Renungan Diri: Ajaran Dharmakirti dari Suvarnadvipa, Guru dari Acharya Atisha Tibet

buku atisha

Cover Buku Atisha

Stimuli-stimuli yang kita terima dari panca indera begitu menyilaukan, sehingga mata kita bisa tertutup. Jika itu yang terjadi, jatuhlah kita ke dalam kegelapan ciptaan kita sendiri. Kembali ke lorong sempit ketidaksadatan. Pada saat yang sama, stimuli-stimuli yang kita terima dari panca indera juga bisa menerangi diri kita, membuat kita lebih sadar, sehingga kegelapan diri justru bisa berubah menjadi Bodhi Chitta—Kesadaran diri, Kesadaran Murni!

Ada kisah sufi yang indah sekali: Seorang murid wanita mendatangi gurunya, “Maafkan saya, Guru, tetapi hari ini saya harus mengungkapkan sesuatu yang saya pendam selama bertahun-tahun.”

“Katakan, apa yang kau pendam selama ini?”

“Guru, saya ingin Guru meniduri saya. Satu kali saja.”

“Kau bukan seorang murid biasa. Selama bertahun-tahun aku mengikuti perkembanganmu. Apa yang rnembuatmu berkeinginan demikian? Aku tidak yakin bahwa kau terdorong oleh napsu birahi semata-mata.”

“Ya, Guru, saya tidak terdorong oleh napsu birahi, tetapi saya ingin ada yang melanjutkan misi dan tugas Guru. Saya menginginkan seorang anak yang akan melanjutkan pekerjaan Guru.”

“Jadi kau menginginkan seorang anak seperti aku?”

“Ya, Guru.”

“Apa jaminannya bahwa anak itu akan memenuhi hasrat dan keinginanmu? Apa jaminannya bahwa ia akan melanjutkan pekerjaanku? Atau bahkan akan menyukai pekerjaanku? Begini saja, aku punya usul: angkatlah aku menjadi anakmu. Anggaplah aku sebagai anakmu. Dan hasratmu untuk memperoleh anak seperti aku akan langsung terpenuhi.”

Panca indera Master Sufi tadi menerima “stimuli” dalam bentuk godaan dari seorang wanita. Jika ia tergoda dan menerirna tawarannya, jatuhlah dia dalam kegelapan. Ternyata ia tidak jatuh. Ia malah memanfaatkan godaan itu untuk meningkatkan kesadaran dirinya. Ia berada pada jalan Bodhi.

Godaan apa pun yang anda terima dari luar, situasi apa pun yang anda hadapi, bisa anda jadikan “pemicu” untuk memasuki jalan Bodhi, untuk meningkatkan kesadaran diri. Demikianlah “intisari amrita ajaran lisan yang disampaikan oleh Sang Pujangga dari Svarnadvipa.”

buku atisha serlingpa Dharmakirti

Amrita berarti “Cairan Kehidupan Abadi”. Yang ingin dikatakan oleh Chekawa adalah “Ajaran-ajaran ini dapat membebaskan kamu dari lingkaran kelahiran dan kematian.” Kehidupan Abadi berarti Kesatuan dan Persatuan dengan Keberadaan. Kehidupan Abadi berarri Kesatuan dan Persatuan dengan Kasunyatan.

Tidak lupa Chekawa menegaskan kembali bahwa ajaran-ajaran ini berasal dari Dharmakirti, Sang Pujangga dari Svarnadvipa, dari Sumatera.

Banggakah kita bahwa yang disebut “pujangga” itu adalah anak bangsa kita? Saya tidak yakin setiap pembaca akan merasa bangga. Kepicikan anda, ketidakwarasan anda, ketololan anda akan menyimpulkan, “Ah, itu kan dulu, mungkin di jaman Sriwijaya. Jaman Hindu Buddha dulu.”

Baca kembali buku ini, tunjukkan satu pun ayat dalam buku ini yang bisa memecah-belah bangsa kita. Sebaliknya, buku-buku yang anda sucikan, apa pun agama anda, memuat sekian banyak ayat yang berpotensi memecah-belah bangsa kita.

Hormati setiap agama, junjung tinggi kitab-kitab suci keagamaan, tetapi pada saat yang sama, buka pula mata dan telinga anda terhadap ajaran-ajaran yang berasal dari tanah air sendiri.

Dharmakirti kita, Dharmakirti anda dan Dharmakirti saya, sudah tidak tahan menyaksikan ketidakwarasan kita, ketidakwarasan saya dan anda. Ia sudah kembali. Kalaupun anda menolaknya, kali ini ia tidak akan ke mana-mana lagi.

He has come to stay! Ajarannya tentang Kesadaran Murni akan melanda Persada Nusantara. Bangsa kita berada di ambang kehancuran dan disintegrasi. Eksistensi kita, keberadaan kita sebagai “bangsa” sudah terancam. Sedikit-sedikit kita main bakar gereja, masjid, vihara dan pura. Keagamaan apa yang kita bicarakan?

Untung, masih ada Dharmakirti di tengah kita. Dan kali ini anda harus mendengarkan dia. Goblok, jika anda tidak mendengarkan nasihatnya. Apa pun agama yang anda anut, warnailah keyakinan anda, kepercayaan anda dengan “kesadaran”.

Dharmakirti tidak mewakili salah satu agama. Ia mewakili “kemanusiaan”. Ia mewakili “keberadaan”. Ia mewakili “kesadaran”. Ia mewakili “keindahan”. Jika anda masih tetap juga alergi terhadap dia, apa boleh buat? Boleh-boleh saja anda menolak dia, sebagaimana seorang buta menolak keberadaan matahari. Penolakan anda sangat tidak berarti. Cahaya matahari Dharmakirti sudah mulai menerangi sebagian bangsa kita. Dan ia akan melanjutkan tugasnya—tugas menerangi bangsa ini secara keseluruhan.

