Renungan Diri: Mengejar Kursi Duniawi atau Kursi Surgawi? Egois? Sama-Sama Gelisah?

buku ah hridaya sutra

Cover Buku Ah Hridaya Sutra

“Iha Saariputra roopam shoonyataa, shoonyataiva roopam, Roopaan na prathak shoonyataa, shoonyatayaa na prathag roopam, Yad roopam saa shoonyataa yaa shoonyataa tad roopam; Evam eva vedanaa, sangyaa, samskaar, vigyaanam.”

“Wahai Sariputra, sesungguhnya Keberadaan itu tidak ada, dan Kasunyatan itu ada; Kasunyatan tidak berbeda dari Keberadaan, dan Keberadaan tidak berbeda dari Kasunyatan; Keberadaan imlah Kasunyatan, Kasunyatan itulah Keberadaan; begitu pula dengan perasaan, pandangan, pikiran dan pengetahuan.” Ayat 2 Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Seorang kawan mengirimkan sebuah cerita kepada saya:

Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung. “Untuk apa?”- tanya sang ayah.

“Untuk kado, mau kasih hadiah.” — jawab si kecil.

Jangan dibuang-buang ya.” — pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Pa, Pa — Ada hadiah untuk Papa.”

Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.”

Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun Pa – sudah siang.”

“Ah, kamu gimana sih — pagi-pagi sudah bangunin Papa.” Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya — “Hadiah apa nih?”

“Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.”

Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata, di dalamnya hanya sebuah boks kosong. Tidak berisi apa pun juga. “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosang Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?”

Si kecil menjawab, “Nggak Pa, nggak kosong.Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuuk Papa.”

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya, “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong — diisi lagi ya!”

Boks kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi?

Lalu, kendati boks itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya boks kosong.

Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain. Kesimpulannya apa? Kosong dan penuh — dua-duanya merupakan produk “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup — demikianlah kehidupan anda.

Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberi makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

Pada umumnya, kita semua terbagi dalam dua kelompok bcsar. Kelompok mereka yang memberi arti dan kelompok mereka yang tidak memberi arti. Lucunya, kedua kelompok ini masih saja gelisah, masih saja cemas, masih saja khawatir.

Yang memberi arti gelisah, karena arti yang ia berikan bermuatan keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum terpenuhi.

Yang tidak memberi arti juga gelisah, karena hidupnya terasa hambar – tawar. Tidak berbumbu sama sekali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Kemudian, biasanya kita hanya berpindahan kelompok. Kadang di kutub sana, kadang di kutub sini. Ada kalanya kita memberikan arti yang begitu besar kepada suatu pengalaman hidup, sehingga bidang-bidang kehidupan yang lain terabaikan. Setiap partai politik ingin berkuasa. Tidak ada yang rela berperan sebagai oposisi. Seolah-olah, kekuasaan adalah satu-satunya arti kchidupan. Seolah-olah, tanpa kekuasaan hidup akan kehilangan makna.

Seorang rohaniwan akan menertawakan para politisi, “Apa gunanya kalian berebutan kursi? akhirnya toh tidak ada yang kebawa. Semuanya juga ditinggal.” Bagi dia, permainan para politisi tidak berarti sama sekali. Semuanya kosong. Tidak bermakna. Tetapi dia lupa bahwa dirinya tidak luput dari permainan yang sama. Bentuknya saja yang berbeda sedikit. Yang sedang dia kejar bukan kursi DPR atau MPR. Yang sedang dia kejar adalah tempat di surga. Apa bedanya? Yang pertama mengejar kursi duniawi. Yang kedua mcngejar kursi surgawi. Dan kursi adalah kursi, tanpa kecuali dua-duanya sedang mengejar kedudukan. Dua-duanya masih mementingkan diri, masih egois. Dan masih gelisah, karena kejar-mengejar selalu menggelisahkan.

