Renungan Diri: Mengapa Takut Mati ? Walau Usia sudah 100 th? Hanya Segelintir yang Berani?

buku samudra sufi

Cover Buku Menyelami Samudra Sufi

Setiap orang yang belum hidup sepenuhnya akan selalu takut mati. Ada kisah yang indah sekali. Seorang Raja dijemput oleh Malaikat Maut, Dewa Pencabut Nyawa. Memang ajalnya sudah tiba—ia sudah berusia 100 tahun. Namun sang raja belum siap mati. Ia masih ingin hidup, ‘Tolonglah—berikan aku perpanjangan hidup.’ Dewa Maut menyanggupi, tetapi ada syaratnya, ‘Harus ada yang menggantikan kamu. Harus ada yang mati untuk kamu. Kamu memiliki begitu banyak anak. Tanyakan kepada mereka, apakah ada seorang di antara mereka yang rela mati demi perpanjangan umurmu.’

“Dan si raja memanggil putra-putranya. Konon, ia memiliki 100 orang putra. Maklum seorang raja memiliki beberapa istri—para permaisuri dan para selir. Ada yang sudah berusia 60 tahun, bahkan 70 tahun. Di antara para putra raja, sudah ada yang menjadi kakek, bahkan sudah punya cicit. Tetapi, tak seorang pun yang sanggup menjadi pengganti. Alasan mereka sama, ‘Ayahanda, kami masih lebih muda. Kami masih belum siap mati.’

“Bayangkan, sudah berusia 60 tahun, 70 tahun, tetapi belum siap mati, masih menganggap dirinya muda. Konyol! Begitu pula sang raja, konyol juga. Sudah melewati usia 100 tahun, masih juga belum puas.

“Satu per satu, setiap pangeran menolak jadi tumbal. Salah seorang pangeran yang masih berusia belasan tahun tidak ditanya, karena dianggap masih sangat muda. Yang berusia puluhan tahun saja menolak, apalagi yang masih berusia belasan tahun.

“Rupanya, pangeran yang satu itu justru sedang menunggu giliran. Karena tidak diperhitungkan, tidak ditanya, maka ia memberanikan diri maju ke depan, ‘Ayahanda Raja, saya bersedia menjadi pengganti ayah.’

“Aneh, lucu—para putra raja terkejut. Sang raja sendiri hampir tidak mempercayai telinganya. ‘Apa yang kau katakan nak? Kau masih sangat muda. Kau masih belum melihat dunia ini. Kau masih belum menghidupi kehidupanmu.’

“Sang Pangeran menjawab, ‘Setelah mendengar kakak-kakakku tadi, saya baru sadar bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh dari hidup ini. Yang berusia 70 tahun masih juga merasa belum cukup hidup, masih saja merasa belum puas, seperti yang berusia 20 tahun, seperti Ayah sendiri yang sudah berusia 100 tahun. Kesimpulan saya ialah bahwa dunia ini, kehidupan ini, tidak dapat memuaskan kita. Betapapun panjangnya umur kita, berapa pun usia kita, dunia ini, kehidupan ini, akan tetap mengecewakan kita. Saya baru sadar, apabila Ayah yang telah hidup 100 tahun pun belum merasa cukup hidup, maka apa pula jaminan bahwa saya akan merasa cukup hidup. Dan apabila tidak ada jaminan demikian, apa bedanya mati sekarang atau mati nanti? Mati sekarang dalam keadaan belum cukup hidup. Mati nanti pun dalam keadaan ‘beIum cukup hidup’. Saya sungguh tidak keberatan menjadi pengganti Ayah.’

 

“Kembali ke Judas dan Isa. Judas mengira bahwa dengan ditangkapnya Isa, ia akan memicu timbulnya ‘rasa takut’ akan kematian dalam diri Isa. Selanjutnya Judas juga mengira bahwa rasa ‘takut mati’ itu akan ‘memberanikan’ Isa bersuara melawan penguasa yang zalim.

“Judas memang benar. Ia seorang psikolog yang hebat sekali. Ia memahami betul kejiwaan manusia. Dan ia berhasil ‘memicu’ rasa takut itu dalam diri Isa. Ia melihat Isa menyendiri, menyepi di atas bukit. Wajah Isa menampakkan kegelisahan hatinya. Isa menyadari betul, apa yang akan terjadi, apa yang dapat terjadi pada dirinya.

