Renungan Diri: Ketertarikan Jasmani atau Kasih Rohani? Reaksi Kimiawi Tubuh Tak Menyentuh Jiwa ?

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Rahasia Alam

Sekarang tentang Lapisan Dalam, ”aku dalam”: Ia yang menyadari (adanya unsur-unsur) tanah, air, api, angin dan ruang di dalam dirinya; Ia yang sadar akan keterikatan dan ketidakterikatan, suka dan duka, hawa napsu, ilusi serta keraguan; Ia yang sadar akan suara, kata, perbedaan, serta makna di balik setiap kata dan suara;Ia yang mengapresiasi tarian, nyanyian musik dan segala bentuk seni lainnya; Ia yang sadar akan ketidaksadaran diri, tingkat kesadaran lain termasuk saat menguap; Ia yang mendengar, mencium, merasakan, memikir,menghayati, melakukan, membedakan satu dari lain; Ia yang mengingat, mempelajari sejarah, hukum, spiritualitas dan kitab-kitab suci; Ia yang dapat memisahkan pendengaran, penciuman, dan daya pesona dari tindakan fisik lainnya, Ialah Lapisan Dalam dirimu. Atmopanishad dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lima unsur alam yang ada di luar diri ada juga di dalam diri. Dan, aku harus menyadarinya. Persoalannya, “aku” mana yang harus menyadarinya? Menyadari keberadaan lima unsur tersebut juga berarti merasakan kehadirannya, kemudian “aku” siapa yang dapat merasakan hal itu?

Otakku dapat memahami keberadaan mereka, tapi tidak dapat merasakannya. Secara ilmiah pun terbukti sudah bahwa otak tidak memiliki rasa. Saat dibedah pun ia tidak merasa sakit. Otak masih merupakan bagian dari fisik kita, dari Lapisan Luar, dari “aku luar”, persis seperti anggota badan lainnya. Ia terbuat dari adonan tanah, air, api dan angin. Ia memiliki ukuran dan bobot tertentu dan membutuhkan ruang untuk penempatan dirinya. Keberadaan otak sangat tergantung pada lima unsur alam. Dan ia mengetahui hal itu tapi tak mampu merasakannya, sebagaimana mata kita dapat melihat segala sesuatu di luar, tapi tidak mampu melihat sesuatu di dalam diri. Bahkan untuk melihat dirinya saja, ia membutuhkan alat bantu – cermin.

Lapisan Luar atau badan kita, menurut ilmu medis, merupakan penjabaran dari otak. Lalu otak itu sendiri merupakan penjabaran apa, siapa? Apa dan siapa yang menggerakkan otak kita? Walau tidak memiliki hubungan darah, kadang anda merasa begitu dekat dengan seorang… sebaliknya dengan saudara kandung sendiri anda merasa sangat jauh. Kenapa demikian? Siapa yang merasakan jauh-dekat seperti itu? Siapa yang merasakan suka dan duka? Apa yang menyebabkan kesenangan dan ketidaksenangan? Dari manakah hawa napsu berasal? Dari mana pula timbulnya gairah seks? Menghadapi pasangan kadang anda merasa begitu dingin, tidak bergairah sama sekali. Menghadapi perempuan lain, pria lain, tiba-tiba anda menghangat kembali. Padahal, bisa jadi, pasangan anda lebih cantik, lebih tampan dari orang lain itu.

Kita tahu bahwa rumput di pekarangan tetangga “hanya terasa” lebih hijau. Namun demikian kita tetap saja mempercayai hal itu. Adakah yang dapat menjelaskan dari mana datangnya ilusi itu? Siapa, dan apa yang membuatku ragu akan hijaunya rumput di pekaranganku sendiri? Siapa di dalam diriku yang membedakan satu kata dari kata lain? Siapa yang memahami maknanya? Siapa yang membedakan satu suara dari suara lain? Siapa yang dapat rnembedakan suara biasa dari nyanyian, dan gerakan biasa dari tarian?

Dialah “Lapisan Dalam” diri kita, Lapisan Mental/Emosional. Yang menggerakkan otak sehingga ia mampu berpikir, dan menggerakkan hati sehingga ia mampu merasakan adalah Lapisan Aku Dalam. Aku yang berada di balik Aku Luar.

