Renungan Diri: Memasukkan Sungai Tuhan ke Ember Pikiran? Mengubah Tuhan menjadi Logika?

buku Sai_Anand_Gita

Cover Buku Sai Anand Gita

“Kebenaran bagaikan pohon Beringin yang lebat. Supaya bisa tumbuh didalam pot dan dapat kita pasang di atas meja kerja, pohon itu harus di-‘bonsai’. Kebenaran yang disampaikan lewat kata-kata seperti bonsai pohon Beringin. Sama-sama Beringin, tapi tidak ‘sama’. Yang satu tumbuh sesuai dengan kodratnya. Yang satu lagi, tidak. Itu sebabnya, jiwa mereka yang hanya percaya pada kata-kata tidak tumbuh sesuai dengan kodratnya.”

“Mereka mandeg (percaya pada kata-kata). Kemudian, mereka me-‘mutlak’-kan kebenaran bonsai yang kecil itu. Mereka menutup diri terhadap Beringin yang ada di alun-alun. Atau bahkan ada di depan rumah mereka sendiri.” (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Pemahaman ini pun ditemukan oleh Seorang Sufi yang bijak saat berbicara dengan seorang anak kecil…………

 

KISAH SUFI YANG BIJAK…

Sambil duduk di pinggir sungai, seorang anak Ielaki kecil menangis sejadi-jadinya. Seorang dervish, sufi pengelana, mendekati dan mencoba menghiburnya: “Nak, kamu kehilangan apa sehingga menangis seperti ini?”

Anak itu menjawab :”Aku tidak kehilangan apapun, Tuan. Aku hanya tidak dapat mengambil sesuatu yang ingin kuambil.”

Orang suci tersebut berpikir sejenak. Dia pikir anak ini kalau tidak bodoh, pastilah bijak — tergantung pada pemahamannya tentangjawaban anak itu.

“Dan, apakah yang ingin kamu ambil itu, anakku?” Tanya sang Sufi.

“Ibuku menyuruhku untuk mengisi ember ini dengan air sungai. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”

Anak tersebut menginterpretasikan perintah ibunya untuk “mengisi ember dengan air sungai” dengan memasukkan sungai ke dalam ember.”

“Aneh,” pikir orang suci tersebut, “tetapi kita memang hidup di dunia yang penuh dengan keanehan.”

Sang Sufi berusaha untuk menjelaskan:

“Anakku sayang, tidaklah mungkin memasukkan sungai ke dalam ember. Embermu itu kecil, punya keterbatasan. Tak akan bisa memuat lebih dari kapasitasnya.”

Anak tersebut, konon katanya, bukanlah anak biasa. Ia ingin memberi suatu pelajaran kepada Sufi itu……. Dilemparkannya embernya ke dalam sungai dan berkata, “Lalu, apa gunanya emberku ini?” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

……….

Aha! Sang Sufi pun tercerahkan, “Aku sedang memenuhi ember pikiranku dengan teologi. Aku sedang mencoba mengubah Tuhan menjadi logika! Betapa tidak masuk akalnya!”

Dia menyadari bahwa tidaklah mungkin untuk mengisi pikiran manusia dengan pengetahuan tentang Tuhan. Pikiran manusia ada batasnya, sedangkan Tuhan itu sendiri takterbatas. Maka, daripada mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Tuhan, adalah lebih bijak membiarkan pikiran melebur ke dalam Tuhan. Lemparkan saja ember pikiran manusia ke dalam sungai Tuhan…

Inilah yang pasti akan kita lakukan bersama sekarang — bersama-sama…

Mari kita lemparkan diri kita ke dalam sungai pikiran Sai yang mahaluas. Mari kita melebur, menyatu dengannya, menyelam ke kedalaman pikirannya dan menemukan intinya…….

Demikian intro penjelasan buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s