Renungan Kejawaan: Belum Kenyang Tanpa Nasi? Jarang Marah Doyan Dendam? Sebatas Itukah?

buku Javanese Wisdom besar

Cover Buku Javanese Wisdom

“Angel temen ing jaman puniki, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong jaya ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak, den arani luput, nanging ta aesenegan, nora duwe wor kekarepaneki, pancene parijangga.

“Sungguh sangat sulit zaman sekarang, siapa yang layak menjadi panutan, banyak orang yang hebat ilmunya, banyak pula penjelasan yang mereka berikan; namun tak seorang pun taat pada mereka. mereka yang berbuat baik malah disalahkan, sementara mereka yang bersenang-senang, dan tak keruan maksudnya apa, malah disebut orang hebat. Serat Wulangreh, Pakubuwana IV (1768-1820).. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sak Iki Jamane…….

Banyak yang mengeluh demikian. Dan, keluhan ini bukan cerita baru. Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1768 – 1820) mengeluhkan hal yang sama. Zaman sekarang, zaman edan. Orang sekarang, orang edan. Hampir seratus lima puluh tahun setelah Sri Susuhunan, Koes Plus pun mengeluhkan hal yang sama lewat lagu mereka:

“Muda-mudi jaman sekarang, Pergaulan bebas nian, Tiada lagi orang yang melarang, Tapi sayang banyak salah jalan.”

 

Sak Iki Jamane Wong Jowo, Ilang Jawane

“Orang ]awa, sekarang,” menurut peribahasa ini, “sudah kehilangan kejawaannya.” Sudah hilang, sedang hilang, atau kelak akan hilang, sama saja. Entah yang dimaksud adalah ramalan tentang masa depan atau berita tentang masa kini, tidak menjadi soal. Persoalannya adalah: Apakah benar begitu? Apakah orang Jawa bisa kehilangan kejawaannya? Dan, persoalan kedua yang tidak kalah panting adalah: Apa kejawaan orang Jawa itu? Lewat tulisan-tulisan yang sebagian di antaranya pernah saya tulis untuk berbagai media cetak, harian rnaupun bulanan, saya berusaha menjawab kedua pertanyaan tersebut.

 

Pertama: Apakah Orang Jawa Bisa Kehilangan Kejawaannya?

Pertanyaan macam ini bisa dikaitkan dengan suku, etnis, atau bangsa mana saja. Apakah orang Sunda bisa kehilangan kesundaannya, orang Minang bisa kehilangan keminangannya, orang Cina bisa kehilangan kecinaannya, orang India bisa kehilangan keindiaannya? Atau, barangkali yang lebih generik lagi, apakah manusia bisa hilang kemanusiaanya?

Keterlaluan. Apa yang terjadi jika manusia kehilangan kemanusiaannya? Apakah itu bisa terjadi? Tergantung. Tergantung pada apa? Tergantung pada definisi kita tentang kemanusiaan, dan itu akan mengantar kita pada persoalan kedua. Tapi hal itu juga tergantung pada siapa yang ditanya dan siapa yang menjawabnya. Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang kemanusiaan. Karena itu, jika kekurangajaran saya masih bisa masuk dalam kriteria kemanusiaan sesuai dengan definisi Anda, maka bagi Anda saya tetap manusia. Atau, sebaliknya.

Kembali pada pertanyaan kita: Apakah orang Jawa bisa kehilangan kejawaannya? Bagaimana kita mengartikan kejawaan: Apakah sebatas iket, udeng, kain, kebaya, jarik, dan sebaagainya? Jika ya, memang betul. Sudah banyak orang Jawa tidak memakainya lagi atau memakainya pada hari-hari tertentu saja, misalnya saat perkawinan dan sebagainya. Nah, orang Jawa seperti itu mesti disebut apa?

 

Jawa Musiman atau Jawa Seremonial?

Jangan marah, jangan tersinggung, saya juga orang Jawa, jadi kritik ini ditujukan untuk saya. Jawa seremonial atau jawa musiman ini banyak kita jumpai pada event-event penting. Lagi-lagi, apakah sebatas itu saja kita mengatikan kejawaan seorang Jawa? Apakah sebatas busananya saja? Atau sebatas makanannya saja? Seorang yang ketika di New York masih mencari nasi liwet, maka dia Jawa; ketika di Spanyol masih mencari sambel, maka dia Jawa. Sebatas jarik dan sambelkah kejawaan kita?

