Renungan Diri: Batu Kesadaran Dilempar ke Sungai Timbulkan Riak. Mengapa di Negeri Kita Tidak?

buku neospirituality sem-ripple-effect2

Ripple Effect

“Peningkatan Kesadaran Secara Kolektif

“Berarti satu berubah, semua berubah. Ketika kesadaran seorang meningkat, kesadaran semua orang meningkat? Mungkinkah? Ya, ada ripple  effect atau efek riak yang sudah pasti terjadi. Peningkatan atau perubahan kesadaran yang terjadi dalam diri seseorang, sekecil apa pun ibarat kerikil yang dilempar ke dalam sungai kehidupan, akan menimbulkan ripple effect hingga tepi sungai. Namun intensitas efeknya makin berkurang dan saat mencapai tepi sungai barangkali sudah tidak terdeteksi lagi.

“Supaya efeknya terasa lebih intens, batu kerikil kesadaran saja tidaklah cukup. Yang dilemparkan harus batu besar kesadaran. Dan jika kita menginginkan efek yang lebih dahsyat lagi, yaitu efek yang terasa oleh banyak orang secara kolektif, beberapa batu besarlah yang harus dilemparkan.

“Peningkatan kesadaran secara kolektlf bisa saya terjadi karena secara teori dan praktik sesungguhnya hal tersebut sangat memungkinkan. Pertanyaannya adalah seberapa ‘modal’ awal kesadaran kita? Sebesar apa kerikil atau batu kesadaran yang kita lemparkan? Seberapa besar kekuatannya untuk menghadirkan atau menyebabkan ripple effect-nya?

“Lalu, apa yang terjadi selama ini? Apakah kita tidak memiliki orang-orang besar dengan batu-batu kesadaran yang besar? Apakah jumlah mereka tidak cukup untuk mengantarkan kita pada tingkat kesadaran baru? ]awabannya adalah jumlah mereka memang belum cukup. Dan penyebabnya adalah sistem pendidikan kita yang salah karena gagal menciptakem orang-orang besar yang berkesadaran bcsar.

buku neo spirituality 

“Sistem Pendidikan kita Saat ini

“Seharusnya pendidikan kita mampu membuka wawasan, menjadikan anak didik kritis, dan memberdayakan mereka untuk menemukan jalur hidup mereka masing-masing. Seharusnya pendidikan membuat kita menjadi ‘paham’ atau ‘mengerti’. Kemudian dengan pemahaman dan pengertian itu kita mcnciptakan sebuah sistem kepercayaan bagi diri sendiri, entah kepercayaan pada Diri dengan ‘D’ besar, Sang ‘Aku’ dengan ‘A’ besar atau pada Gusti Allah, Tuhan — tergantung pada diri kita, sosok dan sebutan yang kita sukai. Barangkali ada yang lebih suka dengan sebutan beraroma ilmu pengetahuan seperti ‘Energi yang Maha’, terserah selera masing-masing orang. Tetapi sayangnya saat ini bukanlah seperti ini yang terjadi. Keadaan kita saat  ini justru sebaliknya.

“Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercay aan. Bukan pula pcndidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak Iahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. Ia tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran kita.

 

“Pendidikun yang Salah dan Tidak Menunjang Kesadaran

“Setelah merampas hak pilih seorang anak, kemudian kita mencekokinya dengan dogma dan doktrin agama, kepercayaan, dan pelajaran lain dengan sistem yang sudah baku. Kita tidak memerdekakan jiwa anak-anak untuk memahami sesuatu, baru kemudian menentukan pilihannya. Kita tidak membebaskan pikirannya untuk mcnggapai ketinggian langit tetapi malah mengerdilkan jiwa mereka dan mematoknya dengan dunia ‘sesuai dengan penglihatan kita sendiri’. Kita memakunya dengan dunia versi kita.

“Urutan baik dalam suatu sistem pendidikan yang dapat memerdekakan jiwa anak-anak adalah dengan membuka wawasan, membuat anak menjadi kritis, dan memberdayakannya untuk menemukan jalur hidupnya sendiri. Berilah mereka pengertian dan pemahaman tentang hidup dan dirinya sendiri. Kernudian biarlah ia mengembangkan rasa percaya diri dan kepercayaan pada Hyang Mahatinggi.

“Saat ini yang terjadi adalah kita mencekoki anak-anak dengan dogma dan doktrin kepercayaan dengan salah satu kepercayaan saja yang kita tentukan sendiri. Jangankan memahami kepercayaan-kepercayaan lain, ia tidak boleh berkenalan dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Bahkan, untuk kepercayaannya sendiri pun ia tidak perlu mengerti dan memahaminya apalagi bersikap kritis. Ia hanya boleh mengikuti saja. Pada suatu ketika bila wawasannya terbuka sedikit, kita sudah mempersiapkan rambu-rambu. Ini tabu. Ini jangan. Ini boleh, ini tidak. Kita telah ‘berhasil’ mematikan kreativitasnya dengan membuatnya menjadi tidak kritis dan tidak mempertanyakan lagi sesuatu yang diberikan kepadanya.

“Inilah keberhasilan kita:

  1. Generasi Robot

“Sudah diset, diprogram, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali.

“Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan. Padahal manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. Ia pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat diset dan diprogram.

“Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orangtua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka.

“Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia.

 

  1. Percaya Buta versus Percaya Sadar

“Kepercayaan tanpa pemahaman adalah kepercayaan yang buta, sedangkan kepercayaan dengan  pemahaman adalah kepercayaan yang sadar.

“Sekarang, tergantung pada diri kita sendiri. Mau memilih yang mana? Ada seorang nabi yang pernah bersabda bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah ‘kepercayaan’ dan Obyek dari kepercayaan tidaklah panting. Anda bisa beriman pada siapa saja, apa saja, atau pada diri sendiri dan semuanya sah-sah saja, boleh-boleh saja, tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah bahwa Anda ‘percaya’. Titik.

“Ada pula yang menjelaskan lebih lanjut bahwa kepercayaan selalu buta. Anak-anak muda yang baru memasuki usia puber dan sudah mulai mengenal pacaran biasanya belum melek. Mereka, seolah jatuh cinta dalam mimpi. Usia cinta mereka sepanjang atau sependek usia mimpi mereka. Mereka jatuh atau bangun dalam cinta seperti mimpi. Mereka adalah mekanisme yang cacat dan mesti di ‘perbaiki’ dulu sebelum diperbolehkan ‘turun ke jalan’.

“Kedua pandangan di atas benar. Pertama yang Penting adalah Kepercayaan. Memang betul. Kedua, Kepercayaan itu selalu Buta. Oleh karena itu anak-anak muda harus memperoleh kesadaran dulu sebelum mempercayai sesuatu. Ini juga betul.

“Sesungguhnya kedua pernyataan di atas tidak saling bertentangan tetapi malah saling melengkapi dan menjelaskan. Bila kita menggabungkannya, Yang Penting adalah Kepercayaan yang Sadar. Qrang-orang yang percaya dan sadar hanyalah mereka yang dapat membawa perubahan yang berarti. Karena mereka sudah lebih dulu menjadi perubahan itu sendiri. Mereka telah berubah. Mereka tidak percaya secara membabibuta. Mereka percaya karena sadar.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s