Renungan Diri: Kisah Layang-Layang Yang Berani Mati dan Yang Ingin Hidup, Ilustrasi Awal I Ching

buku i ching layang layang

Ilustrasi Layang-Layang di Ketinggian dan Layang-Layang di Bawah

Melihat layangan yang putus dan jatuh dari ketinggian, aku sedih, kasihan. Aku mendekatinya. Ah, tulang- tulangnya patah sudah. Badannya hancur. Napasnya terputus-putus. Sesaat lagi, ia akan meninggalkan dunia fana ini.

“Sahabatku, apa yang dapat kulakukan bagimu?”

Aku tahu, tidak sesuatu apa pun yang dapat kulakukan baginya.

Ia menggunakan tenaganya yang masih tersisa dan menoleh ke atas, “Terima kasih teman…. Terima kasih untuk tawaranmw… Tetapi aku tak butuh sesuatu apa pun.”

Aku tak dapat menahan airmataku. Aku menangis terisak-isak, “Kasihan kawan, kau belum hidup sepenuhnya, dan sekarang …. ..”

Ia tersenyum, “Kasihan? Kasihan kau katakan? Jangan kawan, …..jangan mengasihani aku…Aku sudah cukup hidup…Aku sudah pemah melayang begitu tinggi… Aku sangat beruntung…Aku telah menjalani hidupku…hidupku sebagai layangan…Sebagai layangan, aku telah mencapai kesempurnaan hidupku…Biarkan tulang-tulangku menyatu kembali dengan tanah…Begitu pula badanku yang sudah hancur ini…Memang harus demikian……Dan sekali lagi rohku akan melayang-layang,…menyatu kembali dengan semesta… Dan sesungguhnya, kendati hidupku akan berakhir…, kehidupan sendiri akan berjalan terus…, mengalir terus…Mungkin pada suatu ketika nanti, kita akan bertemu lagi,..Sampai jumpa kawanku…”

Suaranya semakin lemah, semakin lemah… Aku memeluk dia, memeluk tulang-tulangnya yang sudah patah, memeluk badannya yang sudah hancur. Dan dalam pelukanku, ia menghembuskan napas terakhir. Tiba-tiba, aku menyadari kebenaran kata-katanya. Ia benar — ia telah hidup sepenuhnya. Ia telah menyentuh ketinggian yang mungkin merupakan impian setiap layangan. Tiba-tiba, timbul keinginan untuk merayakan kepergiannya.

Aku mencium dia untuk terakhir kali dan melepaskannya, sehingga ia dapat segera menyatu dengan tanah yang melahirkannya. Aku tahu bahwa rohnya sudah menyatu dengan semesta. Aku sadar bahwa ia tidak perlu ditangisi.

buku iching-500x500

Cover Buku I Ching Bagi Orang Modern

Di pinggir jalan sana, aku melihat seorang penjual layangan. Aku mendatangi dia, “Kawanku, masih banyakkah layangan yang kau miliki?”

Ia menjawab, “Masih, Pak, masih ada 2O-an.”

Aku membeli semuanya untuk dibagikan kepada anak-anak kampung yang memang dari tadi sudah mengerumuni si penjual, Aku ingin layangan-layangan ini pun mencicipi ketinggian sama yang pernah dicicipi oleh seorang kawan mereka.

Aneh sekali, duapuluhan layangan yang baru aku beli itu malah berontak, “Apa yang hendak kau lakukan?

Menyerahkan kami kepada anak-anak kampung itu, sehingga mereka bisa bermain-main dengan kami? Lalu kami melayang-layang untuk sesaat, terputus dan jatuh dari ketinggian? Kau sungguh berdarah dingin! Kau seorang pembunuh! Biarkan kami tetap dipajang oleh si penjual Iayangan. Biarkan kami menikmati hiclup. Kembalikan kami… tolong, demi Tuhan …. ..”

Aku bingung,.. Ada yang jatuh dari ketinggian, dan tidak menyesal, tapi malah menganggap dirinya sudah cukup “hidup”. Ada yang takut akan ketinggian, dan berusaha “hidup” dengan cara menghindarinya. Mana yang benar?

***

Dapatkah anda menyalahkan mereka yang tidak berani “melayang”? Haruskah anda membenarkan mereka yang berani “melayang”? Dapatkah kita menyalahkan “ketidakberanian” itu sendiri? Lalu, haruskah kita membenarkan “keberanian”?

Yang “berani” merasa hidup karena “keberaniannya”. Tetapi yang “tidak berani” juga merasa hidup karena “ketidakberaniannya”. Kemudian, apakah “merasa hidup” itu sama dengan “hidup” sebenarnya?

Keberanian itu apa? Yang berani, yang tidak berani, yang melayang, yang tidak melayang —

semuanya juga hidup. Yang mati, juga mungkin masih hidup. Yang hidup, mungkin sudah mati.

Kertas yang digunakan untuk membuat layangan, berasal dari pulp, dari bubur kayu. Kayu dari pohon, dan pohon dari tanah. Begitu pula dengan bingkainya— berasal dari tanah juga.

