Renungan Diri: Tiada Solusi Instan Atasi Rasa Iri dan Dengki, Meditasi sebagai Solusi?

buku medina sehat sekejap

Cover Buku Sehat Sekejap

Tante Shakila pernah menemukan Lampu Wasiat. Gosok, gosok, gosok—dan Si Jin pun muncul, “Walla, walla, walIa—ini belum pernah terjadi?”

“Apa yang belum pemah terjadi?”—tanya Tante Shakila.

“Bahwasanya yang menemukan saya seorang wanita.”—jawab Jin.

“So what? Emangnya kenapa?”

“Ya, bukan apa-apa. Cuma belum pernah terjadi saja. Selama ini yang menemukan lampu wasiat selalu pria.”

“He Bung Jin, sekarang ini jaman emansipasi. Sudah jaman teknologi tinggi. Rupanya kamu masih hidup dalam jaman onta.”—tegur Tante Shakila.

“Jangan membingungkan aku, perempuan. Sudah menemukan aku, ya katakan apa maumu? Yang jelas, aku scorang Jin Fundamentalis. Derajat perempuan jauh di bawah derajat laki-laki. Jadi, aku hanya akan mengabulkan dua permintaan kamu.”

“Kenapa dua, biasanya kan tiga? Begitu yang saya baca dalam kisah-kisah seribu satu malam.”—protes Shakila.

Si Jin mulai kegerahan, “Kan, sudah aku katakan. Aku seorang Jin fundamentalis. Bagiku derajat wanita di bawah pria. Take it or leave it. Hanya dua permintaan. Mau oke, nggak mau ya oke juga — aku jalan…”

Tante Shakila berpikir, daripada nggak sama sekali, dua ya lumayanlah. “Oke deh bung Jin. Asal kamu tahu apa yang kamu lakukan itu melanggar hak asasi perempuan.”

“Sudah ah, cerewet juga kamu. Katakan apa maumu. Cepat…”—kebetulan Jin yang satu ini memang agak kasar.

“Begini Bung. Aku minta agar aku menjadi muda kembali. Lebih cantik dari dulu. Itu permintaanku yang pertama.”

“Celaka”, pikir si Jin, “kalau sudah muda kembali, cantik kembali, dia pasti akan meninggalkan Mulla Nasruddin, temanku.” Demikianlah rasa solidaritas Jin terhadap kaum Adam.

“Cepat Bung. Jadikan aku muda kembali. Lebih cantik dari dulu.”

“Begini, wanita. Aku bisa membuatmu muda lagi. Bahkan lebih cantik daripada dulu. Tetapi ada syaratnya.”

“Syarat apa lagi?”

“Apa pun yang kau minta akan kukabulkan, tetapi suamimu akan mendapatkan hal yang sama 10 kali Iipat. Jadi kalau kamu menjadi muda, cantik dan menawan, suamimu akan menjadi lebih muda, tampan dan menawan. Begitu juga dengan permintaanmu yang kedua. Apa pun yang kau minta, suamimu akan mendapatkan 10 kali lipat.”

Tante Shakila berpikir sejenak. Apa boleh buat, mau tak mau…. Betul, dia menjadi cantik dan muda. Suaminya lebih tampan dan lebih muda lagi.

Si Jin bertanya, “Bagaimana dengan permintaanmu yang kedua?”

Dari dulu Tante Shakila memang sudah sebel banget dengan ulah suaminya. Tua-tua masih suka main gila. Masih suka jajan di luar. Sekarang jadi lebih muda, lebih tampan—wah lebih kacau lagi!

Dan dia melakukan perenungan sejenak. Maka tiba-tiba terjadilah pencerahan, “Permintaanku yang kedua, Bung Jin…..”

“Ya, ya katakan—apa yang kau inginkan. Asal you tahu, suami you akan mendapatkan 10 kali lipat.”

“Ya, ya aku ingat. Begini Bung Jin, berikan aku a very very mild heart attack. Berikan aku serangan jantung yang ringan….”