Lapisan Luar, Aku Luar, yaitu badan kita tidak dapat mengapresiasi seni. Badan kasartidak berurusan dengan sesuatu yang lembut seperti tarian dan nyanyian. Karena itu, mereka yang baru berada pada Lapisan Luar, yang berarti juga baru berkesadaran badaniah, tidak akan menikmati seni. Malah menolaknya, melarangnya, bahkan menganggapnya sesuatu yang tak berguna. ‘

Hanya mereka yang telah menemukan Lapisan Dalam akan menikmati tarian dan nyanyian. Mereka yang telah menemukan kembutan diri akan menghargai pula kelembutan di luar diri. Mereka yang baru menyadari kekasaran diri tidak dapat menghargai kelembutan di luar.

Bila anda sadar bahwa kesadaran anda masih rendah, ketahuilah bahwa anda telah berhasil mengakses kelembutan di dalam diri anda. Anda telah menemukan “aku-dalam” anda. Sikap rendah hati merupakan hasil dari penemuan Lapisan Dalam itu. Anda tidak dapat rendah hati bila belum menemukannya.

Napas berhenti sebentar saat anda menguap. Pemberhenrian itu membuat anda merasa lega, plong. Saat itu anda mengakses Lapisan Dalam anda. Itu pula yang terjadi saat anda mencapai orgasme. Tiba-tiba anda masuk ke dalam diri. Kenapa anda mencari seks melulu? Karena anda tidak tahu cara lain untuk mengakses Lapisan Dalam itu. Napsu yang muncul dari dalam diri sesungguhnya dapat anda ubah menjadi energi dahsyat untuk mencapai tingkat kesadaran tertinggi

Siapa yang mendengar lewat telinga anda? Siapa yang mencium lewat hidung anda? Siapa yang merasakan lewat hati anda? Siapa yang berpikir lewat otak anda? Siapa yang menghayati lewat sanubari? Siapa yang mendorong Lapisan Luar badan anda, untuk berbuat sesuatu? Siapa yang menentukan apa yang harus anda buat, dan perbuatan apa yang harus anda hindari? Itulah Lapisan Dalam, itulah “aku-dalam” anda. Itulah anda, itulah anda, itulah anda……. Itulah Lapisan Kedua kepribadian anda. Siapa yang mengingat dan melupakan? Otak hanya mengikuti perintahnya, siapa yang memberi perintah?

Terakhir: Ia yang mengingat, mempelajari sejarah, hukum, spiritualitas dan kitab-kitab suci; Ia yang dapat memisahkan pendengaran, penciuman, dan daya pesona dari tindakan fisik lainnya Ialah Lapisan Dalam dirimu.

Inilah cara termudah untuk mengakses Lapisan Dalam….

Pertama: Mempelajari Sejarah, dan mempelajari sejarah tidak berarti bahwa anda harus mengingat tahun berapa Napoleon Bonaparte lahir dan meninggal. Temukan sesuatu yang telah disampaikan oleh Keberadaan lewat kehidupan seorang Napoleon, sehingga anda dapat bclajar dari hidupnya, dapat mengambil hikmahnya, dan tidak perlu mengulangi kesalahan-kesalahannya.

Kedua: Memahami Hukum-Hukum Alam. Pahami bahwa semua ini energi, dan energi itu kekal. Berubah bentuk, bisa dinamis dan menggerakkan atau thermal dan tidak bergerak, tapi tidak pemah menghilang. Kcmudian, bahwa setiap aksi menimbulkan reaksi. Setiap akibat ada sebabnya. Hukum lain yang tak kalah penting adalah Hukum Evolusi. Segala sesuatu dalam alam ini, termasuk saya dan anda, kesadaran saya dan kesadaran anda sedang berkembang. Terjadinya konflik disebabkan oleh ketidakpahaman kita tentang hukum-hukum tersebut.

Misalnya Hukum Aksi-Reaksi: Karena tidak memahaminya kita selalu mencari kambing hitam atas setiap musibah yang menimpa diri kita, padahal apa pun terjadi karena ulah kita sendiri. Semestinya kita tidak menyalahkan pihak lain.

Kemudian Hukum Evolusi: Segala sesuatu di alam ini scdang berubah, berkembang, tapi kita malah ingin berhenti di tempat. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Jelas tidak bisa.

