Renungan Diri: Revolusi Diri, Banyak Jalan Satu Tujuan, Semuanya menuju Tuhan

buku iching-500x500

Cover Buku I Ching

Iching ayat 49 KO Revolusi

“Jika berbagai perubahan kecil tak membantu, orang bijak akan siap melakukan perubahan besar – revolusi!

Interpretasi: “Ada kalanya, revolusi tidak dapat dihindari. Demi kebaikan masyarakat luas, apabila harus melakukan revolusi, seorang bijak akan selalu siap untuk melakukannya. Jadilah seorang bijak. Dan kau akan selalu jaya, selalu berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mereka yang selalu mengaitkan revolusi dengan pertumpahan darah tidak memahami makna revolusi. Revolusi berarti “reformasi yang dilakukan secara drastis”. Ibarat kendaraan bermotor – tidak hanya “turun mesin”, tetapi “body”-nya juga diperbaiki, dicat kembali. Suku cadang yang lain pun ikut diganti. “Penyegaran kembali”, “peremajaan” – itulah tujuan revolusi.

Dan revolusi harus dimulai dari diri sendiri. Cara berpikir kita harus diremajakan kembali. Sekarang ini, cara pikir kita sudah kolot sekali.

Seorang wanita yang memperoleh banyak manfaat dari latihan-latihan di Ashram, ingin pula mengajak ibunya. Sang ibu pun menyadari perbedaan dalam diri anaknya. Tetapi, begitu membaca salah satu buku saya, reaksinya langsung berubah. “Tidak jelas penulis buku ini agamanya apa? Tuhannya yang mana?” Dan ia tidak jadi ke Ashram.

Cara berpikir demikian  sangat kolot. Ia sudah tidak bisa membedakan antara agama dan Tuhan, antara jalan dan tujuan. Oleh karena itu, di mata dia Tuhan menjadi banyak. “Tuhan” dia berbeda dengan Tuhan orang lain. Nah, pandangan-pandangan kolot seperti ini harus diubah langsung. Harus terjadi perubahan drastis. Kalau tidak, akan meracuni masyarakat. Bangsa yang sudah  bersatu, akan terpecah-belah lagi.

……….

Memang dibutuhkan revolusi untuk mengubah pola pikir yang sudah terlanjur dogmatis. Dibutuhkan Revolusi Kasih untuk mengubah pola pikir yang sudah terlanjur diselimuti oleh arogansi dan rasa benci.

Bangsa ini membutuhkan perubahan drastis. Bukan perubahan sistem. Tidak, perubahan sistem tidak akan membantu banyak. Yang dibutuhkan adalah perubahan dalam cara berpikir. “Revolusi Pemikiran” – itu yang dibutuhkan.

Ada yang menanyakan kepada saya, “Bapak bicara soal agama melulu. Seolah-olah, masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh bangsa kita adalah agama.”

Tidak, masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia.  Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran, maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya.  Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”.

Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja. Kebiasaan dia melihat Kebenaran dari satu sisi ini yang berbahaya.  Dan, karena kebiasaan ini ditanamkan lewat conditioning agama, solusinya harus lewat agama pula.

Seseorang yang bisa menerima setiap agama sebagai jalan sah menuju Tuhan telah terbebaskan dari conditioning. Sekarang, ia bisa menerima Kebenaran seutuhnya. Pandangan dia sudah mengalami perluasan. Telah terjadi revolusi dalam dirinya. Membebaskan diri dari conditioning agama juga tidak berarti bahwa anda melepaskan agama. Kenapa dilepaskan kalau agama itu memang merupakan jalan menuju Tuhan? Kenapa pula mempertahankannya  kalau sudah sampai tujuan? Tiba-tiba anda akan memiliki wawasan baru tentang jalan dan tujuan, tentang agama dan Tuhan. Orang-orang yang berwawasan baru inilah yang kita butuhkan.

Sekali lagi deconditioning agama hanyalah sarana. Tujuannya adalah revolusi diri. tujuannya adalah kelahiran manusia baru. Dan manusia baru yang didambakan itu tidak akan lahir dari universitas yang berkiblat pada salah satu agama. Ia tidak akan menjadi alumni salah satu universitas. Ia akan  berkiblat pada universe – pada semesta! la akan menjadi alumni universe – alumni semesta!

Biarkan terjadi revolusi dalam diri anda. Biarkan kepercayaan anda berkembang. Biarkan kesadaran anda meningkat. Demikian, anda akan selalu jaya, selalu berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s