“Mungkin Judas sudah pernah mengajak Isa untuk bergabung dalam perjuangannya melawan Raja Herodes yang zalim. Mungkin Judas sudah mendesaknya berulang kali. Kharisma Isa memang luar biasa. Dan Judas tidak keliru mengajak Isa bergabung. Keberadaan Isa di tengah para pejuang akan menambah semangat mereka. Tctapi seorang Isa memang tidak seperti para ‘pakar’ agama kita saat ini. Setiap orang ingin jadi raja. Setiap orang ingin jadi presiden. Setiap orang ingin memasuki arena politik. Isa tidak akan memasuki arena politik.

“Isa tidak pernah bicara tentang pemerintahan dunia. Ia bicara tentang pemerintahan diri. Isa tak pernah bicara tentang kerajaan dunia. Ia bicara tentang Kerajaan Allah.

“Judas memasang perangkap. Sebenarnya ia tidak mengkhianati Isa. Ia bukan seorang pengkhianat. Ia seorang politisi, seorang politikus. Ia mempersiapkan skenario, sehingga Isa ditangkap. Bukan hanya ditangkap, tetapi disiksa. Ia begitu yakin bahwa penyiksaan fisik akan membuat Isa marah. Setelah marah, Judas berharap Isa akan berontak. Ia akan mengutuk kezaliman penguasa. Judas juga sudah mempersiapkan skenario, agar Isa bisa dibebaskan. Memang tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan pada Isa tidak kuat, bahkan sangat lemah. Ia tidak pernah menghujat penguasa. Ia tidak pernah terlibat dalam usaha-usaha yang bisa dianggap ‘makar’ oleh penguasa. Ia adalah seorang ‘Mr. Clean,’ setidaknya di mata pemerintah.

“Di mata para ahli hukum agarna, para ahli Taurat dan para cendekiawan, Isa memang ‘bersalah’. Seorang Isa akan selalu membuat mereka gerah. Isa bicara tentang kasih dan kasih tidak bisa dilembagakan. Sebaliknya, para ahli hukum agama dulu selaIu—dan rupanya nanti pun akan selaIu—mempertahankan pelembagaan agama. Judas sedang main api. Namun, ia juga sangat berhati-hati. Ia sudah mempersiapkan ‘rencana-alternatif’. Apabila penguasa didesak oleh para ahli hukum agama dan Isa dijatuhi hukuman mati, ia akan meIarikan Isa dari penjara. Di antara para penjaga rumah tahanan, banyak juga yang simpatik terhadap perjuangan Judas. Mereka pasti akan membantu.

“Memang Isa sempat gelisah. Siapa yang tidak takut mati? Seorang Isa pun tergoyah. Sebelum ditangkap, ia masih berharap bahwa Allah tidak akan mencobanya dengan percobaan yang seberat itu. Dalam hati, Judas mengucapkan syukur kepada Tuhan, kepada Allah. Ia senang. Tinggal sedikit lagi. Biar rasa takut itu berubah menjadi rasa benci dan meluap sebagai lautan amarah terhadap para penguasa.

Judas tidak pernah memperhitungkan dan tidak pernah menyangka bahwa Isa akan melampaui rasa takutnya. Tidak terpikir oleh Judas bahwa rasa takut dalam diri seorang Isa tidak akan berubah menjadi rasa benci dan meluap keluar dalam bentuk amarah. Judas keliru.

“Isa tidak menolak salib. Ia memeluk salib. Ia menerima kematian, tidak menolaknya. Kenapa seorang Isa dapat menerima kematian dengan begitu mudah? Karena dia sudah ‘cukup’ hidup. Ia sudah tidak memiliki obsesi apa pun. la sudah mengalami kehidupan sepenuhnya. Bagi seorang Isa, kematian bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi merupakan fulfillment of life, mahkota kehidupan. Buah yang sudah matang, memisahkan dirinya dari tangkai yang menanggung bebannya selama ia masih belum matang. Ia yang sudah ‘dewasa’—yang jiwanya sudah matang—akan memeluk kematian. Kematian justru membuktikan kedewasaannya, kematangannya.

“Sebaliknya mereka yang belum matang, belum dewasa, akan selalu takut mati. Mereka tidak bisa menerima kematian, sebagaimana seorang Isa menerimanya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: Link: http://www.oneearthcollege.com/

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s