Dalam layangan ada kayu, ada kertas. Dan dalam kayu dan kertas itu ada tanah. Layangan “bisa

Mati”, tetapi tanah “tidak pemah mati”. Setidaknya belum pernah mati. Siapa tahu, pada suatu ketika nanti, mungkin tanah pun akan mati. Mungkin bumi ini akan hangus. Lalu bumi ini akan lenyap dari pandangan. Yang nyata menjadi tak-nyata. Tetapi, ia masih tetap merupakan bagian dari semesta. Sekarang masih “nyata” — ya jelas, bagian dari semesta. Tetapi jika berubah menjadi “tidak nyata”, ia pun akan tetap merupakan bagian dari semesta.

Jadi, dalam layangan ada kayu. Dalam kayu ada tanah. Dan tanah merupakan bagian dari bumi. Bumi adalah bagian dari semesta. Ketika nyata, masih bisa disebut “bagian”. Kalau sudah “tidak nyata”, sudah menyatu dengan semesta, ya dialah “Semesta” itu! My goodness — dalam layangan ada semesta. Bahkan layangan itulah Semesta!

I Ching bukan sebuah buku. “I Ching” berarti “sebuah lagu”, “sebuah nyanyian”. Dan sebuah lagu,tidak dapat dinyanyikan oleh mereka yang bersuara datar, sumbang. Sebuah lagu juga tidak dapat dinyanyikan dengan satu nada. Harus ada perubahan. Dari satu nada ke nada yang lain. Untuk menyanyikan lagu yang indah ini, memang dibutuhkan sedikit keahlian.

Jika suara anda datar, sumbang, jika anda tidak menguasai nada-nada yang berbeda, belum saatnya anda menyelami “I Ching”. Anda akan memperkosa jiwanya. Bayangkan sebuah lagu indah dinyanyikan oleh seseorang yang tidak memiliki suara! “I Ching” sering diperkosa. Sering dinyanyikan oleh mereka yang bersuara datar, sumbang, yang tidak berjiwa seni, sehingga keindahannya pun hilang.

Berasal dari Cina, lagu yang indah ini jauh lebih tua daripada Lao Tze dan Kung Fu Tze. Entah siapa yang menggubahnyal Para sejarawan dan sastrawan hanya bisa mengira-ngira, mengandai-andai. Lagu Kehidupan ini terdiri dari 64 nada. Setiap nada berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari satu lagu yang sama.

Enampuluh empat karakter Cina ini bagaikan 64 sisi permata. Setiap sisi sungguh khas, indah, unik! Kendati demikian, masih tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari permata yang sama. Qleh karena itu, setiap karakter memiliki 1 arti, tetapi 64 makna! Setiap arti mengandung 64 makna!

Tidak heran, kalau ada sekian banyak versi “I Ching”. Lain versi, lain pula interpretasinya. Yang menjadi sangat populer adalah versi “Kung Fu Tze”. Entah dijabarkan oleh Kung Fu Tze sendiri, atau oleh para pengikutnya, versi yang satu ini dikaitkan dengan “ramalan”, sehingga rnenjacli sangat populer.

Versi yang tidak populer adalah versi “Tao”. Versi yang disebut-sebut sangat “primitif“, karena hanya memaparkan 64 karakter, ditambah sepatah dua patah kata untuk setiap karakter. Sulit untuk dipahami! Padahal, memang sengaja dibuat demikian, untuk mengembangkan kreativitas dan reseptivitas para pembaca. Mereka harus menemukan sendiri makna yang tersembunyi di balik setiap karakter.

Saya menggunakan versi Tao itu untuk menyajikan “I Ching”. Penjelasan yang saya berikan hanya sekadar pemicu. Saya menggunakan kejadian-kejadian terakhir sebagai umpan, untuk memancing kesadaran anda. Saya tidak bisa menemukan “jati diri” anda untuk anda. Tak seorang pun dapat melakukan hal itu untuk anda. Seorang mesias pun tidak mampu melakukannya. Setiap orang harus bekerja sendiri dan menemukan sendiri “Jati Diri”-nya!

Jadikan buku ini sebagai alat pancing. Untuk memancing potensi diri anda dan membawanya ke permukaan. Untuk itu, sebagaimana dianjurkan oleh Mencius, terlebih dahulu anda harus “Melepaskan” pikiran. Anda harus “melampaui” mind (Buku ini akan menjadi lebih menarik, jika sebelumnya anda sudah pernah membaca Seni Memberdaya Diri 1,2 & 3, Tao Teh Ching bagi Orang Modern dan Zen bagi Orang Modern oleh penulis yang sama — Ed).

Sebagai sarana untuk melampaui mind, tradisi Cina Kuno menganjurkan penggunaan kepingan uang logam. Sesuatu yang absurd, tidak masuk akal, tidak logis. Tetapi, memang sengaja dibuat demikian. Jika menggunakan cara yang “tidak” absurd atau cara yang masuk akal, yang logis, anda harus menggunakan mind lagi. Anda harus menggunakan pikiran lagi, konsentrasi lagi. Padahal, tujuannya adalah “de-konsentrasi”, melepaskan konsentrasi — no mind!

Menggunakan cara yang tidak masuk akal ini sesungguhnya bertujuan untuk mengembangkan “rasa” dalam diri anda. Jangan menggunakan otak lagi, lepaskan pikiran dan berserah dirilah pada “Kehendak Ilahi”. Demikian, “I Ching” bisa dijadikan sebuah pengalaman spiritual.

…….

Dikutip dari Pengantar buku  (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Banner:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s