Jarak dengan bintang itu boleh lebih dari 500 tahun cahaya, namun kita tetap bersatu.Tampak terpisah, sesungguhnya kita tidak pernah berpisah, tidak bisa berpisah. Unified Field of Energy atau Medan Energi Terpadu,yang sering dibicarakan juga oleh Bapak Anand Krishna, mempersatukan kita semua.

Berarti, somehow, apa yang saya lakukan, kita lakukan, mempengaruhi bintang yang terjauh, bahkan galaksi terjauh. Begitu pula, apa yang terjadi di sana, mempengaruhi kita. Kesimpulannya, dengan me-manage diri kita ikut memanage alam. Dengan membiarkan diri kacau, kita mengacaukan alam. Semuanya harus diawali dari diri sendiri. Untuk itu, mari kita lihat, ada apa saja di dalam diri kita.

Dikutip  dari buku (Krishna, Anand. (2005). MedEri MedisMeditasi Persepsi Baru Bagi Manusia Baru. One Earth Media)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s