Ketiga: Mendalami Spiritualitas, berarti meniti jalan ke dalam diri. Menemukan lapisan-lapisan lain kepribadian kita. Tidak berhenti pada Lapisan Luar saja. Sesungguhnya dua langkah sebelumnya, yaitu mempelajari sejarah dan memahami hukum-hukum alam hanyalah persiapan untuk langkah ketiga ini. Bila anda dapat belajar dari sejarah masa lalu, bila kita hidup selaras dengan hukum-hukum alam, langkah ketiga ini menjadi mudah. Dengan sangat mudah anda dapat meniti jalan ke dalam diri, dan menemukan aku terdalam.

Keempat: Menjaga Kesucian Diri. mempelajari kitab-kitab suci hendaknya bukan untuk menghafal ayat-ayat suci, tapi untuk menyucikan diri. Untuk menyucikan setiap pikiran, ucapan dan tindakan. Untuk menerjemahkan spiritualitas dalam hidup schari

Ia yang dapat memisahkan pendengaran, penciuman, dan daya pesona dari tindakan fisik lainnya—Ialah Lapisan Dalam dirimu.

Bila anda memiliki telinga untuk musik, dapat membedakan suara keras dan kasar dari yang lembut dan halus, anda telah menemukan Lapisan Dalam diri anda. Bila anda sadar akan bau badan dan berusaha untuk mengatasinya, anda telah menemukan Lapisan Dalam diri anda. Bila anda dapat membedakan daya pesona rohani dari ketertarikan jasmani, anda telah menemukan Lapisan Dalam itu.

Pertama tentang keras dan kasar versus lembut dan halus. Bila anda bisa membedakan yang keras dari yang lembut, dan yang kasar dari yang halus, anda akan pasti memilih yang lembut dan halus. Karena, roh yang bersemayam di dalam badan itu lembut dan halus. Badan kasar hanya digunakannya sebagai penutup, pelindung. Seperti halnya anda menggunakan rumah yang terbuat dari beton untuk melindungi badan saja. Anda tak akan menggunakan lapisan beton sebagai pengganti kasur atau selimut.

Mereka yang sering menggunakan bahasa kekerasan, sedikit-sedikit mengancam dan mengeluarkan fatwa untuk bunuh-membunuh, masih belum menyadari Lapisan Dalam diri mereka yang lembut adanya. Mereka masih belum kenal diri. Mereka baru kenal badan saja.

Kedua, tentang penciuman, termasuk bau badan. Seorang meditator sangat peka terhadap bau. Sebab itu Sang Nabi disebut sebagai pecinta wewangian atau attar. Sang Avatar pun demikian. Tentang Sang Mesias malah ada kisah mengenai kakinya yang diolesi minyak wangi oleh seorang murid. Bau dan Wangi, dua-duanya dirasakan oleh Inner Atman, oleh Lapisan Dalam diri kita. Lapisan Luar tidak dapat merasakannya. Hidung yang berada di Lapis Luar berfungsi sebagai penerima saja. Ia tidak dapat membedakan bau bangkai dari  wangi bunga melati. Yang membedakan adalah Lapisan Dalam kita. Bila bau badan sendiri saja tak tercium dan  tak terasa oleh kita, kita sungguh tidak peka. Kesadaran kita masih berkeliaran di luar. Kita belum menoleh ke dalam rumah.

Ketiga, dan terakhir, dapatkah kita membedakan ketertarikan jasmani dari kasih rohani? Jism anda, badan anda, gampang bereaksi terhadap kimia badan lawan jenis. Kemudlan reaksi seperti itu pula yang sering kita anggap cinta, bahkan kita beri label kasih. Padahal itu hanyalah reaksi kimiawi, yang tidak menyentuh jiwa anda, roh anda, Lapisan Dalam diri anda.

Sesadar-sadarnya manusia, hanya satu di antara satu juta orang yang akan berhasil menemukan Lapisan Dalam dirinya, menemukan rohnya. Kemudian, hanya segelintir di antara mereka yang akan menemukan Lapisan Terdalam, atau “Aku”, Walau pada hakikatnya kita semua sedang menuju penemuan yang satu itu. Beda kecepatan, tapi kita semua sedang berjalan, sedang berevolusi. Demikian menurut para bijak yang sudah menemukan Sang Aku Sejati, yang sesungguhnya adalah Ketiadaan Abadi, Kasunyatan Sampurna, Kesadaran Murni, Kebahagiaan Kekal.

Mereka yang masih berada pada Lapisan Luar jelas tak mampu mencerna rahasia yang satu ini. Keabadian yang mereka cari dan kejar adalah keabadian Lapisan Luar.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s