Renungan #Gita: Munafik dan Ungratefulness Sifat Raksasa dari Manusia Hasil Evolusi Dinosaurus

buku bhagavad gita dinosaurus

Evolusi

Bhagavad Gita 8:19

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), terdorong oleh sifat mereka masing-masing, makhluk-makhluk beragam jenis muncul di awal hari Brahma, dan lenyap saat datangnya malam Brahma, untuk muncul kembali pada pagi hari Brahma berikutnya.” Bhagavad Gita 8:19

 

“Teori Evolusi Darwin dan penemuan-penemuan para saintis modern kadang tidak selalu selaras. Krsna menyelaraskan keduanya dan menjelaskan kebenaran sebagaimana adanya.

“PENEMUAN DARWIN ADALAH SEPOTONG atau sekilas kebenaran. Bahwasanya terjadi evolusi, ya. Tetapi, jika memang demikian, maka dalam kurun Waktu 3-4 miliar tahun sejak bumi dianggap layak bagi kehidupan, semestinya cacing dan ikan sudah tidak ada lagi. Bentuk-bentuk awal kehidupan semestinya sudah punah dan berevolusi menjadi manusia. Temyata tidak.

“Hingga hari ini pun, bentuk-bentuk awal kehidupan masih ada. Bahkan dinosaurus pun masih ada. Bentuknya saja berubah — cecak! Ya, cecak adalah evolusi dari dinosaurus, yang merasa terdesak oleh manusia, dan ‘tumbuh menjadi kecil’ tinggal di dinding, untuk menyelamatkan dirinya dari serangan manusia.

“Jadi, dinosaurus mengalami evolusi dengan menjadi sekian ratus ribu kali lebih kecil. Ini pula menjelaskan berbagai macam virus, kuman, dan sebagainya. Mereka pun, persis seperti dinosaurus, adalah perkembangan — hasil evolusi — dari binatang-binatang yang telah kita bunuh dan gusur!

“PARA RAKSASA ADALAH ‘THE MISSING LINK’ kehidupan antara dinosaurus dan cecak. Namun, di antaranya ada pula raksasa-raksasa yang rnengambil jalur evolusi yang beda, sesuai dengan kemungkinan yang dimilikinya.

“Ya, kemungkinan……

“Kemungkinan evolusi sesuai potensi yang terekam dalam blok kehidupan. Bahasa kerennya “DNA”. Hampir 99% DNA kita sama — berpola, bercorak yang sama. Kurang dari 1% yang unik, sehingga Anda menjadi Anda, dan saya menjadi saya.

“Pun demikian, lebih dari 99% dinosaurus mengambil kemungkinan yang paling gampang — menjadi cecak. Kurang dari 1% saja yang berani mengambil jalur yang tidak populer — rnenjadi manusia — dengan resiko bahwa sifat-sifat raksasanya masih terbawa juga.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

“Siapakah di antara kita yang bersifat raksasa? Seorang resi, yang kelahirannya diramalkan dalam Bhavisya Purana menjelaskan, ‘Mereka yang munafik’.

“KEMUNAFIKAN ADALAH SIFAT DASAR PARA RAKSASA, sifat dasar para raksasa yang menjadi manusia. Jika tidak disadari, rnaka akan berlanjut terus hingga beribu-ribu kali reinkarnasi.

“Memang sulit mengenali orang munafik. Bahkan, ketika mengenalinya pun, kita segan untuk mengungkapkarmya — karena kita sendiri adalah munafik. Watch out! Berhati-hatilah, ada raksasa di dalam diri kita!

Saat ini, jika kita melihat kemunafikan di mana-mana — kemungkinan besar kita memang berada di tengah masyarakat yang awalnya adalah raksasa.

“CIRI LAIN DARI PARA RAKSASA BERWUJUD MANUSIA ADALAH…… Ungratefulness. Tidak pernah bersyukur, berterirna kasih kepada orang yang membantunya, yang berbuat baik terhadapnya. Ketika seluruh bangsa, masyarakat, dan para pemimpin bangsa melakukan hal itu — maka ketahuilah bahwa kita tinggal di antara raksasa, dan kita pun sama seperti mereka, kecuali kita menyadari hal tersebut, dan cepat-cepat menarik diri!

“Saya sedang membaca tulisan seorang peneliti, Iskandar P. Nugraha tentang kontribusi perkumpulan Teosofi terhadap perjuangan kita untuk meraih kemerdekaan. Kontribusi-kontribusi yang menurut saya sangat signifikan. Misalnya, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu bangsa yang awalnya dicetuskan oleh Presiden Teosofi untuk Hindia waktu itu, Labberton. Ia memang orang Eropa, Bule, tapi berjiwa Hindia, Nusantara. Persisnya pada tanggal 26 Mei 1918.

“SIAPA YANG MENGENANG NAMANYA? Adakah satu pun upaya untuk mengabadikannya? Di antara sekian banyak putra bangsa Indonesia, hanyalah seorang Iskandar Nugraha yang merasa perlu meneliti dan mengungkapkan fakta ini. Salut kepada beliau. Di antara kita-kita yang masih raksasa atau sudah menjadi cecak — dialah seorang manusia!

