Renungan Tantra Yoga: Pesan Terakhir Naropa, Kebuddhaan Dalam Diri Seorang Master

buku tantra yoga

Cover Buku Tantra Yoga

“Beberapa hari sebelum meninggalkan badan kasat, Naropa berkata:

My Mind is the Perfect Buddha;

My Word is the Perfect Dharma;

My Body is the Perfect Sangha….

Pikiranku, kesadaranku — inilah Buddha. Inilah Pencerahan.

Kata-kata yang diucapkan — itulah Kebijakan, Kebaikan Sejati.

Badanku — inilah padepokanku. Paguyubanku. Tempat para Bikshu, para pencari berkumpul untuk ‘menemukan’ Kebenaran. Kasunyatan Abadi……  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Naropa sudah merasakan persatuan dan kesatuan dengan semesta, dengan Keberadaan. Pikirannya sudah bukan pikiran lagi, bukan mind lagi, melainkan Kesadaran Sejati.

“Kata-katanya bukanlah ocehan sembarang. Apa yang keluar dari mulutnya menjadi Kebenaran. Di sini letak perbedaannya. Kita masih berupaya untuk berbicara benar. Para Naropa tidak berupaya lagi. Apa yang keluar dari mulut rnereka — ya itulah Kebenaran.

“Ada suatu tradisi di India. Tradisi kuno sekali. Umumnya orang India percaya pada astrologi. Misalnya, horoskop Anda rnengatakan tahun ini sial. What would you do. Sial sudah menjadi suratan….. Katakan sudah ditentukan dari sana. Lalu bagaimana mengatasinya? Jalan keluarnya apa?

Mereka akan melayani para suci. Mereka percaya bahwa bila para suci memberkati mereka —‘Semoga selalu bahagia!’ — maka suratan…… pun bisa berubah. Dan sering terjadi. Kekuatan iman, kepercayaan mereka pada para suci menghapus segala kesialan.

“Orang-orang India percaya sekali pada pengaruh planet Saturnus terhadap kehidupan manusia. Setiap orang bisa mengalami masa sial hingga 7,5 tahun karena pengaruh planet tersebut. Satu-satunya jalan untuk mengubah kesialan menjadi berkah ya dengan cara melayani para suci.

“Mereka percaya bahwa Tuhan bisa menafikkan suratan …… Tetapi tidak akan mendustakan seorang suci. Tidak akan mendustakan seorang pencintanya. Bila seorang Pencinta Allah mengatakan, ‘Kamu bahagia!’, ya berbahagialah Anda. Wallahualam! Entah mekanismenya bagaimana. Mungkin terjadi interaksi antara iman dan kebenaran para suci — dan hasilnya ya begitu…..

“Terakhir, badan para Buddha. Jangan menganggap fisik mereka itu fisik sembarang. Kendati mereka makan, minum, tidur seperti Anda dan saya, sesungguhnya mereka beda. Setiap sel di dalam tubuh mereka memancarkan energi Ilahi. Manfaatkan kedekatan Anda dengan mereka. Ini bukan takhayul, bukan juga mengkultuskan seorang Buddha. Sama sekali tidak.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Daripada berdekatan dengan penguasa yang hari ini berkuasa, besok belum tentu, apa salahnya Anda berdekatan dengan para Pencinta Allah?

“Mendekati menteri mau, tetapi bila ada yang mendekati seorang Wali, ada yang berang: ‘Itu kan pengkultusan indidvidul” Anda pikir selama ini anda bebas dari pengkultusan. Apa saja Anda kultuskan. Kata-kata, buku, konsep dan ideologi, perundang-undangan dan hukum. Sejak kapan Anda bebas dari pengkultusan?

All the three Jewels are perected here and

Should not he sought elsewhere. . . ..

Tiga permata, tiga anak tangga yang mengantar Anda pada kesempurnaan, ada di sini. Mau mencarinya di mana lagi?

Permata Pertama – Buddha, Kesadaran.

Permata Kedua — Dharma, Kebijakan.

Permata Ketiga — Sangha, Kebersamaan.

Tiga-tiganya mewujud dalam diri seorang Naropa. Dalam diri seorang mursyid, scorang master, seorang guru. Anda mau mencarinya di mana lagi?

Here am I!

Di sinilah Aku!

“Kita masih mencari Buddha, masih mencari pelajaran, masih mencari padepokan. Betapa tidak sadarnya kita? Padahal ketiga-tiganya ada di sini. Right here.

“Setiap nabi, setiap master, setiap mesias dan setiap avatar menggunakan bahasa yang sama. Berulang kali Yesus mengatakan, ‘Akulah Jalan, Kcbenaran dan Hidup.’

“Muhammad dinyatakan sebagai Nabi Terakhir. Krishna juga berkata demikian, ‘Berpalinglah kepadaku dan aku akan membebaskan kamu dari ketidaktahuan.’

“Kita tidak memahami pesan mereka.

“Ada yang menjadi pengikut buta. Padahal yang mereka pahami hanyalah kata-kata. Itu pun secara harfiah. Kemudian malah menjadi fanatik. Untuk mempertahankan kepercayaannya, dia akan melakukan apa saja. Padahal kcpercayaannya scpenuhnya ‘berclasarkan’ apa yang dipahaminya dari kata-kata itu.

“Ada yang mengkritik, ‘Sombong banget mereka. Berani-beraninya mengaku diri sebagai buddha. avatar, nabi, mesias segala…..’

“Bila Anda bertanya pada seorang Naropa, ‘Eh, kamu koq berani menyatakan diri sebagai Buddha?’ Dia akan tersenyum, ‘Terpaksa bung. Kasihan, kasihan melihat kamu mundar-mandir, tanpa tuiuan. Haus dan mencari air. Padahal sumber air di sini. Apa salahnya kalau aku mengatakan, “Ini lho, ada sumber air di sini. Mampirlah ke gubukku. Terimalah undanganku. Minumlah air ini.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Banner:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s