Renungan #Gita: Ilusi Sesaat-Sulap “David Copperfield” dan Ilusi Dunia-“Maya” Sri Krishna

buku bhagavad david copperfield krishna

Ilustrasi David Copperfiled dan Sri Krishna

Bhagavad Gita 7:19

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Bhagavad Gita 7:19

 

“Para Bijak – sebijak apa pun mereka – masih tetap berada dalam siklus kelahiran dan kematian. Mereka belum bebas. Banyak sekali pemikir hebat dan para filsuf spiritual – bukan sekadar berfilsafat memamerkan pengetahuan – semuanya masih terperangkap dalam dan oleh alam-benda. Semuanya masih belum dapat melihat apa yang sesungguhnya ada di balik tirai ilusif maya yang membingungkan.

“Maya – Kekuatan yang bersifat ilusif memberi kesan ‘ada’ padahal ‘tidak ada’. Maya memang diciptakan untuk memfasilitasi pertunjukan-Nya di atas panggung dunia ini. Seperti halnya para penyelenggara pertunjukan modern menggunakan sound system, lighing, dan berbagai peralatan mutakhir lainnya untuk memeriahkan pertunjukan – pun demikian Tuhan menggunakan maya untuk menciptakan berbagai ilusi!

“Bayangkan kejadian ini – seorang penyelenggara atau stage director didatangi seorang sahabat lama. Ia ikut menyaksikan pertunjukan, yang dihebohkan sebagai sulap terbesar sepanjang masa. Kemudian, seusai show ia menyalami sang stradara dan mengucapkan selamat, ‘Wah, hebat sekali tadi – khususnya bagian…..’

“Sang Sutradara tersenyum, ‘Bagian sulap yang kau saksikan itu, sungguhnya bukansulap – hanya ilusi mata. Datanglah ke belakang panggung. Lihatlah peralatan yang canggih ini, semuanya digunakan untuk menciptakan ilusi sesaat, sehingga penonton terkesima, terperangah, menganggap sulap!’

 

“SANG SUTRADARA MENJELASKAN HAL ITU kepada seorang sohib, seorang yang dipercayainya, dicintainya, disayanginya. Ia tidak akan membuka semua kartunya di depan siapa saja. Tidak.

“Demikian pula dengan Krsna dalam Gita. Ia menjelaskan hal-hal yang terjadi di belakang pangung. Ia menjelaskan cara kerja alam semesta kepada Arjuna yang memang layak untuk mendengarkannya.

“Sekarang renungkan pula apa kelayakan Arjuna?

 

“SEPERTI APAKAH KELAYAKAN SEORANG ARJUNA? Apakah ia mesti mengetahui segala sesuatu tentang show bussiness, tentang sound system, tentang lighting, tentang panggung? Apakah diaa mesti menguasai semuanya itu, kemudian baru dianggap layak oleh seorang dalang, seorang sutradara? Jawabannya: Tidak.

“Jika seorang Arjuna sudah menguasai, sudah mengetahui semua itu, maka untuk apa lagi diajak ke belakang panggung dan diberitahu oleh Krsna? Krsna tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dia sudah tahu semuanya. Ternyata tidak demikian.  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Seorang Arjuna yang adalah dari keturunan para raja; berdarah biru, berpendidikan – masih saja, masih tetap, masih bisa tertipu, oleh adegan-adegan ilusif di atas panggung.

“Seorang bijak – sebijak apa pun – masih tetap bisa tertipu oleh ilusi baik-buruk, lahir-mati, dan sebagainya.

 

“UNTUK KELUAR DARI ILUSI ITU. Untuk mengetahui ihwal di balik panggung, kelayakan Arjuna hanyalah satu. Yaitu, “kedekatan”nya dengan Krsna. Hubungannya dengan Krsna. Inilah kelayakan Arjuna.

“Dekatilah Sang Sutradara – dan Ia akan membuka, mengungkapkan segala rahasia, sebagaimana yang terjadi antara Krsna dan Arjuna.

“Dengan memuja-muji pertunjukan-Nya, dengan mengagumi ilusi-Nya – kita menjadi penonton yang baik. Namun hanyalah dengan cara bersahabat dengan-Nya – maka, Ia akan mengajak kita ke ruang rahasia-Nya.

“Bersahabatlah dengan-Nya! Dan, landasan bagi persahabatan adalah cinta-kasih, cinta-kasih yang tulus. Inilah kelayakan Arjuna yang mana mesti menjadi kelayakan diri kita juga. Lima huruf dalam kata “Cinta” atau “Kasih” mengandung semua huruf dari semua kata.

“Ketika kita mengagumi seseorang, kita bisa berkata-kata, kita bisa berpuisi dan bersyair, kita bisa mencintai seseorang, maka tiga kata “I love you” sudah cukup. Tidak perlu ber-“kata-kata” banyak cukup tiga kata.

“Jadi bukan sekadar menjadi bijak, tapi juga mencintai – inilah rahasia kedekataan Arjuna dengan Krsna, rahasiaa kedekatan seorang siswa dengan Sadguru, Sang Pemandu Rohani!

 

“KOMBINASI KETULUSAN DAN KEBIJAKSANAAN melahirkan seorang Arjuna. Memang sulit menemukan orang seperti itu. Sama sulitnya seperti menemukan seorang sahabat lama di antara para kerumunan para penonton, yang dapat diajak untuk melihat apa yang terjadi di balik panggung.

“Lagi-lagi, soalnya bukan kelayakan intelektual, tapi kelayakan cinta kasih, kedekatan rohani! Kemudian dari pertemuan antara kebijaksanaan dan ketulusan hati – lahirlah semangat manembah yang sesungguhnya. Saat itu seorang siswa, murid, Arjuna melihat kehadiran-Nya di mana-mana. Ketahuilah bahwa seorang yang telah mencapai keadaan itu sudah selesai dengan dunia benda ini. Ia berada di ujung siklus kelahiran dan kematiannya.

“Ia akan menjalankan sisa masa kehidupannya – selama batere kehidupannya masih tersisa – sebagai Jivana-Mukta, seorang yang telah mencapai moksa – kebebasan mutlak selagi masih hidup. Ia hidup di tengah kita sebagaai mercusuar, untuk menunjukkan jalan kepada setiap orang yang masih tersesat di tengah lautan samsara, lautan kehidupan.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s