Renungan #Gita: Berbuat Baik Belum Tentu Mulia? Sudahkah Kita Berbuat Mulia?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 7:28

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

 

“Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

“PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

“Baik-buruk adalah hasil konsensus masyarakat dan pembuat undang-undang. Di negara kita, dan banyak negara lainnya, konsumsi narkoba ditentukan sebagai perbuatan buruk, jahat. Seseorang bisa dijatuhi hukuman-mati oleh karenanya. Tetapi adiksi pada rokok tidak dijatuhi sanksi apapun. Padahal jika kita melihat statistik yang benar dan tidak diselewengkan, maka jumlah mereka yang teradiksi oleh rokok jauh lebih besar, lebih banyak dari jumlah konsumen narkoba.

“Pun jumlah orang yang mati karena gangguan pernapasan, kanker paru-paru, dan sebagainya akibat candu-rokok jauh lebih banyak dari korban narkoba atau miras. Tapi konsensus rnasyarakat dan pemerintah adalah ‘Say No to Drugs’ dan hanya ‘drugs’ saja — rokok tidak termasuk kampanye kita. Barangkali, karena kita masih membutuhkan dana cukai dari rokok. Atau, juga karena para pembuat undang-undang dan peraturan pun, umumnya masih merokok. Entah!

“APA YANG DIANGGAP BAIK DI SATU TEMPAT, bisa dianggap buruk di tempat lain. Misalnya, dalam suatu tradisi, makanan non-vegetarian dianggap lumrah untuk disajikan di tempat-tempat ibadah. Dalam tradisi lain, hal itu tak terbayangkan. Tempat ibadah diasosiasikan dengan Karuna, Compassion, Welas-asih. Dan, mengonsumsi daging dianggap tidak mengindahkan nilai tersebut.

“Jumlah pasangan yang ‘dapat’ kita miliki pun tergantung pada konsensus, adat, tradisi, dan sebagainya. Jumlah ini bisa berubah-ubah dari tradisi ke tradisi. Tidak ada ketentuan universal tentang jumlah berpasangan, maupun tentang perkawinan dan perceraian.

“Berarti, baik-buruk adalah bergantung pada adat-istiadat, nilai-nilai luhur yang berlaku, konsensus masyarakat, dan sebagainya. Sementara itu,

“MELAMPAUI BAIK—BURUK ADALAH KEMULIAAN, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: ‘Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Kita ingin memiliki beberapa istri, dan, kalau bisa, ditambah beberapa selir. Bagaimana dengan anak perempuan kita sendiri? Apakah kita setuju jika dia dimadu atau dijadikan selir? Kita ingin memaksakan kepercayaan kita terhadap orang lain, bagaimana jika orang lain memaksakan kepercayaannya terhadap kita?

“Bagi Krsna, hanyalah mereka yang berperilaku mulia, yang dapat mengenal ‘diri’nya yang sejati; hanyalah mereka yang bisa menembus kesadaran jasmani berlandaskan dualitas, dan memasuki wilayah kemanunggalan.

Banyak orang tidak bisa menerima Prinsip…..

“KETUHANAN YANG MAHA ESA”, banyak yang masih menganggap Tuhan ‘mereka’ adalah Tuhan yang benar, sejati, dan Tuhan-Tuhan ‘orang lain’ tidak benar, tidak sejati. Pemahaman ssperti ini muncul karena kita masih terjebak dalam alam dualitas. Kita bisa berbuat baik, bisa beramal-saleh, dan bisa pula berbuat jahat – tapi belum bisa berperilaku mulia.

“Perbuatan baik saja — kendati politically and socially right— tidak bisa membebaskan kita dari siklus kelahiran dan kematian. Sebab, perbuatan baik kita, dan niat di baliknya, belum tulus. Kita berbuat baik karena takut dijatuhi sanksi, dihukum jika berbuat jahat. Sementara itu, berperilaku mulia berarti….

“KITA BERBUAT MULIA KARENA MEMANG ITULAH SIFAT KITA. Kita tidak berbuat mulia karena takut sanksi dan sebagainya. Kita tidak berbuat sesuatu semata karena hal itu secara politik, norma sosial, dan sebagainya adalah baik – bisa diterima.

“Ada kalanya perbuatan mulia justru tidak bisa diterima secara politik, maupun oleh masyarakat. Salah satu contohnya adalah penyaliban Yesus atau Isa, Gandhi dan Martin Luther King, Jr. pun mesti membayar kemuliaan perilaku mereka dengan nyawa.

“Sebaliknya…

“MEREKA YANG BERPERILAKU BAIK DI MATA MASYARAKAT dipuja-puja. Sampai sekarang pun, banyak pemuja Godse yang membunuh Gandhi. Dan banyak pula orang yang menangisi eksekusi para teroris.

“Namun, bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat rnenyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun.

“Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s