Ada juga yang membagi waktunya antara apa yang dianggapnya keduniawian dan keilahian. Uang dikejar, Tuhan pun dikejar. Lalu, ia berpikir bahwa dirinya sudah seimbang. Ia sudah berhasil menjaga keseimbangan antara lahiriah dan batiniah. Tidak bisa. Karena untuk memasuki lapisan batiniah, lapisan lahiriah harus terlampaui. Dan yang bisa dikejar hanyalah lapisan lahiriah. Lapisan batiniah tidak bisa dikejar.

“Masih mengejar” kerajaan Allah berarti anda belum bisa melihat kerajaan-Nya di mana-mana. Anda rnasih belum meyakini kehadiran-Nya di mana-mana. Jelas, anda masih berada pada Iapisan lahiriah. Anda belum memasuki lapisan batiniah.

Yang sudah bisa merasakan kehadiran-Nya di mana-mana, yang sudah bisa melihat kerajaan-Nya di mana-mana, akan berhenti mencari, akan berhenti mengejar. Dan jika saya mengatakan bahwa ia “berhenti” mengejar, yang saya maksudkan persis demikian: Ia “berhenti” mengejar.

Bukan hanya Allah dan kerajaan-Nya yang tidak ia kejar lagi — apa pun juga tidak dikejarnya lagi. Tidak ada yang perlu dikejar lagi, karena apa yang sedang la cari, ternyata ada di mana-mana. Demikian, ia memasuki lapisan batiniah.

Nah, mereka yang sudah berhenti mencari ini berada dalam kelompok ketiga. Kelompok para Avalokita, para Buddha, para Mesias, para Nabi, para Avatar. Kelompok yang “luar biasa”, tidak umum. Seorang Avalokita sudah tidak perlu berpindahan kelompok lagi. Apa yang ia anggap tidak ada dalam dirinya ternyata ada. Apa yang ia anggap ada ternyata tidak ada. Yang ada juga tidak ada, yang tidak ada juga ada.

Sutra ini menjelaskan keadaan kelompok ketiga:

“Wahai Sariputra, sesungguhnya Keberadaan itu tidak ada, dan Kasunyatan itu ada; Kasunyatan tidak berbeda dari Keberadaan, dan Keberadaan tidak berbeda dari Kasunyatan; Keberadaan imlah Kasunyatan, Kasunyatan itulah Keberadaan; begitu pula dengan perasaan, pandangan, pikiran dan pengetahuan.”

Ia yang menganggap “cinta” sebagai rasa tertinggi akan melakukan apa saja demi cinta. Orang lain akan menertawakan dia, “Kamu gila, cinta tidak bisa mengenyangkan perutmu. Kalau lapar, masih perlu nasi juga. Dan untuk itu, kamu membutuhkan uang. Itulah yang tertinggi — uang. Tanpa uang, mau makan apa — batu?” Jangankan orang lain yang sedang menertawakan, anda sendiri pun bisa berubah. Orang yang anda cintai hari ini, besok bisa anda benci. Orang yang anda benci hari ini, besok bisa anda cintai. Hari ini anda tidak memiliki perasaan apa pun terhadap seseorang. Besok, orang yang sama menjadi sangat penting bagi anda.

Kemudian cara kita memandang sesuatu bisa berubah-ubah. Ketika anda masih pacaran, tidak ada yang lebih baik daripada pasangan anda. Demikianlah persepsi anda, pandangan anda saat itu. Setelah menikah, setelah hidup bersama selama beberapa tahun, pandangan anda mengalami perubahan total. Orang yang tadinya begitu penting, dan begitu baik, tiba-tiba berubah menjadi monster. Cinta berubah menjadi benci. Tadinya ngebet mau menikahi dia, sekarang ngebet mau menceraikan dia.

Dan jika pandangan serta rasa pun bisa berubah-ubah, apalagi pikiran dan kesadaran rendah hasil pengetahuan. Kata orang ignorance is bliss — ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Ya, dalam hal ini memang demikian. Ada yang mengritik anda, anda tidak tahu, dan sikap anda terhadap si pengritik masih biasa-biasa saja. Tetapi bcgitu mengetahuinya, sikap anda langsung berubah. Kawan bisa menjadi lawan. Pengetahuan memang mempengaruhi sikap anda, pikiran anda, kesadaran rendah anda.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s