 

Kau Tahu Dia Orang Indonesia, Jika……

tidak bisa hidup tanpa nasi; dan makan paginya pun nasi goreng, bukan roti

Kau Tahu Kau Berada di Indonesia, Jika…..

Kentucky menyajikan nasi; dan DVD bajakan dijual bebas di mall.

Kau Tahu Kau Orang Indonesia, Jika……

Jarang marah, tapi doyan dendam, ngambek, dan ngamuk. Dan, mengambil keputusan karena gengsi.

Daftarnya panjang, dan saya memilih beberapa saja yang mernbuat saya “kurang” tersinggung. Yang lain jauh lebih kurang ajar. Ya sudah. Lucunya, dalarn daftar panjang itu….

 

Jarik dan Udeng Malah Tidak Disebut

Lucu, aneh, tapi demikianlah kenyataannya. Teman-teman saya, mantan setanahair dan sebangsa (sekarang sudah menjadi warganegara sono) malah menjadi lebih bule daripada bule. Orang Amerika makan pizza pakai tangan, sementara teman saya butuh pisau dan garpu.

Bule asli tidak selalu memikirkan merek, sementara orang kita sangat aware soal merek: harus Versace, Vertu, Armani dan entah apa lagi. Tapi, kalau diajak bicara soal rokok dan perubahan iklim: “Ah, itu bohong, kakekku meninggal di usia 97 tahun, dia merokok sepanjang hidup… ndak apa-apa tuh. Perubahan iklim? Lelucon itu. Dari dulu musim berubah terus, so what?”

Saya bingung scndiri. Apa yang hilang? Tunggu dulu, adakah sesuatu yang hilang? Jangan-jangan kita hanya menjadi korban prasangka, praduga, dan promosi yang salah, seolah-olah kita sudah kehilangan kejawaan kita. Teman saya, seorang perokok berat, malah mengaitkan kebiasaan rnerokok dengan kejawaan dirinya, “Tiap malam jumat kami rnenghaturkan sesajen untuk ‘penunggu’ di rumah dengan menyediakan rokok. Itu sudah adat Jawa. Kasihan kalau penunggu setia yang sudah berbaik hati tidak disuguhi rokok.” Iadi, perkara rokok-rnerokok itu adalah kejawaan dirinya. Luar biasa! Tapi, sudahlah, kita tidak perlu berantem.

 

Kejawaanmu Bagimu, dan Kejawaanku Bagiku

Bagi saya: Karena orangtua saya atau kakek saya merokok, tidak berarti merokok itu baik atau bisa dibenarkan. Sejak dulu leluhur saya selalu buang air dcngan cara jongkok, apakah saya rnesti demikian juga? Apakah kemudian kloset jongkok itu menjadi jawani, sedangkan kloset duduk menjadi non-jawani atau buleni? Kloset duduk dan kloset jongkok itu tidak menentukan kejawaan saya. Kejawaan saya juga tidak sebatas pada kain, kebaya, jarik, udeng, iket dan sebagainya.

Bagi saya, kejawaan adalah urusan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Dan nilai-nilai hidup itu tidak semuanya baik dan tepat.dulu mungkin tepat, sehingga dianggap baik. namun sekarang sudah tidak tepat lagi, sehingga kurang atau bahkan tidak baik. Kejawaan saya adalah sesuatu yang hidup, bukan tradisi yang mati, setengah mati, atau sekarat.

 

Kejawaan saya adalah nilai-nilai luhur……

Yang senantiasa berkembang, sehingga relevan dalam setiap zaman dan tidak pernah usang. Kejawaan saya adalah sesuatu yang dapat didefinisikan ulang setiap saat sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Kejawaan saya bukan buku yang tertutup. Kejawaan saya adalah pola dan gaya hidup yang selaras dengan alam dan tidak takut dengan perubahan. Kejawaan saya adalah buku yang terbuka.  Kejawaan saya membuat saya berani menerima perubahan, merangkul hal-hal baru yang tepat dan memajukan, serta meninggalkan segala sesuatu yang lama dan usang.

Di atas segalanya, nilai-nilai yang terdapat dalam kejawaan saya sesungguhnya adalah nilai-nilai universal yang juga ada dalam kitab-kitab suci, karya-karya sastra, dan tradisi kuno maupun modern di seantero jagad. Kejawaan saya tidak angkuh. Kejawaan sayaa menerima kebijakan, petuah-petuah bijak yang berasal dari mana pun juga.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Kejawaan: Belum Kenyang Tanpa Nasi? Jarang Marah Doyan Dendam? Sebatas Itukah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s