Renungan #Gita: Suka Duka Akibat Identifikasi Diri Sebagai Badan; Jiwa Hanya Menyaksikan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Badan terkait elemen alami, Jiwa adalah percikan Ilahi, badan merasakan kesan suka-duka, Jiwa hanya menyaksikan. Silakan baca Catatan sebelumnya: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/07/20/renungan-gita-kebenaran-relatif-sudut-pandang-materi-dan-kebenaran-mutlak-sudut-pandang-jiwa/

 

Bhagavad Gita 13:22

“Sesungguhnya Jiwa yang bersemayam di dalam badan adalah (sama dengan sumbernya) Mahesvara, Hyang Maha Agung; maka, Ia disebut saksi, pemandu, pendukung, yang mengalami segala pengalaman, Ia pula adalah Paramatma, Jiwa Agung, Sang Purusa Tertinggi” Bhagavad Gita 13:22

 

“Banyak sekali sebutan bagi Paramatma, Sang Jiwa Agung, Hyang bersemayam di dalam diri kita ‘lewat percikan-Nya’, sehingga kesan yang kita peroleh seolah ada perpisahan antara Dia dan percikan-Nya.

“SESUNGGUHNYA PERPISAHAN TERSEBUT, seperti yang telah kita bahas sebelumnya, adalah sama seperti perpisahan antara matahari dengan sinarnya, atau laut dengan gelombangnya. Perpisahan tersebut adalah ilusif, sebuah kesan belaka. Sebagaimana sinar matahari tidak pemah berpisah dari matahari, gelombang tak pernah berpisah dari laut — demikian pula Jiwa Individu atau Jivatma tidak pernah berpisah dari Paramatma, Sang Jiwa Agung.

“Ketika sinar matahari berinteraksi dengan benda-benda di alam ini, maka terjadilah berbagai macam pengalaman. Terciptalah berbagai macam ‘kesan’.

“RUANGAN TEMPAT SAYA BERADA SAAT INI – boleh dikata cukup gelap. Sinar matahari di luar terhalangi oleh tembok-tembok tinggi tanpa jendela yang cukup. Maka, ‘kesannya’ ruangan ini gelap. Berada dalam ruangan yang ‘kesannya’ gelap ini, saya pun mengalami kegelapan dan membutuhkan Iampu tambahan unluk menulis kalimat-kalimat ini. Kegelapan yang saya alami ini, sesungguhnya dialami oleh Jiwa Individu yang bersemayam di dalam badan ini. Kegelapan ini adalah pengalaman nyata bagi ‘badan’, karena keberadaannya di ruangan tanpa jendela dan ventilasi yang cukup. Tapi, ‘apakah kegelapan yang saya alami ini adalah kebenaran?’

“Jawabannya: Tidak.

“Kegelapan adalah kesan yang diperoleh, pengalaman sesaat yang sedang dialami oleh ‘percikan Jiwa Agung tertentu’ — percikan spesifik — yang sedang bersemayam di dalam badan ini, badan yang spesifik pula. Dan badan ini adalah produk alam — terbuat dari elemen-elemen alami.

“DI LUAR RUANGAN INI ada sekian banyak percikan-percikan lain yang tidak mengalami apa yang sedang dialami oleh percikan ini. Kesan mereka, pengalaman mereka beda!

“Bagi Sang Jiwa Agung, semua kesan, semua pengalaman adalah untuk sesaat saja. Kesan-kesan ini, pengalaman-pengalaman ini hanyalah ‘disaksikan-Nya’.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Jika Jiwa Individu di dalam badan ini dapat mengidentifikasikan dirinya dengan Sang Jiwa Agung, ‘saya hanyalah percikan Sinar Matahari’ – maka ia terbebaskan dari pengalaman gelap sesaat, pengalaman suka dan duka. Suka dan duka sesaat di alami karena ‘saya’ — percikan Sang Jiwa Agung yang spesifik ini — Jiwa Individu ini, mengidentifikasikan dirinya dengan badan. Kemudian jika badan kepanasan, ia pun merasa kepanasan. Jika badan kedinginan, ia pun ikut kedinginan.

“KRSNA MENGAJAK ARJUNA untuk memindahkan identifikasi diri dari badan kepada Jiwa, dan menyadarinya bila Jiwa Individu hanyalah percikan dari Jiwa Agung, yang sesungguhnya tidak pernah berpisah.

“Saat itu, percikan Jiwa menjadi ‘Saksi’ bagi setiap pengalaman, ‘Oh, badan ini merasa panas, kegerahan karena berada di dalam ruangan yang tidak cukup ventilasi,’ atau, ‘badan ini kedinginan karena cuaca di Iuar memang sangat dingin’. Ia menjadi saksi bagi setiap pengalaman yang beragam.

“Saat itu,

“JIWA MENJADI PEMANDU SEJATI BAGI BADAN – Saat itu ia menjadi Penguasa dan tidak lagi dikuasai oleh pengalaman-pengalaman di luar. Saat itu ia adalah absolut. Tidak berkurang, atau tidak bertambah karena terjadinya perubahan-perubahan di luar, pada badan, atau dengan indra.

“Alam semesta pun, kemudian menjadi medan laga dalam pengertian sesungguhnya. Saat ini ia bermain di dalam ruangan gelap, sesaat lagi di luar ruangan, di bawah langit yang tak terbingkai.

“Ketika Jiwa menyadari hakikat dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, ia menjadi Pendukung dan Pemelihara raga. Ia berperan sebagai Visnu — Sang Pemelihara. Ia akan menjaga kesehatan badan, kemulusan kendaraan, karena ia hendak menggunakannya untuk mengumpulkan berbagai pengalaman hidup.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s