Dan, sekarang bait kedua:

“Didorong oleh karma masa lalu, dan kesungguhan hati, aku menghadapi setiap ujian dan hujatan, dan menerima ajaran untuk menjinakkan keangkuhanku. Sekarang, kalaupun mati, aku tidak akan menyesal.”

Syair ini sama indahnya seperti syair terdahulu. Pertemuan dengan seorang Atisha, dengan seorang Dharmakirti, bukanlah suatu kebetulan. Anda tidak bisa menemui mereka secara kebetulan. Karma anda mempertemukan anda dengan mereka. Perbuatan dan tindakan andsa selama sekian banyak masa kehidupan berbuah dan menghadirkan seorang Atisha, seorang Dharmakirti dalam hidup anda.

Lalu apa yang anda lakukan? Anda menyia-nyiakan kesempatan itu. Anda tidak sungguh-sungguh menerimanya, mengundangnya untuk bermukim di dalam jiwa anda. Yang anda buka bukanlah pintu hati, tetapi hanya jendela pikiran. Sebagaimana telah anda sia-siakan sekian banyak masa kehidupan sebelum ini, masa kehidupan ini pun akan berlalu begitu saja, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran sama sekali. Karena itu, bangunlah sekarang. Bangkitlah, sadarlah! Sudah cukup lama anda tidur. Tinggalkan tempat-tidur anda, ranjang anda. Salamilah matahari pagi!

Menerima Dharmakirti, menerima Atisha, berarti menerima kririk dan ujian, hujatan, cacian dan makian. Kalau anda belum menerimanya, tunggu dulu! Seorang Dharmakirti, seorang Atisha akan mengeruhkan suasana sedemikian rupa, sehingga anda akan rnenerima semua itu.

Kehadiran seorang Dharrnakirti, seorang Atisha, seorang Yesus, seorang Muhammad, seorang Siddhartha, seorang Krishna, seorang Zarathustra, seorang Bahaullah akan membuat sendi-sendi kehidupan anda gonjang-ganjing. Jika anda bertemu dengan seorang master, dan hidup anda tidak tergonjang-ganjing, ketahuilah hahwa yang anda temui itu bukanlah seorang Dharmakirti atau Atisha. Ia bukan seorang master.

Seorang master akan merombak total kehidupan anda. Kendati demikian, ia tidak akan memulai pekerjaannya, jika anda belum siap untuk itu. Ia akan menunggu dan ia bisa menunggu untuk waktu yang lama sekali. Begitu anda siap, ia pun akan memulai pekerjaannya.

Seorang Dharmakirti, seorang Atisha, tidak puas melihat anda dalam keadaan “lumayan”. Ia menawarkan “kesempurnaan” dalam Kasunyatan. Sekarang terserah anda. Jika anda menerimanya sebagaimana Geshe Chekawa menerimanya, anda bisa mengatakan apa yang dikatakan oleh Geshe

Chekawa:

Aku menghadapi Jetiap ujian dan hujatan, dan menerima ajaran untuk menjinakkan keangkuhanku. Sekarang, kalaupun mati, aku tidak akan menyesal.

Bersama Atisha, bersama Dharmakirri, kematian pun bisa menjadi perayaan. Anda tidak akan merasa sakit. Anda tidak akan takut. Tetapi, sebelum itu, siapkah anda diuji, siapkah anda menerima hujatan dan cacian? Sanggupkah anda menjinakkan keangkuhan anda?

Banyak sekali pengalaman menarik di Ashram. Saya menaruh perhatian khusus terhadap salah seorang peserta. Lalu ia tidak bisa menahan diri, langsung ge-er, sombong, angkuh! “Ah, baru segitu saja, sudah tidak dapat menahan diri. Baru saya perhatikan. Apalagi nanti, kalau sudah diperhatikan oleh ratusan, ribuan atau bahkan ratusan ribu atau jutaan orang, apa yang akan terjadi?” Dan lagi-lagi, saya menarik diri, “Kau belum cukup matang, masih mentah.” Dan saya tidak jadi “memetiknya”. Kemudian ia berontak. Ia gusar, berang, “Kok, saya tidak jadi dipetik?” Dia tidak menyadari kementahan dirinya. Cepat-cepat ingin dipetik. Apa gunanya buah yang masih mentah? Dengan tidak memetiknya, saya justru membantu dia. Memberi dia kesempatan untuk lebih mematangkan diri. Tetapi, dalam kesornbongannya, keangkuhannya dan ketidaksadarannya, ia sudah menganggap dirinya matang. Lalu ia meninggalkan Ashram.

Dharmakirti dan Atisha bukanlah seorang pendeta. atau pastor atau pemangku atau ustad atau bikshu yang sedang sibuk mengumpulkan umat, menarik jemaah. Dharmakirti adalah seorang “Buddha”. Atisha adalah seorang “master”. Hanya bersalaman saja dengan mereka, kesadaran anda bisa meningkat seketika, asal saja anda mau menerima mereka dan mengundang mereka untuk memasuki hati anda, jiwa anda.

Mereka tidak sedang mencari murid. Mereka sedang mencari calon “Buddha”, calon “Kristus”, calon “Avatar”, calon “Wali”. Dengarkan seruan mereka. Ikuti mereka. Dan hidup anda akan berubah!

Sekali lagi saya katakan, Dharmakirti sudah berada di tengah anda. Atisha sudah mengantarnya pulang ke tanah air. Sadarkah anda akan kehadirannya? Mampukah anda melihatnya? Sanggupkah anda mendengar dan menerimanya? Sekian!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s