Renungan #Gita: Evolusi Jiwa Kita Tersendat-Sendat Karena Makanan?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 17:9

“Makanan yang (terlampau) pahit, asam, asin, pedas, berbumbu banyak, kering dan membakar badan; menyebabkan kesusahan, kesedihan, dan penyakit; adalah disukai mereka yang bersifat Rajasi.” Bhagavad Gita 17:9

 

“Kebanyakan makanan kita berada dalam kelompok ini. Jadi, persoalannya bukan sekadar vegetarian atau non-vegetarian. Jika kita pemakan sayur-mayur, vegetarian murni, vegan atau apa pun sebutannya — tetapi banyak mengonsumsi bumbu dapur — sekalipun 100% organik — tetaplah menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri. Kita mengundang rasa susah, sedih, dan penyakit!

“BANYAK ORANG MENGANGGAP DIRINYA sudah Sattvika, jika mereka sudah tidak makan daging, jika mereka sudah vegetarian murni atau vegan! Tidak juga, seorang vegetarian murni pun belum dapat disebut Sattvika jika masih mementingkan rasa, bumbu, dan cecapan, sementara kesehatan terlupakan.

“Misalnya, mereka yang suka sekali dengan daging tiruan, daging-dagingan, ‘Wah, rasanya persis seperti asli, nggak bisa bedain!’ Berarti, masih ada keinginan untuk mencecap rasa daging, untuk apa menipu diri? Untuk apa mengonsumsi daging tiruan? Yang asli saja. Lebih baik menjadi Tamasi ‘asli’ daripada membohongi diri, dan menjadi Sattvika atau Rajasi ‘palsu’.

“Dengan menjadi Tamasi ‘asli’ – kita menanggung akibat, konsekuensi atas ‘pembunuhan’ sesama makhluk. Dengan menjadi Sattvika atau Rajasi ‘palsu’, kita menanggung akibat, konsekuensi dari kemunafikan.

“Suka-suka kita, tinggal pilih – mau memilih buah karma buruk dari pohon mana!?!

 

Bhagavad Gita 17:10

“Makanan yang dimasak secara tidak higienis, masih (atau, setengah) mentah, maupun yang sudah basi; tanpa rasa, tercemar, dan tidak bersih adalah kesukaan mereka yang bersifat Tamasi.” Bhagavad Gita 17:10

 

“Hampir semua makanan siap saji, mengandung pelezat, pengawet, dan sebagainya — berada dalam kategori ini.

“MAKANAN KALENG – Lagi-lagi, kita boleh seorang vegetarian murni, namun jika setiap hari mengonsumsi makanan kaleng, atau apa saja yang sesungguhnya sudah basi tanpa pengawet —maka kita berada dalam kelompok ini.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Dalam hal ini, lemari es juga adalah sarana untuk mengawetkan makanan. Jadi, sayur-mayur yang sudah berhari-hari disimpan di lemari es, Walau 100% organik — ticlak bisa disebut Sattvika. Energi sayur-mayur tersebut sudah hampir minggat, tinggal jasad — ampasnya saja.

“Termasuk, makanan mentah yang sekarang banyak digemari tidak bisa disebut Sattvika. Moderasi adalah kata kunci — jangan over-cooked, jangan mentah pula. Diseduh, ditumis, dioseng-oseng. Tidak perlu ekstrem kiri atau kanan.

“Hal lain yang perlu diperhatikan adalah makanan, yang. ..

“DIMASAK OLEH JURU MASAK BERSIFAT TAMAS – Istilah ‘yatayamam’, biasa diartikan sebagai ‘makanan yang dimasak secara tidak higienis’, namun bisa juga diartikan sebagai ‘makanan yang dimasak dengan cara yang salah, oleh juru masak yang salah’ — makanan yang tidak sehat. Makanan yang dimasak oleh seseorang yang bersifat tamas dapat memengaruhi kita.

“Ketika seorang sedang memasak, level energy, pikiran serta perasaannya dapat memengaruhi masakannya dan setiap orang yang mengonsumsinya.

“Hal ini tidaklah menyangkut masakan di restoran saja, dimana jelas-jelas kita tidak bisa mengendalikan dan memantau siapa juru masaknya — tetapi juga makanan di rumah. Ketika seorang istri, ibu, suami, ayah, anak, saudara ataupun pembantu sedang mengalami gejolak emosi saat memasak — maka energi emosinya akan mencemari masakalmya. Sebab itu, jagalah kondisi di rumah. Keharmonisan keluarga, dimana pembantu pun bahagia — akan meningkatkan mutu masakan di mmah.

“KEMBALI PADA MAKANAN DI RESTORAN – Para juru masak di sana, tentunya hanya memikirkan penghasilan. Memang ada juga orang yang menjadi juru masak karena hobi — namun, ujung-ujungnya tetaplah uang, penghasilan. Tidak ada orang yang membuka restoran untuk merugi.

“Ini menjelaskan kenapa evolusi kita selama ini menjadi tersendat-sendat. Tarikan materi sangat kuat, sehingga sisi-sisi lain kepribadian kita tidak cukup berkembang.

“Masakan berenergi emosi-materi itulah yang menjadi konsumsi kita sehari-hari. Sehingga tidak mengherankan jika sifat kita menjadi sangat materialis. Dalam segala hal, bahkan dalam relasi pun, kita menempatkan kepentingan materi di atas segala kepentingan lainnya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec4elearning-banner

Advertisements

3 thoughts on “Renungan #Gita: Evolusi Jiwa Kita Tersendat-Sendat Karena Makanan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s