Dan, suaminya memperoleh serangan jantung yang berat, “Rasain lu, sekarang.”—pikir Tante Shakila. Si Jin yang mengaku dirinya fudamentalis, hanya bisa menggaruk-garuk botaknya…….

***

Demikianlah rasa dengki, demikianlah rasa iri. Si Jin yang membedakan antara kaum Adam dan kaum Hawa, memendam rasa dcngki, rasa iri. Ia tidak ingin melihat Hawa berdiri sejajar dengan Adam, karena ia tahu, jika perempuan tidak ditindas, jika wanita tidak diperbudak, maka mereka akan mengungguli kaum pria.

Begitu pula dengan Shakila. Rela menderita serangan jantung ringan, asal suaminya menderita serangan jantung berat.

Orang yang dengki, yang iri, akan menderita dan membuat orang lain ikut menderita.

Aneh tetapi nyata, anak-anak kecil pun bisa merasa dengki, merasa iri. Melihat adik yang baru lahir mendapatkan perhatian lebih besar dari ibunya, seorang anak bisa merasa iri. Lalu, ia akan menyakiti adiknya. Mencubitinya atau memukulinya. Begitulah sifat manusia.

Karena itu, tidak ada Solusi Instan untuk mengatasi rasa iri. Inilah salah satu rasa yang harus anda lewati, untuk memanusiakan diri. Mengatasi rasa iri atau rasa dengki, membutuhkan kerja keras. Upaya terus-menerus.

 

Solusi

Yang paling panting, jujurlah dengan diri sendiri. Ketika anda sedang mengkritik orang lain, cobalah bertanya dengan tenang: sebenarnya alasannya apa? Apakah kritik anda bersifat membangun? Apakah anda ingin membantu dia lewat kritik itu? Apakah anda ingin menyadarkan dia? Atau, karena anda terdorong oleh rasa iri? Karena anda tidak rela melihat keberhasilannya? Atau, jangan-jangan kritik itu sebenarnya kritik yang justru mesti terarah kepada diri sendiri? Atau jangan-jangan, anda hanya ingin tampak lebih besar dengan cara mengecilkan orang lain?

Jika kritik yang anda Iontarkan itu lebih dipicu oleh rasa iri—dan melalui proses dialog batin itu anda menyadari hal itu—solusinya menjadi mudah sekali:

Duduk diam sejenak. Mata tertutup. Selamilah rasa iri yang timbul dari dalam diri anda. Telusuri sampai ke akar-akarnya. Apa yang membuat anda merasa iri? Keberhasilan dia? Kepemilikan dia? Kesejahteraan dia? Jika anda melakukan penyelaman dengan penuh kesadaran, anda akan menemukan bahwa sesungguhnya dia berhak atas semua itu. Bahwa sesungguhnya Keberadaan Maha Bijak ada-Nya. Dan keberhasilan dia, kesejahteraan dia—semuanya berasal dari Yang Maha Bijak. Mungkin anda tidak bisa langsung melihat bahwa suksesnya itu baik juga bagi anda, tapi sekurang-kurangnya anda tahu bahwa suksesnya itu sebenarnya tak mengurangi sesuatu pun dalam diri anda. Jadi tak ada alasan untuk iri, apalagi dengki.

Akhirilah renungan anda dengan doa yang singkat. Doa yang berasal dari dalam diri anda sendiri. Doa yang diucapkan dalam bahasa anda sendiri. Dan jika saya menggunakan istilah “doa”, jangan diartikan sebagai “permintaan” atau “permohonan”. Artikan “doa” sebagai blessing, pemberkatan—ucapan syukur, ucapan terima kasih.

Berbahagialah Alam Semesta dengan Segala Isinya—Semoga!

Semoga tidak ada yang menderita

Semoga sehat selalu

Semoga selalu dituntun oleh Kebijakan-Nya

Semoga senantiasa damai sejahtera

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s