“Atau peran Iuar biasa dari seorang cendekiawan dari seberang, Pandit Narendra Shastri dalam hal kebangkitan Hindu Dharma di Bali — adakah upaya untuk mengenangnya? Belum.

“Demikian pula dengan peran Prof. Dr. Raghu Vira yang dengan susah payah mengumpulkan 7 lontar yang 6 di antaranya memuat ayat-ayat dalam bahasa Sanskrit yang telah dialihaksarakan ke dalam bahasa Bali; dan barangkali merupakan keseluruhan lontar berbahasa Sanskrit yang masih relatif utuh. Kemudian mengeditnya sehingga sekarang layak dibaca dan dapat dipahami. Kita juga melupakan jasanya. Mind you, Iontar-lontar ini, sesuai dengan hasil penelitian yang Beliau lakukan bersama timnya sekitar tahun 1950an, adalah karya para resi, para pujangga asli Dvipantara, Nusantara, Indonesia (penulis sudah menerjemahkan ulang maha karya para resi tersebut, dan akan diterbitkan dalam waktu dekat – Ed)

“Siapa yang mengenang mereka? Kita malah senang dan dengan sengaja melupakan peran besar mereka, mengaburkan fakta-fakta sej arah untuk membuktikan seolah kita sajalah yang berjasa. Demi nasionalisme sempit — yang jelas tidaklah sarna dengan,

“NASIONALISME SOEKARNO yang beliau katakan adalah dalam kerangka besar intemasionalisme dan kemanusiaan. Kita selalu berusaha untuk mencabut akar kita sendiri, melupakan budaya asal kita sendiri. Inteligensia macam apakah ini? Tanpa akar budaya — seperti yang sedang terjadi sekarang ini — kita menjadi bangsa sontoloyo, seperti yang pernah diramalkan juga oleh Bung Karno.

“Bangsa tanpa akar tidak akan pernah bisa mempertahankan kedaulatannya, bahkan kemerdekaannya. Ia akan menjadi budak bangsa-bangsa lain — ras-ras yang lebih superior. Demikian, evolusinya pun terhenti.

“Evolusi adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, khususnya….

“EVOLUSI BATIN, JIWA. Setelah tibanya malam Brahma — seekor dinosaurus bisa berevolusi, mengambil jalur yang tidak populer, menjadi raksasa, kemudian manusia – tapi, manusia seperti apa? Manusia bersifat raksasa atau dinosaurus? Manusia cecak?

“Jika tidak, maka kita mesti mengembangkan terus nilai-nilai kemanusiaan, mengasahnya terus-menerus. Syukur-syukur di tengah siang hari Brahma kita sudah keluar dari Lingkaran Kelahiran dan Kematian. Tapi, jika tidak — upaya kita sepanjang hari Brahma akan menjadi modal awal kita pada pagi hari berikutnya — kita akan lahir sebagai manusia yang manusiawi, bukan hewani!

“KELAHIRAN KITA DI HARI BRAHMA YANG SUDAH BERLALU telah mengantar kita pada hari ini, termasuk kehidupan ini. Dan, apa yang akan terjadi di hari Brahma besok, sangat bergantung pada perbuatan dan sikap serta sifat kita sekarang, saat ini. Jika kita masih bersifat raksasa, maka kita lahir kembali dengan sifat yang sama. Jika kita menyadari adanya kemungkinan lain, maka Iahirlah kita dengan segala apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kernungkinan tersebut. Lahir di keluarga, di negara, di tengah masyarakat yang menunjang evolusi kita.

“Jika pilihan kita adalah ‘Ah capek —jadi manusia segala. Jadi cecak saja!’ Maka, itulah yang terjadi. Untuk menjadi cecak sungguh sangat mudah. Tidak perlu melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi munafik, tidak berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik. Malah kalau bisa mencelakakan mereka – maka, bim-salabim — jadilah cecak!

“SEKARANG, KITA TIDAK INGAT LAGI sudah pernah jadi cecak berapa kali; jadi monyet berapa kali; jadi kambing berapa kali — dan, sebagainya. Kita tidak mengingat pengalaman-pengalaman itu karena pengalaman sebagai manusia saat ini, lebih dahsyat.

“Coba lihat ke belakang….

“Dalam hidup ini pun, adalah pengalaman-pengalaman dahsyat saja yang kita ingat betul. Tapi, ketika menjadi cecak atau cacing kita mengingat setiap hari yang pernah kita lewati sebagai manusia. Kita akan mengenang masa lalu dengan penuh penyesalan. Inilah kodrat seekor cecak, untuk menderita sepanjang hidupnya. Mau? Tidak? Berubahlah!

“Setiap kali melihat cecak, sadarilah adanya kemungkinan bila ia pernah menjadi manusia yang bersifat raksasa, tidak mengolah dirinya, dan kembali menjadi cecak. Jangan meniru mereka.

“Mau tahu warga bangsa mana yang masih banyak mewarisi sifat-sifat raksasa? Silakan memperhatikaln jumlah cecak di dinding-dinding rumah mereka, di negeri mereka……” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

sdok56elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s